Ibadah Sejati Harus Mengubah Kehidupan

oleh
Materi Mimbar Agama Kristen edisi Minggu, 20 September 2026, bertema “Kesalehan Versus Ibadah” berdasarkan Yesaya 1:10–20, yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Yusmaliani Goalangi, M.Th. (Sumber: kemenag.go.id)
13.2K pembaca

Kesetiaan kepada Tuhan tidak cukup diwujudkan melalui rutinitas ibadah. Iman juga perlu terlihat dalam cara seseorang menjalani kehidupan sehari-hari, memperlakukan sesama, serta menjaga kejujuran dan ketaatan.

Pesan tersebut dapat direnungkan melalui kisah Nabi Yesaya tentang kehidupan bangsa Israel. Dalam Yesaya 1:10–20, Tuhan menegur umat yang tetap menjalankan berbagai aktivitas keagamaan, tetapi kehidupannya masih dipenuhi kejahatan dan ketidakadilan.

Kisah Hachiko, seekor anjing yang dikenal karena kesetiaannya menunggu tuannya di Stasiun Shibuya, menjadi gambaran sederhana tentang arti kesetiaan. Namun, kisah tersebut sekaligus mengajak umat untuk melihat kembali kesetiaan kepada Tuhan.

Pertanyaannya, apakah ibadah yang dilakukan sudah mencerminkan hubungan yang sungguh-sungguh dengan Tuhan?

Ibadah Tidak Cukup Berupa Ritual

Pada zaman Nabi Yesaya, bangsa Israel tetap menjalankan berbagai ritual keagamaan. Mereka berdoa dan mempersembahkan korban, tetapi perilaku mereka justru bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Mereka melakukan ketidakadilan dan menindas kelompok yang lemah. Kondisi tersebut menunjukkan adanya jarak antara ibadah yang dilakukan dan kehidupan sehari-hari.

Pesan ini relevan bagi kehidupan umat saat ini. Rutinitas datang ke gereja, berdoa, bernyanyi, maupun melayani tidak seharusnya berhenti sebagai aktivitas keagamaan.

Ibadah juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan keluarga, rekan kerja, masyarakat, serta orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

Periksa Motivasi dalam Beribadah

Ibadah juga perlu dilakukan dengan motivasi yang benar. Pelayanan dan persembahan seharusnya tidak menjadi sarana untuk mendapatkan pujian atau pengakuan dari manusia.

Karena itu, setiap orang perlu bertanya kepada diri sendiri: mengapa saya melayani Tuhan? Apakah karena kasih dan rasa syukur, atau karena ingin mendapatkan penghargaan?

Pertanyaan tersebut penting agar aktivitas keagamaan tidak berubah menjadi sekadar pencitraan atau rutinitas yang berpusat pada kepentingan diri sendiri.

Jangan Biarkan Ibadah Menjadi Rutinitas

Ibadah yang dilakukan terus-menerus dapat kehilangan makna apabila hati tidak lagi memiliki kerinduan kepada Tuhan.

Datang ke gereja setiap minggu, mengikuti kegiatan keagamaan, menyanyikan lagu rohani, dan berdoa merupakan bagian dari kehidupan iman. Namun, semuanya perlu disertai kesungguhan hati.

Ibadah bukan hanya kewajiban, melainkan ungkapan iman dan rasa syukur kepada Tuhan.

Ibadah Harus Terlihat dalam Kehidupan

Ibadah sejati tidak terbatas pada kegiatan di dalam gereja. Seluruh kehidupan dapat menjadi wujud pengabdian kepada Tuhan.

Bekerja dengan jujur, belajar dengan sungguh-sungguh, melayani keluarga, menghormati orang lain, menjaga kepercayaan, menggunakan waktu dengan baik, serta membantu mereka yang membutuhkan merupakan bagian dari kehidupan yang mencerminkan iman.

Dengan demikian, ukuran kehidupan beriman bukan hanya apa yang dilakukan di hadapan jemaat, tetapi juga bagaimana seseorang hidup ketika tidak ada orang lain yang melihat.

Pertobatan Membawa Pembaruan

Pesan Nabi Yesaya bukan hanya berupa teguran. Umat juga diajak meninggalkan kejahatan, belajar melakukan kebaikan, dan kembali kepada Tuhan.

Karena itu, ibadah seharusnya membawa perubahan dalam kehidupan. Setelah beribadah, seseorang diharapkan semakin peka terhadap kesalahan, semakin berusaha hidup dalam kebenaran, serta semakin mampu mengasihi Tuhan dan sesama.

Melalui Yesaya 1:10–20, umat diajak melakukan introspeksi. Pertama, memeriksa hati dan memastikan hubungan dengan Tuhan tetap terpelihara. Kedua, memeriksa motivasi dalam pelayanan dan perbuatan baik. Ketiga, melihat apakah kehidupan sehari-hari sudah mencerminkan iman.

Keempat, menjalani pertobatan dan pembaruan hidup. Kelima, menjadikan setiap aktivitas sebagai kesempatan untuk menunjukkan iman dalam kehidupan nyata.

Pada akhirnya, ibadah sejati bukan sekadar ritual yang dilakukan secara berulang. Ibadah seharusnya tercermin dalam hati yang bertobat, kehidupan yang diperbarui, ketaatan, serta kasih kepada sesama.

Pdt. Dr. Yusmaliani Goalangi, M.Th

Ketua I Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Toraja Mamasa

Catatan: Informasi ini dikutip dari situs resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, Minggu (20/9/26).

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap