Yogyakarta, sketsindonews – Ki Dalang Catur Benyek Kuntjoro mengakui, bahwa Wayang Hip Hop dalam eksistensi tampilan ada kontroversi oleh para Dalang Wayang Kulit Tradisional.
Baca: Ki Dalang Benyek Ngamen di Luar Negeri Dengan Format Wayang Kulit Hip – Hop
Hal ini di ungkapkan Benyek saat bincang dengan sketsindonews.com, menurutnya, kiblat wayang kontemporer memang belum popular di Jogjakarta.
Namun demikian kata Ki Benyek, berdirinya wayang Hip Hop karena sebuah kebutuhan selain ekspansi budaya leluhur yang harus tetap selaras dalam di namikanya.
“Cara penyampaian saja yang kami rubah termasuk lakon wayang kulit, hanya kami sedikit bergeser dari costums tokoh pewayangan yang sedikit trendy,” jelas Benyek.
Baca: Dalang Benyek: Wayang Hip Hop Solusi Pewayangan Jogjakarta
Dia menambahkan, tematik dalam pagelaran menjadi kunci issue sexy selain tokoh punakawan jenaka seperti petruk, semar, gareng, dan bagong dalam lakon pewayangan.
“Kami hanya mengeksplore dari cerita lakon dengan mix kolaborasi gamelan, music, hingga menjadi warna dalam sebuah tampilan wayang kulit Hip Hop kontemporer,” jelasnya lagi.
Tak ada menjadi pertentangan, menurutnya justru dia ingin menjaga kelestarian budaya wayang, walau konsep ini ada kontroversi bagi kalangan pengamat budaya.
Benyek menuturkan pula bahwa dalam khasanah sinden juga dilibatkan oleh para sindenawati mahasiswi Ikatan Seni Tari Indonesia (ISTI) Jogjakarta. “Dalam mewarnai wayang kulit konteporer Hip Hop,” tutupnya. (Nr)







