1447 H
رمضان كريم
Marhaban Ya Ramadan
Semoga bulan suci ini membawa keberkahan, kedamaian, dan ampunan bagi kita semua.
✦ Mari sucikan hati, perbanyak ibadah, dan pererat silaturahmi ✦
Hengki Lumban Toruan
HENGKI LUMBAN TORUAN CEO & Founder Sketsa Indonesia

Dipenjara Uang Itu Manusia Modern

Buku The Uncomfortable Truth About Money karya Paul Podolsky yang mengulas realitas uang dalam kehidupan modern serta pengaruhnya terhadap keputusan, kelas sosial, dan dinamika ekonomi masyarakat.
32.5K pembaca

Yudhie Haryono | Presidium Forum Negarawan

  • Judul asli: The Uncomfortable Truth About Money.
  • Penulis: Paul Podolsky.
  • Penerbit: Penerbit Baca.
  • Tahun: 2025.
  • Genre: Non-Fiksi
  • ISBN: 978-623-8371-44-0.
  • Ukuran: 13x20cm
  • Jumlah halaman: 280+vii.
  • Harga: Rp111.000,-

“Satu-satunya yang bisa membuat orang mabuk kepayang selain cinta adalah uang,” demikian jawaban kekasihku ketika kutanya mengapa ia selingkuh. Ia tegas bilang mabuk pada uang, yang memang tak banyak kumiliki.

Di tengah kepariaan itu, hari-hariku kini sibuk mencari tahu apa itu uang. Mengapa ia begitu sakti. Dan, ketemulah buku ini. Sebuah buku lucu, tipis dan renyah berjudul “The Uncomfortable Truth About Money.”

Gambar

Dengan bahasa yang sederhana dan kisah pribadi yang relatable, Podolsky mengajak kita melihat uang bukan sekadar angka, tetapi sebagai kekuatan yang membentuk keputusan, peluang, dan kehidupan kita. Dari jebakan kelas sosial hingga politik kantor, dari ketidaktahuan hingga kesalahan finansial yang tak terhindarkan, buku ini membongkar semuanya—tanpa basa-basi.

Buku ini membahas bagaimana uang mengambil peran dalam kehidupan, menyoroti fakta menyakitkan tentang keuangan yang sering diabaikan. Uang itu angka, ilusi, nyata, fotamorgana, dan penjara. Keren penulis berhipotesa.

Kisah kehidupan modern kita sesungguhnya 99% adalah uang dan arsitektur ekonomi “tricle up effect.” Kisah berlangsungnya bisnis dan aksiologi “kaum miskin mensubsidi kaum kaya.” Pedih, tapi itu kenyataan tak terelakan.

Pada uang, kita mengumpulkannya dalam percakapan dan tabungan, sampai tak satu hari pun kita benar-benar lepas darinya. Uang menentukan tempat tinggal kita, makanan yang kita makan, bahkan bagaimana kita dilahirkan dan akhirnya dimakamkan. Kita hidup di dalam sangkar uang, tetapi tak tahu cara kerja jerujinya.

Coba simak tesis ini: ekonomnya kebanyakan alumni UI, ITB dan UGM. Tiga kampus terbaik di republik. Tapi, arsitektur ekonominya jualan bakso, bubur kacang ijo dan gado-gado. Ini ekonomnya yang geblek atau warganya yang goblok yah?

Tesis itu sudah lama disetujui oleh Adiaksa Wibowo (2026) sehingga menurutnya, kegagalah mendelet paradok itu akan menghasilkan rangkaian peristiwa besar. Ketika dogma kita lantang bicara kadilan sosial, ternyata yang datang kesenjangan sosial. Tentu ini akan mengakibatkan keresahan sosial. Selanjutnya, jika tak ditangani akan melahirkan kerusuhan sosial. Ujungnya pasti kerakyatan asosial. Satu postulat negara anti pancasila, tentu saja.

Balik ke buku dan uang seperti inti dalam buku yang kubaca. Paul menjelaskan bahwa sifat uang itu menyukai keteraturan dan sering menjauh dari kekacauan. Maksudnya di sini Paul ingin menunjukkan bahwa ketika sisi emosional seseorang cenderung stabil, maka uang akan mudah dan lancar dimiliki. Begitupula sebaliknya.

Pada bab 7 Paul menjelaskan bahwa dana darurat merupakan sarana pelindung dalam menghadapi gangguan keuangan yang mungkin terjadi secara tiba-tiba. Besarannya tidak ditentukan secara pasti. Hal ini adalah hal yang paling tidak disadari dan dikerjakan oleh warga negara Indonesia. Krisis dan kemiskinan membuat warga kita tak cukup dana untuk disimpan, terutama dana darurat.

Karena ditulis oleh mantan eksekutif hedge fund, buku ini menggabungkan wawasan ekonomi praktis dengan pengalaman pribadi, berfokus pada manajemen emosi, kesabaran, dan disiplin dalam mengelola keuangan. Ini kelebihan lainnya dari buku tipis yang kita baca.

Yang jelas, tulisannya memberikan pandangan jujur, tajam, dan tidak menggurui mengenai realitas ekonomi yang sering ribet, menyebalkan sekaligus memenjara. Ya, duit dan uang memang “penjara modern” abad ini.

Akhirnya, dengan buku ini kita menyadari bahwa hidup hari ini sedang di puncak zaman amoral dan feodal karena “uangisme.” Ini zaman yang penuh distraksi, kontradiktoris dan godaan. Hampir semua orang rusak, khianat, dajjal, psikopat dan rakus pada uang dan uang. Bahkan, peradaban kita kini bertumpu dan berputar dari, oleh dan untuk uang.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap