Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan menghadiri Seminar Menulis bertema “Ketika Perempuan Memilih untuk Bersuara”, Rabu (4/3/2026), di Auditorium Lantai 2 Gedung Film Pesona Indonesia, Pancoran, Jakarta Selatan.
Kegiatan yang digelar oleh Dharma Wanita Persatuan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif ini menjadi bagian dari rangkaian penyemarak Bulan Suci Ramadan 1447 H, sekaligus upaya memperkuat literasi dan pemberdayaan perempuan melalui karya tulis.
Ketua DWP Kemenko Kumham Imipas, Nova R. Andika Dwi Prasetya, hadir didampingi jajaran pengurus sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kapasitas perempuan di ruang publik.
Menulis Bukan Sekadar Keterampilan
Dalam sambutannya, Nova menegaskan bahwa menulis bukan hanya kemampuan teknis, melainkan keberanian menyuarakan nilai dan gagasan.
“Perempuan memiliki pengalaman hidup yang kaya dan perspektif kuat. Melalui tulisan, kita berbagi cerita sekaligus meninggalkan jejak pemikiran bagi generasi berikutnya,” ujarnya.
Seminar ini bertujuan meningkatkan kepercayaan diri dan kompetensi perempuan dalam menyampaikan ide, gagasan, serta pengalaman melalui berbagai platform digital.
AI Jadi Alat, Bukan Ancaman
Narasumber seminar, Isa Alamsyah, penulis buku sekaligus CEO KBM Apps, memaparkan perkembangan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia kepenulisan.
Menurutnya, dengan satu prompt terstruktur, AI kini mampu membantu menyusun kerangka cerita hingga draf utuh dalam waktu singkat.
“Jika dimanfaatkan dengan bijak, AI bukan ancaman, melainkan alat untuk melipatgandakan produktivitas penulis,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan sentuhan manusia tetap menjadi pembeda utama dalam hal empati, rasa, dan kedalaman makna. Penulis dituntut adaptif agar teknologi memperkuat kualitas karya tanpa menghilangkan jati diri.
Dua Jalur Sukses Penulis
Isa juga memaparkan dua jalur kesuksesan penulis:
- Jalur eksistensi, membangun visibilitas dan personal branding.
- Jalur esensi, memperkuat kualitas dan dampak karya.
“Keduanya bisa berjalan beriringan. Penulis dapat membangun eksistensi sekaligus menjaga esensi,” tuturnya.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan diskusi dan tanya jawab, serta diharapkan menjadi langkah awal membangun ekosistem literasi internal yang berkelanjutan di lingkungan organisasi.






