1447 H
رمضان كريم
Marhaban Ya Ramadan
Semoga bulan suci ini membawa keberkahan, kedamaian, dan ampunan bagi kita semua.
✦ Mari sucikan hati, perbanyak ibadah, dan pererat silaturahmi ✦
Hengki Lumban Toruan
HENGKI LUMBAN TORUAN CEO & Founder Sketsa Indonesia

Resensi Buku “Suku Quraisy”: Menelusuri Asal-usul dan Pengaruhnya di Jazirah Arab

oleh
23.2K pembaca

Buku Suku Quraisy karya Awathif Adib Salamah menghadirkan kajian mendalam tentang asal-usul, peran politik, ekonomi, dan keagamaan suku Quraisy di Jazirah Arab. Buku setebal 440 halaman yang diterbitkan Pustaka Alvabet pada 9 Oktober 2024 ini menjadi salah satu bahan diskusi dalam kegiatan literasi yang digelar Nusantara Centre selama Ramadan.

Resensi buku ini ditulis oleh Yudhie Haryono, pengasuh Pesantren Yusufiah. Ia menilai karya tersebut memberikan gambaran komprehensif mengenai sejarah dan dinamika sosial suku Quraisy, salah satu kelompok paling berpengaruh dalam sejarah Arab.

Dalam buku tersebut, Awathif mengemukakan hipotesis bahwa suku Quraisy berasal dari keturunan Fihr bin Malik yang merupakan bagian dari suku Kinanah. Garis keturunan tersebut diyakini bersambung hingga Nabi Ismail, putra Nabi Ibrahim yang dikenal sebagai peletak dasar Ka’bah di Mekkah.

Gambar

Secara etimologis, kata “Quraisy” diyakini berasal dari istilah taqarrusy, yang berarti “berkumpul” atau “perkumpulan”. Nama ini muncul ketika Qusayy bin Kilab keturunan keenam Fihr bin Malik berhasil menyatukan berbagai klan Quraisy dan mengambil alih kendali atas Ka’bah di Mekkah.

Setelah bersatu, suku Quraisy berkembang menjadi kekuatan dominan di kota tersebut. Mereka tidak hanya menguasai perdagangan, tetapi juga memainkan peran penting dalam kehidupan politik dan keagamaan di wilayah itu.

Menurut penelitian dalam buku tersebut, suku Quraisy dikenal sebagai pedagang ulung yang menguasai jalur perdagangan internasional antara Syam dan Yaman. Mereka juga dipercaya mengelola Ka’bah dan memiliki posisi strategis dalam pelaksanaan ritual haji.

Selain kekuatan ekonomi, suku Quraisy memiliki pengaruh politik dan budaya yang besar di Jazirah Arab. Tradisi kepemimpinan yang kuat serta kemampuan berorganisasi membuat mereka disegani oleh berbagai kabilah lain.

Namun, buku ini juga mengulas sisi lain sejarah suku Quraisy. Pada masa awal dakwah Islam, sebagian besar dari mereka menolak ajaran Nabi Muhammad dan bahkan melakukan penindasan terhadap para pengikutnya. Penulis menilai sikap tersebut dipengaruhi oleh dominasi kekuasaan serta konflik internal antarklan yang telah lama berkembang.

Secara tematik, buku ini membahas sejumlah aspek penting, mulai dari asal-usul suku Quraisy, peran politik dan ekonomi, hingga pengaruh mentalitas kesukuan dalam perkembangan sejarah Arab.

Meski berbasis penelitian yang cukup mendalam dengan memanfaatkan sumber sejarah klasik dan tradisi lisan, resensi ini juga mencatat beberapa keterbatasan. Di antaranya adalah ketergantungan pada sumber-sumber kuno yang memiliki keterbatasan data, minimnya analisis kritis yang mendalam, serta kurangnya referensi modern.

Meski demikian, buku Suku Quraisy dinilai tetap penting dibaca karena memberikan gambaran detail tentang dinamika sosial dan budaya masyarakat Arab sebelum dan sesudah munculnya Islam.

Bagi pembaca yang tertarik pada sejarah Islam dan peradaban Arab, buku ini dapat menjadi referensi menarik untuk memahami akar sejarah salah satu suku paling berpengaruh dalam perjalanan peradaban Muslim.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap