Kampus Jadi Ruang Kerukunan, Enam Rumah Ibadah di UI Didorong Jadi Teladan

oleh
Ilustrasi kehidupan keberagaman dan kerukunan umat beragama di lingkungan perguruan tinggi. Rencana pembangunan enam rumah ibadah di Universitas Indonesia dinilai dapat menjadi bagian dari penguatan budaya toleransi dan hidup berdampingan. (Sumber: kemenag.go.id)
12.1K pembaca

Kerukunan masyarakat Indonesia tidak terbentuk secara instan. Nilai tersebut tumbuh melalui perjumpaan, dialog, sikap saling menghormati, serta kebiasaan hidup berdampingan di tengah keberagaman.

Perguruan tinggi dinilai memiliki posisi strategis dalam membangun budaya kerukunan. Selain menjadi pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, kampus merupakan ruang pembentukan karakter sekaligus tempat calon pemimpin bangsa belajar memahami perbedaan sebagai bagian dari kehidupan bersama.

Nilai tersebut sejalan dengan tujuan ajaran agama yang mengajarkan umat untuk membangun kehidupan yang damai, rukun, dan saling menghormati. Dalam Islam, nilai tersebut tercermin dalam konsep rahmatan lil-‘alamin, yakni Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Atas dasar itu, rencana pembangunan enam rumah ibadah di lingkungan Universitas Indonesia (UI) dinilai sebagai langkah positif dalam memperkuat budaya kerukunan.

Gagasan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan pembangunan sarana fisik. Lebih dari itu, keberadaan rumah ibadah di lingkungan kampus diharapkan dapat menjadi bagian dari pembangunan budaya yang memberikan ruang setara bagi sivitas akademika untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing.

Kampus pun diharapkan mampu menjadi etalase kerukunan, tempat perbedaan tidak menjadi sumber pertentangan, tetapi menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk saling memahami dan menghormati.

Rumah Ibadah sebagai Ruang Pembentukan Karakter

Rumah ibadah tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjalankan ritual keagamaan. Tempat tersebut juga dapat menjadi ruang pembentukan moral, penguatan integritas, serta penanaman nilai kemanusiaan.

Jika enam rumah ibadah berdiri berdampingan dalam satu kawasan kampus, pesan yang ingin dibangun adalah bahwa perbedaan keyakinan dapat berjalan bersama dalam suasana harmonis.

Menghormati pemeluk agama lain juga tidak berarti kehilangan identitas keagamaan. Sebaliknya, sikap saling menghormati menjadi bagian dari kematangan dalam menjalankan kehidupan beragama.

Indonesia sendiri dibangun di atas keberagaman. Para pendiri bangsa tidak menghilangkan perbedaan, tetapi menyatukannya melalui kesepakatan kebangsaan.

Semangat tersebut dinilai perlu terus dirawat oleh perguruan tinggi. Kampus diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kebijaksanaan, sikap kritis, kesantunan, serta keterbukaan terhadap dialog dan kerja sama.

Kerukunan Bukan Menyeragamkan Keyakinan

Di tengah polarisasi yang terjadi di berbagai belahan dunia, Indonesia memiliki peluang untuk menunjukkan bahwa keberagaman bukan hambatan bagi kemajuan.

Kerukunan tidak berarti menyeragamkan keyakinan. Kerukunan justru dibangun melalui keadilan, penghormatan terhadap perbedaan, dan kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai.

Perbedaan tidak harus disamakan. Sebaliknya, persamaan tidak perlu dipaksakan untuk menjadi perbedaan.

Nilai tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari budaya akademik sehingga perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembelajaran kehidupan bersama.

Investasi terbesar sebuah bangsa bukan hanya pembangunan laboratorium, perpustakaan, maupun teknologi. Sumber daya manusia yang memiliki keluasan ilmu sekaligus kelapangan hati juga menjadi modal penting dalam membangun masa depan bangsa.

Karena itu, pembangunan rumah ibadah di lingkungan kampus dapat dimaknai sebagai upaya menyediakan ruang untuk membentuk karakter dan memperkuat nilai kemanusiaan.

Jika kampus mampu menjadi etalase kerukunan, perguruan tinggi tidak hanya akan melahirkan ilmuwan yang unggul, tetapi juga pemimpin yang arif. Ilmu yang disertai karakter dan nilai kemanusiaan diharapkan mampu menjadi fondasi bagi lahirnya peradaban yang lebih baik.

Catatan: Informasi ini dikutip dari situs resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, Sabtu (22/8/2026).

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap