Hotspot Karhutla Turun Jadi 344 Titik

oleh
Petugas melakukan pendinginan di kawasan hutan untuk mencegah munculnya kembali titik api akibat karhutla.(Sumber: kehutanan.go.id)
1.9K pembaca

Jumlah titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di Indonesia turun signifikan. Meski demikian, pemerintah tetap memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Rabu (23/9/2026) pukul 21.05 WIB terdeteksi 344 hotspot high confidence secara nasional.

Angka tersebut turun 588 titik dibandingkan pemantauan Selasa (22/9/2026) yang mencatat 932 hotspot.

Di enam provinsi prioritas, jumlah hotspot high confidence juga mengalami penurunan. Kalimantan Tengah tercatat 156 titik, turun dari 643 titik. Kalimantan Barat 33 titik, turun dari 50 titik, sedangkan Kalimantan Selatan turun menjadi 11 titik dari sebelumnya 68 titik.

Sementara itu, Sumatera Selatan tercatat empat titik, turun dari 17 titik. Jambi mencatat dua titik setelah sebelumnya nihil, sedangkan Riau tetap nihil.

Secara keseluruhan, hotspot high confidence di enam provinsi prioritas turun dari 778 menjadi 206 titik dalam satu hari. Kalimantan Tengah mencatat penurunan paling besar, tetapi masih menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak di antara enam provinsi tersebut.

Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Data tersebut tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran atau luas lahan yang terbakar.

Satu kejadian kebakaran juga dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi tetap perlu diverifikasi melalui groundcheck dan pemantauan langsung di lapangan.

Operasi Karhutla Diperkuat di Kalimantan Selatan

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto melanjutkan pemantauan penanganan karhutla di Kalimantan Selatan setelah sebelumnya mengawal operasi di Kalimantan Tengah.

Pada Rabu (23/9/2026), keduanya meninjau pemadaman karhutla di kawasan gambut sekitar RSJ Sambang Lihum, Kabupaten Banjar. Mereka juga mengikuti evaluasi bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, dan unsur terkait.

Evaluasi difokuskan pada penguatan operasi darat, penyamaan data lapangan, serta penempatan personel dan sumber daya di lokasi yang masih membutuhkan penanganan.

Operasi darat menjadi perhatian khusus pada kawasan gambut. Bara api dapat bertahan di bawah permukaan meski api di permukaan telah padam. Karena itu, proses pembasahan, pendinginan, dan pemantauan terus dilakukan untuk mencegah api kembali muncul.

Untuk mendukung penanganan dari udara, pemerintah mengerahkan 61 armada yang terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta 44 unit untuk water bombing.

Pengoperasian armada udara disesuaikan dengan perkembangan titik api, potensi awan, arah angin, kondisi asap, jarak pandang, dan faktor keselamatan penerbangan.

Di darat, Manggala Agni bersama BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan pihak terkait terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman, penyekatan api, pembasahan, mopping up, serta pendinginan.

Kualitas Udara Masih Perlu Diwaspadai

Penurunan hotspot belum berarti seluruh kebakaran telah padam. Kondisi udara di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan masih perlu mendapat perhatian.

Pantauan kualitas udara menunjukkan kondisi yang bervariasi, mulai dari kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah masih mengalami kondisi tidak sehat, sangat tidak sehat, bahkan berbahaya.

Pantauan BMKG Aviation pada Kamis (24/9/2026) dini hari juga menunjukkan asap masih memengaruhi jarak pandang di sejumlah wilayah. Jarak pandang di Palangka Raya dan Pontianak sekitar 1,5 kilometer, Banjarmasin sekitar 3 kilometer, Jambi dan Palembang sekitar 5 kilometer, serta Pekanbaru sekitar 6 kilometer dengan kondisi hujan ringan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa asap yang sudah terbentuk masih dapat bertahan dan berpindah mengikuti arah angin dan kondisi atmosfer. Pada lahan gambut, bara juga dapat tetap berada di bawah permukaan.

Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk memantau informasi kualitas udara dan mengikuti arahan pemerintah daerah. Jika kualitas udara memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar.

Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.

Masyarakat dan pelaku usaha juga diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Jika menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, atau satwa liar terdampak, masyarakat dapat segera melaporkannya kepada petugas.

Laporan karhutla dapat disampaikan melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan di nomor 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email posko.karhutla@kehutanan.go.id.

Sumber: kehutanan.go.id

Catatan: Informasi ini dikutip dari situs resmi Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Kamis (24/9/2026).

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap