Renungan Katolik Minggu, 27 September 2026, mengajak umat untuk melihat kembali kehidupan rohani melalui perumpamaan dua anak dalam Injil Matius.
Perumpamaan tersebut menggambarkan dua sikap berbeda dalam menanggapi perintah seorang ayah. Anak pertama sempat menolak ketika diminta bekerja di kebun anggur. Namun, ia kemudian menyesal, mengubah sikap, dan menjalankan perintah tersebut.
Sementara itu, anak kedua menyatakan kesediaannya untuk pergi, tetapi tidak melakukan apa yang telah dijanjikannya.
Kisah ini menjadi gambaran bahwa ketaatan kepada Allah tidak cukup hanya diucapkan melalui kata-kata. Iman perlu diwujudkan dalam tindakan nyata dan kesediaan menjalankan kehendak-Nya.
Renungan tersebut mengingatkan bahwa kehidupan rohani tidak dapat diukur hanya dari doa, pujian, maupun janji yang diucapkan. Yang lebih penting adalah bagaimana iman tersebut menghasilkan tindakan dan perubahan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertobatan Membawa Perubahan
Penolakan anak pertama juga menggambarkan kelemahan manusia ketika berhadapan dengan sesuatu yang dianggap berat atau tidak nyaman. Namun, kesalahan tersebut bukanlah akhir dari perjalanan hidupnya.
Ia menyadari kesalahannya, mengalami perubahan hati, kemudian menjalankan perintah ayahnya. Sikap tersebut menggambarkan pentingnya pertobatan dan keberanian untuk memperbaiki diri.
Dalam kehidupan iman, manusia tetap memiliki kesempatan untuk berubah. Kegagalan dan kesalahan masa lalu tidak harus menjadi penentu masa depan apabila seseorang bersedia membuka hati terhadap rahmat Allah.
Iman Tidak Cukup Hanya di Media Sosial
Pesan tersebut juga relevan dengan kehidupan masyarakat di era digital. Banyak orang dapat dengan mudah membagikan ayat Alkitab, menuliskan kata “amin”, atau berbicara tentang kasih dan keadilan di media sosial.
Namun, tantangan sebenarnya adalah mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata.
Berbicara tentang kepedulian harus diikuti dengan tindakan membantu sesama. Berbicara tentang pengampunan perlu diwujudkan dengan kesediaan melepaskan dendam. Demikian pula dengan iman yang harus terlihat melalui perbuatan sehari-hari.
Dalam Injil, Yesus bahkan memberikan teguran keras kepada para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Mereka yang dianggap berdosa, seperti para pemungut pajak dan perempuan yang hidup dalam dosa, justru disebut dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah lebih dahulu apabila mereka bertobat dan percaya.
Pesannya jelas: merasa saleh tidak cukup apabila tidak disertai pertobatan dan tindakan nyata.
Hal tersebut sejalan dengan pesan dalam Surat Yakobus bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati.
Menjadi Pelaku Firman
Renungan Minggu ini mengajak umat untuk menjawab panggilan Allah dengan tindakan, bukan hanya kata-kata.
“Anak-Ku, pergilah bekerja hari ini di kebun anggur-Ku.”
Pesan tersebut menjadi ajakan agar umat berani melakukan introspeksi, bertobat, memperbaiki diri, dan menjalankan kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, iman tidak berhenti pada ucapan, tetapi benar-benar menjadi kekuatan yang menghasilkan perubahan dalam kehidupan pribadi maupun lingkungan sekitar.
Renungan ini disampaikan oleh Yosep Somen, Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Provinsi Kalimantan Barat.
(Sumber: kemenag.go.id)
Catatan: Informasi ini dikutip dari situs resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, Minggu (27/9/2026).






