Jakarta, sketsindonews – Penjagaan Trotoar Kawasan Senen Raya, Kramat Raya, Salemba dan Cikini Raya terus di jaga Satpol PP Kota Jakarta Pusat hingga saat ini mulai pagi hingga malam hari.
Pertanyaan publik sampai kapan metode ini digunakan pihak Pemprov DKI Jakarta kawasan sterilitas trotoar terus dijaga dalam upaya trotoar tak difungsikan oleh pihak lain terkecuali pejalan kaki.
Hampir 2 minggu pihak Satpol PP gabungan Kota Jakarta Pusat menjaga kawasan Senen dari PKL baju Ex Import selain pedagang malam tertuju mengarah lebarnya trotoar menjadi kawasan strategis untuk menaruh gerobak, serta tenda lebar – lebar di lintasan utama protokol.
“Pemerintah DKI seperti tak ide bagaimana menjaga trotoar sampai kapan dijaga pihak – pihak aparat selain pelanggar tidak diberikan sangsi ataupun solusi cara membuat kawasan itu benar menjadi kawasan idaman wahana publik, ujar Danang Sasongko Sosiolog kepada sketsindonews.com, Jumat (13/12/19).
Menurutnya, hampir ratusan jumlah satpol kini repot jagain itu kawasan selain jalan Thamrin – HI setiap hari dan akhir pekan, dimana zonasi kawasan terbagi penjagaan oleh ASN ikut terlibat dari ekspansi PKL saat CFD.
Seperti di Senen Raya dirinya meyakini bahwa ini sama saja adu kuat antara pedagang Ex.baju import dengan Satpol untuk merebut trotoar, padahal PKL itu masih menunggu momentum untuk kembali di jalan.
“PKL saat ini ngumpet disekitar kawasan Kembang Sepatu sebagai gudang, hingga saat ini tuntutan realokasi yang disediakan pemerintah selalu di tolak pedagang untuk terus mau di trotoar,” kata Danang.
Publik atau masyarakat justru kini menunggu solusi jitu pihak Pemprov DKI proses penataan trotoar sesuai keinginan publik serta pengembangan interaktif kawasan.
Diketahui publik juga bisa mendorong menjadi kunci dalam memberikan pelarangan aktifitas di trotoar selama kawasan trotoar dijadikan service station publik, akhirnya trotoar tak perlu dijaga dengan berbagai pasukan gabungan.
“Pemda DKI seharusnya sudah mulai mempercantik trotoar dengan edukasi judment sehingga publik bisa membaca dengan penataan himbauan bisa terbaca publik bukan dengan spanduk (baleho) gede – gede terbentang selain menjadi pemandangan kumuh,” paparnya.
Kreatif dikit lah SKPD dengan cara cara etnik (improvisasi) membuat cara bagaimana himbauan yang terbaca bisa menggelitik selain menjadi pandangan indah dengan kata – kata kontruktif tapi bisa menyentil para pelanggar trotoar.
“Lebarnya pembuatan trotoar jangan dibalik menjadi masalah baru tapi bagaimana fungsi trotoar suatu langkah revitalisasi penataan kawasan pejalan kaki menjadi bagian untuk memenuhi unsur hak asasi dalam kepedulian antara jalan, manusia serta alam (lingkungan) menjadi satu kesatuan ekosistem,” tukas Danang.
(Nanorame)






