Bromo Masih Dipantau, Petugas Pastikan Bara Tak Menyala Lagi

oleh
Petugas gabungan melakukan pendinginan dan penyisiran di area bekas kebakaran kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran.(Sumber: kehutanan.go.id)
13.4K pembaca

Kementerian Kehutanan masih melakukan pendinginan dan penyisiran area bekas kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada bara atau titik panas yang kembali memicu kebakaran.

Kebakaran di kawasan tersebut telah berhasil dikendalikan setelah berlangsung sejak Senin (3/8/2026). Namun, proses penanganan belum sepenuhnya berakhir karena petugas masih harus memastikan area yang terbakar benar-benar aman.

Hampir dua pekan setelah operasi penanganan dimulai, Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Balai Dalkarhut Jabalnusra) bersama Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS), TNI, Polri, BPBD Jawa Timur, relawan, dan masyarakat terus melakukan pemantauan serta pembasahan.

Tahap tersebut dikenal sebagai mopping up, yakni kegiatan mendinginkan dan menyisir area bekas terbakar untuk menemukan serta memadamkan bara yang masih tersimpan di dalam tanah, serasah, atau vegetasi.

Bara Masih Berpotensi Memicu Kebakaran

Petugas memberikan perhatian khusus pada lokasi yang masih memiliki potensi panas. Kondisi ini perlu diwaspadai karena kebakaran sebelumnya melanda sejumlah jenis vegetasi, seperti savana, cemara gunung, pakis, semak belukar, hingga lapisan serasah yang cukup tebal.

Material tersebut dapat menyimpan bara meskipun kobaran api sudah tidak terlihat. Karena itu, pendinginan terus dilakukan untuk mencegah api kembali muncul dan merambat ke kawasan lain.

Petugas juga mengantisipasi fenomena pusaran angin lokal atau dust devil. Pusaran tersebut berpotensi mengangkat material ringan dan membawa bara ke lokasi lain.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, mengatakan penanganan kebakaran Bromo menjadi pembelajaran penting dalam memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama selama musim kemarau.

“Api mungkin sudah terkendali, tetapi ancaman karhutla belum selesai. Pencegahan harus diperkuat dari tingkat tapak dan pengelola kawasan perlu terus memperkuat keterlibatan masyarakat.”

Menurut Dwi, masyarakat memiliki peran penting dalam perlindungan kawasan hutan karena berada paling dekat dengan lokasi. Selain menjadi pihak yang dapat mengetahui gangguan lebih awal, masyarakat juga menjadi kelompok yang paling terdampak ketika terjadi kebakaran.

Karena itu, upaya menjaga kawasan hutan, menurut dia, perlu dilakukan secara bersama-sama.

Petugas Tetap Siaga

Pemerintah pada 2026 terus memperkuat pengendalian karhutla untuk menghadapi musim kemarau. Upaya tersebut mencakup peningkatan kesiapan Manggala Agni, deteksi dini, patroli, serta koordinasi lintas sektor.

Direktur Pendayagunaan Sumber Daya dan Pengamanan Hutan, Suharyono, yang memantau kegiatan melalui apel siaga pengendalian kebakaran hutan, mengapresiasi personel yang telah bertugas selama hampir dua pekan.

Ia menegaskan, keberhasilan mengendalikan api bukan berarti seluruh pekerjaan telah selesai. Fase berikutnya adalah memastikan tidak ada bara yang tersisa dan berpotensi menimbulkan kebakaran baru.

“Terkendalinya api bukan akhir dari pekerjaan. Fokus sekarang memastikan seluruh area bekas terbakar benar-benar aman dan tidak ada bara yang kembali menyala.”

Sementara itu, Kepala Balai Dalkarhut Jabalnusra, Bambang Setyo Antoko, menyebut penanganan kebakaran Bromo menunjukkan pentingnya kolaborasi berbagai pihak.

BBTNBTS, BPBD Jawa Timur, relawan, dan masyarakat turut membantu penyediaan air, logistik, akses lapangan, hingga informasi yang dibutuhkan petugas selama operasi.

Menurut Bambang, dukungan tersebut membantu Manggala Agni menghadapi medan kebakaran yang cukup berat.

Pengalaman Bromo Jadi Evaluasi Pencegahan Karhutla

Kementerian Kehutanan menempatkan pengendalian karhutla sebagai salah satu upaya penting untuk melindungi kawasan hutan dan keselamatan masyarakat.

Penanganan kebakaran di Bromo menjadi bagian dari evaluasi untuk memperkuat pencegahan karhutla selama musim kemarau. Deteksi dini, respons cepat, kesiapan personel dan peralatan, serta kolaborasi dengan masyarakat menjadi faktor penting untuk mencegah kebakaran meluas.

Kementerian Kehutanan juga terus memperkuat kesiapan Manggala Agni agar mampu merespons potensi kebakaran secara cepat sebelum berkembang menjadi kerusakan ekologis yang lebih luas.

Catatan: Informasi ini dikutip dari website resmi Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap