Mental Tangguh Menuju TNI AU Ampuh

oleh
91.9K pembaca

Sebuah Upaya Penguatan Karakter dan Moral Prajurit

Oleh: Letkol Sus Giyanto
(Kepala Pembinaan Mental AAU)

PENDAHULUAN

Gambar

Sudah sejak lama bahasan moral dan mental selalu menjadi topik yang hangat dalam kehidupan prajurit TNI. Selama ini moral prajurut menjadi atensi khusus karena sebagai barometer dalam membentuk sikap hidup prajurit TNI yang memiliki dedikasi, loyalitas, disiplin dan bertanggung jawab serta mampu menjaga keharmonisan keluarga ditengah tuntutan tugas, baik dalam situasi damai maupun saat operasi militer. Kedua aspek ini saling terkait dan menjadi penentu utama kualitas dan profesionalitas seorang prajurit.

Perkembangan teknologi diera digital saat ini disinyalir belum sepenuhnya mampu mengantarkan pada perilaku moral yang diharapakan, yakni terwujudnya prajurit yang memiliki mental tangguh. Disadari maupun tidak bahwa mental tangguh merupakan syarat mutlak bagi prajurit TNI dalam melaksanakan setiap tugas pokok agar dapat terlaksana dengan baik. Namun realitanya masih masifnya pelanggaran disiplin prajurit TNI, perilaku menyimpang dari ajaran agama, maupun tidak sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Mencermati permasalahan tersebut, dalam rangka mewujudkan mentalitas yang tangguh, maka peran pembinaan mental akan mewarnai jati diri sebagai seorang prajurit, yang diharapkan mampu membentuk karakter dan moral yang jauh lebih baik. Kepemimpinan yang berintegritas, efektif dan proaktif dan saling menghormati merupakan bagian kontribusi dalam peningkatan moral yang tinggi, yang memungkinkan prajurit memprioritaskan tugas diatas kepentingan pribadi/keluarga.

PERSOALAN MORAL DAN MENTAL PRAJURIT TNI SAAT INI

Budaya global yang dibangun dengan kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya media informasi telah membawa berbagai perubahan, terutama perubahan tata nilai dalam kehidupan prajurit. Perubahan tata nilai ini beraspek ganda, satu sisi membawa kemajuan yang konstruktif tetapi pada sisi lain membawa beragam kerusakan atau destruktif terhadap mentalitas/moralitas prajurit. Pelangaran disiplin prajurit tersebut terjadi tidak hanya faktor tantangan global saja, namun juga dikarenakan akibat tekanan tugas, lingkungan kerja, hingga godaan pelanggaran.

Kondisi ini berdampak pada kehidupan prajurit TNI, realitanya masih adanya prajurit TNI terlibat berbagai kasus pelanggaran disiplin, yang disebut dengan “tujuh dosa besar prajurit TNI” meliputi: penyalahgunaan senjata api, asusila, pornografi, narkotika, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), desersi, dan perkelaihan/penipuan/perampokan serta kegiatan elegal. Diera digital ini pelanggaran disiplin tersebut bertambah, yaitu persoalan yang masih aktual/tranding adalah bahaya kecanduan terhadap berbagai hal yang merusak mental dan moral prajurit termasuk kecanduan judi online, pinjaman online, game online dan LGBT. Kecanduan ini tidak hanya mengganggu sistem saraf otak, melainkan merusak mental dan menurunkan kualitas hidup. Pertanyaannya bagaimana menghadapi tantangan moral dan mental prajurit TNI saat ini, yang berdampak pada pelanggaran disiplin, strategi apa dan upaya-upaya apa yang dilakukan?

PEMBAHASAN

Kita ketahui bahwa tujuan pembinaan mental adalah membentuk pribadi prajurit TNI dan keluarganya yang memiliki mental tangguh, guna menghadapi tantangan kehidupan maupun tantangan tugas. Tantangan ini tentu tidak mudah, namun yang terpenting adalah setiap pimpinan, perwira staf harus memahami dan berperan aktif dalam semua kegiatan bintal fungsi komando di satuan. Perlu disadari bahwa pembinaan mental di satuan bukan semata menjadi tanggung jawab perwira bintal, melainkan tanggung jawab bersama seluruh unsur pimpinan, terutama komandan satuan sebagai pemimpin dan pembina utama di lingkungannya, sehingg akan terwujud proses pembinaan mental yang optimal.

Hal ini menjadi renungan dan pemikiran bersama khususnya pimpinan TNI AU yang memiliki peran bintal fungsi komando dan juga perwira pembina mental yang menjadi wilayah tugas pokoknya. Peran bintal fungsi komando dari para komandan satuan dan unsur staf selama ini dirasa belum optimal. Penulis meyakini apabila peran bintal fungsi komando ini melekat pada diri seorang pemimpin, maka proses pembinaan mental TNI akan lebih optimal. Melalui artikel singkat ini penulis mencoba memberikan solusi alternatif sebagai upaya-upaya yang harus dilakukan, semoga menjadi program strategis khususnya bagi pimpinan TNI AU, adalah sebagai berikut:

Pertama; Kepemimpinan yang Berintegritas, Efektif Dan Proaktif. Pemimpin yang memiliki integritas, dedikasi, loyalitas tinggi sekaligus menjadi teladan, mempunyai peran dan kontribusi besar dalam menjaga moral dan mental prajurit. Pemimpin hendaknya mengantisipasi dan melakukan intervensi dalam situasi yang berisiko secara moral tinggi, bertindak secara proaktif untuk mengidentifikasi dan mengurangi risiko pelanggaran perilaku prajurit. Selain itu pemimpin harus peka dan memberikan dukungan moral serta emosional, terutama saat prajurit menghadapi situasi sulit sehingga tercipta lingkungan kerja yang sehat dan bermoral.

Kedua; Pendidikan dan Penguatan Karakter. Memberikan bekal spiritual dan moral yang kuat sejak masa pendidikan pertama, seperti di Akademi Militer (Akmil), Akademi Angkatan Udara, pendidikan Tamtama dan Bintara melalui program Pendidikan dan Penguatan Karakter. Mengingat pentingnya pendidikan karakter dan spiritualitas sebagai benteng utama dalam menghadapi tantangan global yang berpotensi melemahnya mental dan moral prajurit TNI. Penguatan mental melalui strategi membangun prajurit yang tangguh dan berintegritas di era digital ini dengan pendekatan berbasis nilai-nilai agama dapat menjadi solusi efektif dalam membangun ketahanan mental prajurit TNI.

Ketiga; Kerja sama lintas kementerian/lembaga. Meningkatkan koordinasi dengan kementerian/Lembaga, TNI dan Polri dapat membantu mengatasi tantangan moral prajurit. Kerjasama ini terkait, dalam proses pembinaan mental prajurit melalui penguatan karakter dan moral, juga upaya prefentif dan solutif terhadap berbagai pelanggaran disiplin yang terjadi pada prajurit TNI. Selain itu adanya dukungan sosial dan relasi interpersonal, selama bertugas harus mampu membangun hubungan interpersonal yang kuat dan ikatan satuan yang solid maka dapat menjaga moral prajurit tetap baik.

KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa upaya penguatan karakter dan moral prajurit TNI menjadi skala prioritas dalam proses pembinaan mental prajurit TNI, dan bermakna penting dalam mendukung tugas pokok, manakala diimbangi dengan program-program strategis, solutif, efektif dan jangka Panjang. Faktor penyebab pelangaran disiplin prajurit TNI tidak hanya faktor tantangan era digital dan budaya global, namun juga akibat tekanan tugas, lingkungan kerja, hingga godaan pelanggaran, bahkan yang lebih dominan adalah faktor genetik/karakter prajurit bawaan lahir yang kurang baik, sehingga eksistensi bintal perlu diperhitungkan dalam rekrutmen penerimaan prajurit TNI.

Diskriptif terhadap permasalahan pelanggaran disiplin terkait moral dan mental prajurit TNI saat ini sebagai solusi alternatif, maka upaya-upaya yang harus dilakukan adalah kepemimpinan yang berintegritas, efektif dan proaktif, pendidikan dan penguatan mental, kerja sama lintas kementerian/Lembaga.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap