Jakarta, sketsindonews – Sebanyak 68 penggiat pengrajin ekonomi tempe yang meliputi RT 010,09, 08,02, 05 RW 04 dan RW 03 Kelurahan Kampung Rawa Kecamatan Johar Baru selama persoalan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (Ipal) harus menjadi perhatian pemko Jakarta Pusat.
Dalam kegiatan produksi para pengrajin tempe setempat sudah puluhanntahun melakukan pembuangan kekali PHB Sentiong kawasan padat sehingga nilai kesehatan dan kekumuhan serta sanitasi air sekitar menjadi tak sehat.
Menurut warga setempat G. Rachman menyatakan, persoalan pengrajin tempe jika memenuhi standart kesehatan harus ada revitalisasi dari pemerintah DKI bukan hanya terkait masalah ipal saja namun wilayah perlu ada perubahan dampak pembakaran.
kali.phb.sentiong.limbah.tempe.doc
Selama ini kali di jadikan buat usaha jemur tempe, dan pembuangan sisa kacang kedelai harus ada solusi bukan dibuang kekali mereka masih melaksanakan dengan metode manual selain pembakaran dari kayu bakar, ujarnya.
Ini sudah tak layak, program OK OC harus ada memberikan konsep jelas kepada pengrajin tempe, ini tugas mereka bukan hanya dapat honor tapi tak memikirkan kontribusinya pada masalah peningkatan standar usaha dan kelayakan lingkungan, terang Rachman.
Ada 4 hal yang menjadi masalah soal pengrajin tempe untuk di selesaikan pemko Jakarta Pusat, yakni bentuk ipal dalam satu komunal yang terintegrasi, dampak pembakaran harus ada ventilasi bagi home imdustri sehingga tak menimbulkan panas di
bagi warga setempat, persoalan bau limbah, serta penataan kali untuk di rehabilitasi sehingga ada penempatan bagi pengrajin tempe untuk menjemur diatas kali.
Inspeksi Wakil Walikota Irwandi
Wakil Wali Kota Jakarta Pusat, Irwandi saat melakukan Inspeksi mendadak di lokasi pelaku pengrajin tempe di dampingi sejumlah SKPD terkait.
Dirinya terkejut setelah melihat kegiatan, bahwa proses pembuatan memasak produksi tempe masih menggunakan metode kayu bakar, selain limbah di buang langsung ke kali PHB Kali Sentiong.
Mantan Kadis UMKM sempat menyindir pula kaitan dengan minyak goreng yang hitam legam masih di gunakan dalam memasak makanan.
Ini tak main – main masyarakat di sana harus di edukasi dan meminta Camat Lurah untuk kumpulkan mereka dalam satu kegiatan sosialisasi tentang lingkungan dan limbah, pungkasnya.
“Aduh ngeri lihat minyak gorengnya hitam banget seperti oli,” ucapnya saat sidak di lokasi, Jumat (19/10)
Melihat kondisi tersebut, mantan Kadis KUKMP DKI Jakarta ini meminta agar Camat dan Lurah segera mengumpulkan seluruh pengusaha dan perajin tempe dan tahu untuk disosialisasikan kebersihan usaha dan penataan lingkungan. Sehingga tempat usaha menjadi lebih bersih, tertib dan rapi sesuai aturan yang ada.
Kami minta mereka sudah menggunakan konversi dari kayu bakar ke gas itu lebih aman, selain kawasan home industri di pikirkan kaitan dengan penataan lingkungan agar lebih memenuhi usaha sehat, (hyginies), tegasnya.
“Jangan seperti ini lah kan membuat kumuh lingkungan. Sistem sanitasi dan lingkungan di sekitar tempat produksi harus rapih, berestetika, bersih”.
Jangan seperti ini lah kan membuat kumuh lingkungan selain juga bisa menimbulkan dampak bukan hanya produksi tempenya, tapi warga lingkungan aliran (DAS) harus tidak tercemar, ucap Irwandi.
reporter : inong






