Pramono Tinjau Saringan Sampah TB Simatupang, Pengelolaan dari Hulu Diperkuat

oleh
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau fasilitas Saringan Sampah TB Simatupang di Jagakarsa, Jakarta Selatan, untuk memperkuat penanganan sampah dari hulu Sungai Ciliwung.
4.9K pembaca

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau fasilitas Saringan Sampah TB Simatupang (SSTBS) di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Senin (5/10/2026). Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan sampah Sungai Ciliwung dilakukan sejak dari kawasan hulu.

Pramono mengatakan, pengendalian sampah dari hulu penting untuk mengurangi jumlah sampah yang terbawa ke kawasan hilir, termasuk menuju Pintu Air Manggarai.

Dalam kunjungan tersebut, Pramono didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi, Wali Kota Administrasi Jakarta Timur Munjirin, dan Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan Syafrin Liputo.

Menurut Pramono, keberadaan SSTBS membantu menangkap sampah yang terbawa aliran Sungai Ciliwung sebelum mencapai kawasan hilir.

“Dari Sungai Ciliwung inilah kemudian hampir 30 persen sampah bisa diambil, diolah di sini, sebagian besar sampah organik,” ujar Pramono.

SSTBS Tangani Puluhan Ribu Ton Sampah

SSTBS tidak hanya berfungsi sebagai penyaring sampah sungai. Sampah yang tertahan kemudian melalui sejumlah tahapan, mulai dari penyaringan, pemilahan, pencacahan, hingga pengolahan berdasarkan karakteristiknya.

Hasil pengolahan antara lain berupa kompos, woodchip, dan material yang dapat digunakan sebagai bahan baku refuse-derived fuel (RDF).

Data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mencatat, sejak Agustus 2023 hingga 12 September 2026, SSTBS telah menangani sekitar 32.677 ton sampah. Jumlah tersebut setara dengan rata-rata sekitar 30,2 ton sampah per hari.

Dari total sampah yang ditangani, sebanyak 17.920 ton telah diolah. Rinciannya terdiri atas 5.645 ton kompos dan 12.275 ton woodchip.

Produk hasil pengolahan tersebut telah dimanfaatkan oleh sejumlah pihak, antara lain masyarakat, sekolah, kelurahan, kelompok tani, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota, TNI, POO Ciangir, POO Ciracas, hingga sektor industri.

Pengelolaan Sampah Jakarta Terintegrasi

Pramono menilai penanganan sampah di Jakarta tidak dapat hanya mengandalkan satu fasilitas. Menurutnya, berbagai fasilitas pengolahan harus bekerja secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Fasilitas yang dimaksud antara lain SSTBS, TPS 3R, RDF Plant Rorotan, RDF Bantargebang, serta fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

“Kalau RDF Rorotan, RDF Bantargebang, PSEL, kemudian TPS 3R berjalan dengan baik dan tempat ini juga bisa mengurangi beban sampah ke Pintu Air Manggarai,” tutur Pramono.

Ia mengatakan, pola pengelolaan sampah di Jakarta perlu terus diarahkan dari sistem lama berupa kumpul, angkut, dan buang menjadi pilah, angkut, dan olah.

Dengan pendekatan tersebut, sampah yang masih memiliki nilai guna dapat dimanfaatkan sebelum menjadi residu yang dikirim ke tempat pemrosesan akhir.

Sampah Ditangani Sebelum Mencapai Hilir

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi mengatakan SSTBS menjadi salah satu fasilitas penting untuk menangani sampah badan air, terutama ketika debit Sungai Ciliwung meningkat pada musim hujan.

Menurut Dudi, sampah perlu ditangani sedini mungkin agar tidak menumpuk di wilayah hilir.

“Sampah kita tahan dan tangani lebih awal. Jadi, bukan menunggu sampah menumpuk di hilir baru kemudian dibersihkan,” kata Dudi.

Selain membantu mengurangi sampah yang terbawa aliran sungai, penanganan tersebut juga mendukung kelancaran aliran air dan sistem pengendalian banjir.

SSTBS sejak awal dibangun untuk menahan sampah dari bagian hulu Sungai Ciliwung sehingga tidak terbawa lebih jauh menuju Pintu Air Manggarai.

Fasilitas tersebut juga menangani sampah berukuran besar atau bulky waste serta material hasil pemangkasan pohon. Sampah kemudian dipilah dan dicacah untuk diolah menjadi kompos, woodchip, maupun bahan baku RDF.

“Prinsipnya, sampah yang masih memiliki nilai manfaat jangan langsung menjadi residu. Semakin banyak yang dapat kita pilah, olah, dan manfaatkan kembali, semakin kecil beban yang harus dikirim ke TPST Bantargebang,” ujar Dudi.

Akan Dibangun di 11 Hulu Sungai

Pemprov DKI Jakarta berencana memperluas fasilitas penyaringan sampah ke 11 kawasan hulu sungai lainnya.

Lokasi yang masuk dalam rencana pengembangan tersebut meliputi Kali Sunter, Cipinang, Jati Kramat, Baru Timur, Baru Barat, Angke, Grogol, Krukut, Buaran, Kalimalang, dan Cakung.

Pengembangan fasilitas ini diharapkan dapat memperkuat penanganan sampah badan air sekaligus mengurangi sampah yang terbawa menuju kawasan hilir.

Pemprov DKI Jakarta juga membuka peluang kolaborasi dengan dunia usaha dan pemangku kepentingan lainnya untuk meningkatkan pemanfaatan hasil pengolahan sampah.

“Yang kita bangun bukan hanya saringan sampah, tetapi sistem pengelolaan yang lebih utuh. Sampah ditahan lebih awal, ditangani lebih cepat, diolah dan dimanfaatkan kembali,” pungkas Dudi.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap