Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Nusa Tenggara Barat (NTB), terus meluas. Berdasarkan pemantauan hingga Minggu (27/9/2026), area yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 1.098,75 hektare.
Balai TNGR menyebut angka tersebut masih merupakan estimasi sementara dan akan diperbarui berdasarkan hasil pemantauan serta pemetaan di lapangan.
Sejumlah titik api telah berhasil dipadamkan. Namun, kebakaran masih terpantau di lereng utara Puncak Sangkareang, sehingga petugas gabungan masih melakukan pemadaman dan pemantauan.
Kepala Subbagian Tata Usaha Balai TNGR, Astekita Ardiaristo, mengatakan penanganan kebakaran terus dilakukan dengan melibatkan personel dari berbagai unsur.
Hingga 27 September, sekitar 90 personel dan tenaga pendukung dikerahkan untuk menangani karhutla. Mereka ditempatkan di sejumlah lokasi, termasuk Bukit Setampol, jalur pendakian Torean, kawasan Senaru, Pos 3 Senaru, hingga area menuju Puncak Sangkareang dan Pelawangan Senaru.
Kondisi medan menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman. Angin kencang membuat api berpotensi bergerak cepat, sementara vegetasi berupa savana, semak, rumput, dan material organik dalam kondisi kering sehingga mudah terbakar.
Selain itu, lokasi kebakaran berada di kawasan pegunungan dengan medan terjal dan sulit dijangkau. Karena itu, keselamatan personel menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan pergerakan dan metode pemadaman.
Jalur Torean dan Senaru Ditutup
Dampak kebakaran juga membuat jalur pendakian Torean dan Senaru ditutup sementara demi keselamatan pengunjung.
Balai TNGR sebelumnya menutup jalur Torean mulai 23 September 2026 setelah kebakaran terdeteksi di Bukit Setampol, Resor Torean. Sementara jalur Senaru ditutup mulai 26 September 2026 karena perkembangan api menuju kawasan Pelawangan Senaru.
Pendaki yang masih berada di kawasan Rinjani dan sebelumnya berencana keluar melalui jalur Torean atau Senaru diarahkan untuk menggunakan jalur Sembalun sesuai arahan petugas.
Calon pendaki yang telah memiliki tiket melalui jalur yang ditutup juga dapat melakukan penjadwalan ulang atau mengalihkan pintu masuk dan keluar melalui jalur yang masih diperbolehkan.
Balai TNGR masih melakukan evaluasi terhadap kondisi kawasan. Pembukaan kembali jalur pendakian akan mempertimbangkan perkembangan penanganan kebakaran serta faktor keselamatan pengunjung dan petugas.
(Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Rinjani/TNGR dan ANTARA, informasi perkembangan kebakaran 27–28 September 2026.)











