Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (29/10/2026). Indeks turun 184,25 poin atau 3,49 persen ke level 5.098,06.
Pelemahan tersebut terjadi di tengah tekanan jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar atau big caps. Saham perbankan dan sejumlah emiten konglomerasi ikut terkoreksi sehingga membebani pergerakan indeks.
Mengutip data perdagangan yang diberitakan Bisnis.com, IHSG sempat bergerak hingga level tertinggi 5.320,89 sebelum akhirnya ditutup pada posisi 5.098,05. Perbedaan kecil pada angka penutupan dapat muncul akibat pembulatan data.
Pada perdagangan tersebut, mayoritas saham bergerak melemah. Sebanyak 624 saham tercatat turun, sedangkan 98 saham menguat dan 70 saham stagnan, berdasarkan laporan Bisnis.com.
Saham Perbankan Ikut Terkoreksi
Sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar mengalami penurunan yang cukup dalam.
Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) turun 6,35 persen ke level Rp4.940 per saham. Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) melemah 3,77 persen ke Rp2.810.
Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) terkoreksi 3,12 persen ke Rp3.720, sedangkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) turun 3,28 persen ke Rp3.240.
Tekanan juga terjadi pada sejumlah emiten di luar sektor perbankan, termasuk saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dan PT Barito Pacific Tbk. (BRPT).
Koreksi saham-saham berkapitalisasi besar menjadi salah satu faktor yang membebani IHSG karena pergerakan saham tersebut dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap indeks secara keseluruhan.
Apa Penyebab IHSG Melemah?
Pelemahan IHSG dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan eksternal. Salah satunya adalah tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat dan kondisi perekonomian global.
Bisnis.com melaporkan bahwa keputusan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75–4 persen turut menjadi perhatian investor.
Kondisi pasar global, pergerakan nilai tukar rupiah, serta arus investasi asing juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam membaca arah pergerakan pasar saham Indonesia.
Meski demikian, penurunan IHSG tidak selalu disebabkan oleh satu faktor tunggal. Pergerakan indeks merupakan hasil dari berbagai faktor yang memengaruhi keputusan jual dan beli investor.
Apa Dampaknya bagi Investor?
Penurunan IHSG dapat memengaruhi nilai portofolio investor yang memiliki saham, terutama apabila saham yang dimiliki ikut mengalami koreksi.
Namun, dampaknya berbeda-beda bergantung pada saham yang dimiliki, harga pembelian, serta strategi investasi masing-masing.
Investor perlu memperhatikan kinerja perusahaan, keterbukaan informasi emiten, kondisi pasar, dan tingkat risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Pergerakan indeks dalam satu hari juga tidak cukup untuk menyimpulkan arah pasar dalam jangka panjang. Karena itu, keputusan investasi sebaiknya tidak hanya didasarkan pada kepanikan akibat penurunan harga.
Pantau Pergerakan IHSG Jumat Ini
Pada Jumat (30/10/2026), pelaku pasar akan kembali mencermati pergerakan IHSG dan perkembangan sentimen yang memengaruhi perdagangan saham.
Investor dapat memantau data perdagangan melalui Bursa Efek Indonesia, keterbukaan informasi perusahaan tercatat, serta laporan pasar dari sumber keuangan tepercaya.
Perlu diperhatikan bahwa angka 5.098,06 merupakan posisi penutupan IHSG pada Kamis (29/10/2026), bukan angka perdagangan berjalan pada Jumat.
Perkembangan pasar selanjutnya akan bergantung pada dinamika permintaan dan penawaran saham, sentimen investor, serta informasi ekonomi terbaru.
Sumber: Bursa Efek Indonesia (BEI), Bisnis.com, dan Investing.com.









