Di Era AI, Kantor Perlu Ruang untuk Berpikir, Bukan Sekadar Teknologi

oleh
Theresia Dewi, Project Consultant General Manager Vinoti, membahas kebutuhan ruang kerja dan desain kantor di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau AI.
2.5K pembaca

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah cara perusahaan bekerja sekaligus mendorong perubahan dalam desain dan fungsi ruang kantor.

Theresia Dewi, Project Consultant General Manager Vinoti, menilai perusahaan perlu melihat kantor bukan hanya sebagai tempat kerja yang dilengkapi teknologi, tetapi juga sebagai ruang yang mendukung fokus, kolaborasi, dan proses berpikir karyawan.

Menurut Theresia, investasi teknologi tetap diperlukan untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi pekerjaan rutin. Namun, kebutuhan ruang kerja juga harus disesuaikan dengan pola kerja dan karakter masing-masing perusahaan.

“Investasi IT jelas harus dilakukan untuk menggantikan fungsi rutinitas dengan robotik, pengurangan beban, dan efisiensi. Tetapi yang saat ini dilakukan tim Corporate Real Estate (CRE) adalah mencari bentuk yang paling sesuai dengan arah perusahaan dan kebutuhan ruang fokus, ruang kerja, kolaborasi, dan lain-lain,” ujar Theresia.

Ia menyebut tantangan di era AI tidak hanya berkaitan dengan perangkat digital. Perusahaan juga perlu menyediakan lingkungan yang memungkinkan pekerja berkonsentrasi dan mengurangi kelelahan akibat aktivitas kerja yang terus terhubung dengan layar.

Ruang Kerja dan Tantangan Fokus

Theresia merujuk pada data Steelcase Global Employee Research 2025 dan WorkSpace Futures yang menunjukkan perubahan kebutuhan terhadap lingkungan kerja seiring meningkatnya penggunaan teknologi dan AI.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat perusahaan perlu memikirkan kembali pembagian ruang berdasarkan aktivitas pengguna, mulai dari ruang fokus, kolaborasi, pertemuan, hingga area interaksi sosial.

Konsep tersebut menjadi bagian dari pendekatan community-based design yang dikembangkan Vinoti. Ruang kerja tidak dirancang dengan satu pola yang sama, tetapi disesuaikan dengan karakter pekerjaan, komunitas, dan lingkungan perusahaan.

“Penyesuaian kriteria pekerjaan, komunitas, dan lingkungan akan membentuk pola tersendiri dengan mengadaptasi kebutuhan dari masing-masing user-nya,” jelas Theresia.

Menurut dia, desain ruang kerja tidak cukup hanya mengandalkan elemen dekoratif. Penataan zona dan fungsi ruang perlu didasarkan pada perilaku serta kebutuhan pengguna agar lingkungan kerja dapat menunjang produktivitas dan kenyamanan.

Desain Kantor Harus Menyesuaikan Budaya Perusahaan

Theresia juga menjelaskan bahwa konsep Workplace Districts yang diperkenalkan Steelcase perlu disesuaikan dengan karakter masing-masing perusahaan di Indonesia.

Menurutnya, penerapannya dapat berbeda berdasarkan jenis organisasi dan pola kerja. Konsep City Center, misalnya, dapat diterapkan pada perusahaan multinasional maupun perusahaan nasional yang beroperasi di kawasan pusat bisnis.

Sementara itu, konsep Neighborhoods lebih sesuai untuk perusahaan atau kantor yang membutuhkan banyak ruang tertutup dan area untuk pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi. Adapun konsep University District dapat diterapkan pada institusi pendidikan maupun perusahaan besar yang memiliki fasilitas pelatihan internal.

Namun, penerapan desain berbasis komunitas juga membutuhkan kesiapan budaya organisasi.

Theresia menilai perubahan desain ruang perlu berjalan bersama perubahan pola kerja agar pembagian ruang tidak justru menimbulkan persoalan baru di lingkungan perusahaan.

“Bagian sosial ini memang menjadi salah satu kendala dari para pemilik perusahaan lokal untuk menerapkan community-based design apabila pekerja mereka belum dewasa atau matang. Maka perlu diimbangi dengan pengembangan dan perubahan kultur dari organisasi perusahaan tersebut,” tegasnya.

Vinoti Siapkan Diskusi Workplace di Era AI

Untuk memperluas pembahasan mengenai perubahan ruang kerja, Vinoti melalui program Design For Life (DFL) menyiapkan kegiatan kolaboratif yang membahas perkembangan workplace di tengah adopsi AI.

Talkshow bertajuk “ROOM TO THINK: Designing Workspaces for the AI Era” tersebut melibatkan sejumlah praktisi dari sektor teknologi dan desain, termasuk AWS, Zoom, serta Aedas. Diskusi juga menghadirkan Bingah Suseno, Principal of TULA Interiors, dari perspektif desain interior.

Forum tersebut membahas bagaimana perusahaan dapat merancang ruang kerja yang tetap relevan ketika AI semakin banyak mengambil alih pekerjaan rutin dan proses otomatisasi.

Dalam konteks tersebut, ruang kantor dipandang tetap memiliki fungsi penting untuk mendukung aktivitas yang membutuhkan interaksi manusia, seperti berpikir, berdiskusi, berkolaborasi, dan membangun komunitas.

Vinoti merupakan bagian dari VIVERE Group dan bergerak sebagai penyedia solusi komersial untuk kebutuhan workplace dan ruang komersial. Dengan dukungan sejumlah mitra global, termasuk Steelcase, Vinoti menawarkan solusi yang menggabungkan produk, riset, serta kebutuhan bisnis dan pengguna.

(Redaksi)

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap