EyRIS Hadirkan Teknologi AI untuk Skrining Dini Diabetes, Ginjal, dan Risiko Penyakit Jantung

oleh
Direktur PT Nova Prima Utama, Aznaib I Gindo, memperkenalkan EyRIS, teknologi skrining retina berbasis kecerdasan artifisial yang dikembangkan untuk membantu mendeteksi indikasi risiko penyakit sistemik, termasuk diabetes dan gangguan ginjal.
945 pembaca

Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) mulai membuka peluang baru dalam layanan kesehatan, termasuk untuk mendeteksi risiko penyakit melalui pemindaian retina. Teknologi EyRIS yang dikembangkan melalui PT Nova Prima Utama memanfaatkan analisis citra retina untuk membantu mengidentifikasi indikasi diabetes, gangguan ginjal, serta risiko penyakit kardiovaskular.

Direktur PT Nova Prima Utama, Aznaib I Gindo, menjelaskan bahwa retina memiliki jaringan pembuluh darah mikro yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan tubuh. Perubahan pada pembuluh darah tersebut dapat menjadi salah satu indikator risiko penyakit tertentu.

Menurut Aznaib, EyRIS menggunakan kecerdasan artifisial untuk menganalisis foto retina dan mengidentifikasi sejumlah perubahan, seperti perdarahan, penyempitan pembuluh darah, serta pola pembuluh darah yang tidak normal.

“Retina memberikan gambaran langsung dan noninvasif mengenai pembuluh darah kecil. AI EyRIS menganalisis foto retina untuk melihat perubahan yang dapat mengindikasikan penyakit mata atau risiko kesehatan sistemik,” ujarnya.

Teknologi tersebut menggunakan sistem SELENA+ yang dikembangkan untuk membantu proses analisis citra retina. Pengembangannya mengacu pada sejumlah penelitian ilmiah mengenai pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam bidang oftalmologi dan kesehatan digital.

Landasan Penelitian dan Validasi Klinis

Aznaib menjelaskan, salah satu penelitian yang menjadi landasan pengembangan teknologi tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal JAMA pada 2017. Penelitian itu mengevaluasi 71.896 gambar retina dari 14.880 pasien dalam dataset validasi utama.

Dalam penelitian terkait deteksi retinopati diabetik, sistem tersebut mencatat sensitivitas 90,5 persen dan spesifisitas 91,6 persen untuk mendeteksi retinopati diabetik yang memerlukan rujukan (referable diabetic retinopathy).

Sementara itu, untuk retinopati diabetik yang mengancam penglihatan (vision-threatening diabetic retinopathy), sensitivitasnya mencapai 99 persen dengan spesifisitas 91,1 persen.

Selain penelitian tersebut, Aznaib menyebut publikasi dalam jurnal The Lancet Digital Health yang melaporkan nilai area under the curve (AUC) sebesar 0,911 pada model prediksi penyakit ginjal kronis berbasis citra retina dalam dataset validasi SEED.

Ia mengingatkan bahwa hasil penelitian tersebut perlu dipahami sesuai konteks pengujian masing-masing model. Nilai AUC tidak dapat langsung diartikan sebagai tingkat akurasi produk secara keseluruhan atau dijadikan jaminan hasil untuk setiap pengguna.

“Model risiko sistemik memerlukan validasi masing-masing. Skrining retina membantu mengidentifikasi individu yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, tetapi tidak menggantikan tes darah untuk diabetes dan penyakit ginjal maupun pemeriksaan jantung yang sesuai,” jelasnya.

Berpotensi Memperluas Skrining di Daerah 3T

Salah satu peluang penerapan EyRIS adalah memperluas akses skrining kesehatan, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang masih menghadapi keterbatasan tenaga kesehatan spesialis.

Aznaib menilai teknologi skrining retina berbasis AI berpotensi diterapkan di puskesmas, toko optik, dan klinik perusahaan. Dengan pelatihan yang memadai, petugas dapat mengambil gambar retina tanpa harus selalu didampingi dokter spesialis mata di lokasi.

Hasil analisis selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan kebutuhan pemeriksaan lanjutan dan rujukan ke fasilitas kesehatan.

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam penerapan teknologi tersebut secara luas.

Pertama, ketersediaan kamera fundus berkualitas dengan harga terjangkau. Perangkat tersebut menjadi komponen penting untuk menghasilkan gambar retina yang layak dianalisis.

Kedua, infrastruktur teknologi informasi. Penggunaan sistem berbasis cloud membutuhkan koneksi internet yang stabil. Sebagai alternatif, lisensi on-premise dapat dipertimbangkan untuk fasilitas kesehatan dengan keterbatasan jaringan internet.

Ketiga, mekanisme pembiayaan dan rujukan. Penerapan melalui BPJS Kesehatan maupun program pemeriksaan kesehatan gratis memerlukan skema pendanaan, bukti efektivitas biaya, serta dukungan layanan pemeriksaan dan penanganan lanjutan.

Menurut Aznaib, keberhasilan teknologi skrining tidak hanya ditentukan oleh kemampuan sistem menganalisis gambar retina, tetapi juga oleh tersedianya akses pemeriksaan lanjutan bagi masyarakat.

“Nilai utamanya berasal dari kemampuan menghubungkan skrining dengan penanganan tepat waktu serta membuktikan hasil kesehatan yang lebih baik dengan biaya yang berkelanjutan,” katanya.

Perlindungan Data dan Peran Dokter Tetap Penting

Selain akurasi teknologi, perlindungan data pasien menjadi aspek penting dalam penerapan AI di bidang kesehatan. Pemindaian retina melibatkan informasi kesehatan yang perlu dikelola dengan memperhatikan prinsip keamanan dan privasi.

Aznaib menjelaskan, EyRIS menggunakan citra retina untuk menganalisis kondisi pembuluh darah dan risiko kesehatan sistemik, bukan untuk mengenali identitas biometrik seseorang.

Ia juga menyampaikan bahwa perusahaan menerapkan penyamaran identitas data pasien (anonymisation) serta mengacu pada ketentuan perlindungan data pribadi yang berlaku.

Menurutnya, hasil skrining harus disampaikan secara jelas agar masyarakat memahami bahwa temuan AI bukan merupakan diagnosis akhir. Pasien yang menunjukkan indikasi risiko tetap perlu menjalani pemeriksaan lanjutan sesuai rekomendasi tenaga medis.

Aznaib menegaskan bahwa teknologi AI berfungsi membantu proses penyaringan dan menentukan kebutuhan rujukan, bukan menggantikan peran dokter.

Dokter tetap memiliki tanggung jawab untuk menetapkan diagnosis dengan mempertimbangkan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan hasil tes klinis lainnya.

Pengembangan Teknologi untuk Deteksi Penyakit Lain

Ke depan, penelitian pemanfaatan AI berbasis retina juga berpotensi dikembangkan untuk mengidentifikasi risiko penyakit lain.

Aznaib menyebut beberapa bidang yang menjadi perhatian penelitian, antara lain penyakit ginjal diabetik (diabetic kidney disease), risiko stroke, serta penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.

Namun, setiap pengembangan aplikasi baru membutuhkan penelitian dan validasi klinis tersendiri sebelum dapat digunakan secara rutin dalam pelayanan kesehatan. Persetujuan regulator juga menjadi bagian penting sebelum penerapannya.

Melalui EyRIS, PT Nova Prima Utama berupaya mendorong pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam transformasi digital sektor kesehatan Indonesia.

Teknologi ini diharapkan dapat membantu memperluas akses skrining, mendukung tenaga medis dalam proses penilaian risiko, serta mendorong pemeriksaan lebih dini bagi masyarakat.

Profil PT Nova Prima Utama

PT Nova Prima Utama merupakan perusahaan penyedia solusi sistem informasi rumah sakit yang telah beroperasi lebih dari satu dekade. Layanan perusahaan mencakup implementasi rekam medis elektronik (Electronic Medical Record/EMR), integrasi sistem informasi, pengembangan teknologi AI kesehatan, serta optimalisasi proses bisnis rumah sakit.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah EyRIS, solusi skrining retina berbasis kecerdasan artifisial yang ditujukan untuk membantu mengidentifikasi indikasi penyakit melalui analisis citra retina.

Informasi lebih lanjut mengenai EyRIS dapat diakses melalui situs resmi https://eyris.io/contactus.cfm dan PT Nova Prima Utama melalui www.nova-hub.com.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap