Back

Media Terpercaya

Hercules dan Pemuda Tanah Abang, Masa Lalu Yang Tak Terpisahkan

Jakarta, sketsindonews – Kriminalitas seakan bukan hal yang menyeramkan bagi sebagian warga yang tinggal di seputaran Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Bagaimana tidak, lokasi yang dikenal sebagai pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara tersebut sejak dulu sudah dikuasai banyak kelompok.

Pertikaian baik akibat kesalahpahaman hingga perebutan lahan seakan menjadi hal biasa bagi warga atau pemuda disekitar.

Menurut Ketua Gerak Ketahanan Betawi (Gerhana), Muhammad Rifan atau Meneer pada era 90an, Tanah Abang telah banyak dikuasai oleh kelompok-kelompok dari Timor dengan dua tokoh yang cukup kuat yakni Rosario de Marshall atau Hercules dan Veretas.

“Veretas pernah menyerang diskotik pujasera,” ungkapnya, saat ditemui di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (16/7/20).

Namun Veretas kurang di kenal oleh warga Tanah Abang, dimana Kata Meneer kalangan anak muda menyebut anak Timor dengan ABH atau Anak Buah Hercules.

“Walau sama-sama anak Timor namun keduanya tidak sejalan, menurut pandangan saya,” ujarnya.

Meneer menambahkan, selain angka kriminalitas yang tinggi, saat itu Tanah Abang juga dikenal dengan prostitusi dan perjudian dijalanan yang nonstop.

“Penerapan Supremasi Hukum lemah dengan fase subversif pada saat itu,” ujarnya.

Gejolak Pemuda dengan Kelompok Timor

Meneer menceritakan bahwa satu kisah yang perlawanan besar pemuda setempat terhadap kelompok Timor, yang bermula saat
Seorang preman yang diketahui merupakan bagian dari kelompok Veretas tidak terima ditegur oleh pemuda setempat.

“Preman tersebut merasa di tuduh mengambil burung, lalu preman itu bukan mengklarifikasi tapi malah membentak dan marah setelah di lerai warga preman itu pergi namun tak lama kemudian balik lagi dengan mengajak teman-temannya,” papar Meneer.

Datang dengan menantang, mencaci serta menghima suku di wilayah tersebut menyebabkan suasana semakin memanas. “Sampai cekcok dan nyaris adu jotos, lalu redam sejenak,” ujarnya.

“Malam hari anak-anak remaja yang biasa nongkrong diserang preman dengan parang dan bensin,” lanjutnya menceritakan kejadian hari itu.

Kata Meneer, tuan rumah yang terbuka dan ramah di lecehkan tamunya. “Diamnya putra daerah adalah bentuk toleransi keberagaman, namun disalah artikan oleh mereka,” jelasnya.

“Semutpun melawan raksasa, dan meraka kelompok terstruktur yang pengalaman berperang, dipaksa pergi,” kata Meneer.

Hercules Dimata Pemuda Tanah Abang

Berbeda dengan Hercules, menurut Meneer sebagian besar pemuda Tanah Abang menganggapnya sebagai Inspirasi.

“Pemuda Tanah Abang dan Hercules adalah masa lalu yang tidak terpisahkan,” ujar Meneer.

“Kami jadikan Hercules inspirasi bukan untuk kejahatannya, tetapi sebagai tokoh pejuang pro intergrasi yang telah berkoban untuk negeri ini,” ungkapnya.

Dan Kejadian diatas, lanjut Meneer menjadi tolak ukur pada warga Jakarta khususnya orang Betawi tuan rumah yang selalu ramah dan terbuka dari deras urbanisasi menjadi semakin sadar kambtibmas.

Serta mendorong terbentuknya Forum Komunikasi Putra Tanah Abang (FKPT), Gerak Ketahanan Betawi (GERHANA) juga Perkumpulan Advokat Betawi
(PADI).

“Jakarta multi entis harus kita jaga kelestarianya dan jadikan itu persatuan untuk membentengi rumah kita dari kejahatan, mari terdepan menjaga kelurga kita dengan melaporkan keaparat setempt jika terdeteksi kegiatan kejahatan,” harapnya.

Terakhir, Meneer berharap agar kelompok-kelompok yang masih atau akan masuk lagi ke Tanah Abang agar tidak lagi mengulang kisah-kisah kelam masa lalu.

“Kita tetap terbuka, tapi harus memiliki etika dan bisa bekerjasama dengan pemuda setempat,” tandasnya.

(Eky)

About the Author /

Pimpinan Perusahaan SketsIndo Juni 2016.