Polisi Tetapkan Dosen UTM Bangkalan Tersangka Kasus ITE

Bangkalan, sketsindonews – Kepolisian Resort Bangkalan menetapkan Dosen Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Agung Ali Fahmi sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik. Agung dijerat pasal Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). 

Kasubag Humas Polres Bangkalan Iptu Bahrudi mengatakan, penetapan tersangka Agung menindak laporan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam pada September 2019 lalu, dengan perihal laporan dugaan pencemaran nama baik. 

“Sudah ditetapkan tersangka setelah penyidik melakukan gelar perkara l. Hasilnya polisi merekomendasikan penyelidik untuk menerbitkan surat ketetapan tersangka,” kata Bahrudi, Senin (23/3).

Menurut dia, proses penetapan Agung sudah berdasarkan alat bukti dengan mendatangkan beberapa tim ahli untuk dikaji dan dimintai keterangan klausul kasusnya. Selain itu juga diperkuat oleh tim ahli ITE dan pidana. 

Dalam kasus ini, polisi menetapkan Agung sebagai tersangka kasus ITE dengan jeratan Pasal 45 Ayat (3) jo Pasal 27 Ayat (3) UU Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE.

Informasi yang diterima sketsindonews, Dosen yang diketahui menjabat sebagai Wakil Rektor III itu, dilaporkan sekelompok Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) ke aparat penegak hukum (APH) atas dugaan pelecehan dan pencemaran nama baik. 

Dugaan pelecehan yang dikatakan Agung disampaikan dalam grup WhatsApp IKA PMII. Kalimat pernyataannya “HMI tidak punya induk. Ibunya Masyumi sudah wafat, yatim piatu. Mumpung masih bulan Muharram kalau ketemu anak HMI elus kepalanya.”

Agung diketahui merupakan mantan dan alumni PMII. Percakapan yang diduga melecehkan tersebut sebenarnya tidak untuk dikonsumsi publik, melainkan hanya untuk teman sealumninya. 

Namun karena ada sebagian oknum, kabar tersebut akhirnya viral diketahui masyarakat. Akan tetapi, pihak PMII hingga saat ini belum mengetahui siapa yang menyebarkan percakapan itu dengan cara di foto tangkap layar. 

Karena menyebar luas, di sisi lain sekelompok aktivis HMI di Kota Bangkalan tidak terima direndahkan. Saat itu pula, mereka bersatu melampiskan amarahnya dengan menggelar demo.

Tuntutannya mendesak Dosen Agung untuk meminta maaf ke publik, terutama kepada kader HMI di seluruh Indonesia. Sementara perilaku pelecehannya tetap dilaporkan ke pihak kepolisian. 

(nru/pwk)