Ketum JAMIRA: Maulid Nabi Jadi Momentum Perkuat Akhlak di Era Digital

oleh
Ketua Umum JAMIRA RM Gusti Haes menyampaikan pesan menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Kantor DPP JAMIRA, Kayu Manis, Jakarta Timur, Selasa (25/8/2026).
14K pembaca

Ketua Umum Jaringan Media Indonesia Raya (JAMIRA) RM Gusti Haes mengajak masyarakat menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah sebagai momentum memperkuat keteladanan, kejujuran, dan tanggung jawab di tengah derasnya arus informasi digital.

Pesan tersebut disampaikan Gusti Haes menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kantor DPP JAMIRA, kawasan Kayu Manis, Jakarta Timur, Selasa (25/8/2026).

Menurut Gusti Haes, Maulid Nabi tidak semestinya hanya menjadi kegiatan seremonial untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW. Peringatan tersebut juga dapat menjadi momentum untuk merefleksikan penerapan akhlak dan keteladanan Nabi dalam kehidupan sehari-hari.

“Maulid Nabi bukan sekadar momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi momentum untuk bertanya sejauh mana kita menghadirkan keteladanan beliau dalam kehidupan bangsa hari ini,” kata Gusti Haes.

Ia menilai perkembangan teknologi dan media digital menghadirkan tantangan baru bagi masyarakat. Kecepatan penyebaran informasi tidak selalu diikuti dengan kemampuan untuk memeriksa kebenaran sebuah informasi.

Akibatnya, ruang digital rentan dipenuhi perdebatan, tuduhan, ujaran kebencian, serta informasi yang belum terverifikasi.

“Di tengah situasi seperti itu, kita membutuhkan kembali sesuatu yang menjadi inti ajaran Rasulullah SAW, yaitu akhlak,” ujarnya.

Gusti Haes mengatakan tantangan bangsa saat ini bukan hanya berkaitan dengan penguasaan teknologi dan kemampuan intelektual, tetapi juga bagaimana pengetahuan, kekuasaan, serta kebebasan berkomunikasi digunakan secara bertanggung jawab.

“Kita tidak kekurangan orang pintar. Kita membutuhkan lebih banyak orang yang berakhlak. Kita tidak kekurangan informasi, tetapi membutuhkan lebih banyak kejujuran dalam menyampaikan informasi,” katanya.

Akhlak Digital dan Tanggung Jawab Media

Gusti Haes juga mengingatkan bahwa kekuasaan merupakan amanah, sedangkan kebebasan menyampaikan pendapat harus diiringi tanggung jawab.

Menurutnya, nilai tersebut relevan dengan kehidupan pers dan media digital yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik.

Ia menilai media tidak cukup hanya mengejar kecepatan pemberitaan dan jumlah pembaca. Akurasi, keberimbangan, serta integritas jurnalistik tetap harus menjadi dasar dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.

“Di tengah derasnya disinformasi, media harus menjadi ruang yang menghadirkan fakta. Di tengah meningkatnya polarisasi, media harus menjadi ruang yang menghadirkan keseimbangan. Di tengah kegaduhan, media harus menghadirkan akal sehat,” ujarnya.

Gusti Haes mengatakan JAMIRA mendorong agar nilai-nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW dapat diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari masyarakat, pemerintahan, pendidikan, dunia usaha hingga ruang digital.

Menurutnya, perkembangan teknologi membuat etika berkomunikasi di media sosial semakin penting. Sebuah unggahan dapat menyebar dengan cepat dan memengaruhi banyak orang.

“Di era ketika satu unggahan dapat memengaruhi ribuan bahkan jutaan manusia, akhlak digital menjadi bagian dari akhlak manusia itu sendiri,” katanya.

Ajak Jaga Persaudaraan dan Persatuan

Dalam momentum Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Gusti Haes juga mengajak insan media, tokoh agama, generasi muda, dan seluruh masyarakat untuk memperkuat persaudaraan, menjaga persatuan, serta merawat kebhinnekaan.

“Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan. Indonesia membutuhkan kejujuran. Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan. Indonesia membutuhkan keadilan,” ujar Gusti Haes.

Ia menambahkan, kebebasan berbicara harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab. Begitu pula kepemimpinan harus dibangun melalui keteladanan.

“Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kebebasan berbicara. Indonesia membutuhkan tanggung jawab. Dan Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar banyaknya pemimpin. Indonesia membutuhkan keteladanan,” katanya.

JAMIRA berharap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H tidak berhenti pada perayaan, tetapi diwujudkan melalui sikap, perkataan, dan tindakan yang mencerminkan keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap