Rupiah Lemah Itu Taktis

oleh
Ilustrasi uang Dollar dan Rupiah
11K pembaca

Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai tidak selalu menjadi pertanda buruk bagi perekonomian nasional. Sejumlah ekonom menilai kondisi tersebut justru dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat industri dalam negeri dan meningkatkan daya saing ekspor nasional.

Pandangan itu disampaikan CEO Nusantara Centre Yudhie Haryono dan Ekonom Universitas MH Thamrin Agus Rizal dalam kajian bertajuk Rupiah Lemah Itu Taktis. Keduanya menilai banyak negara berhasil memanfaatkan pelemahan mata uang sebagai strategi memperkuat sektor manufaktur dan mempercepat industrialisasi.

Menurut mereka, Tiongkok menjadi salah satu contoh negara yang sukses menjaga daya saing ekspor melalui kebijakan nilai tukar. Dengan mempertahankan yuan pada level kompetitif, produk manufaktur Tiongkok mampu mendominasi pasar global dan memperkuat kapasitas industri nasional.

Gambar

“Pelemahan mata uang tidak selalu identik dengan krisis. Banyak negara justru menjadikannya alat strategis untuk memperbesar industri nasional dan menyerap tenaga kerja,” tulis mereka dalam kajian tersebut.

Mereka juga mencontohkan Filipina yang mampu meningkatkan ekspor elektronik dan remitansi ketika peso melemah. Kondisi itu dinilai menunjukkan bahwa mata uang lemah dapat memberikan keuntungan apabila ditopang basis produksi domestik yang kuat.

Namun, kondisi berbeda terjadi di Indonesia. Pelemahan rupiah justru memicu kenaikan biaya produksi karena industri nasional masih bergantung pada bahan baku impor, teknologi luar negeri, hingga energi impor.

Akibatnya, pelemahan rupiah mendorong terjadinya imported inflation atau inflasi impor yang berdampak langsung terhadap harga barang dan biaya hidup masyarakat.

“Indonesia terlalu lama nyaman menjadi pasar konsumsi global dibanding membangun industri nasional secara mendalam,” tulis kajian tersebut.

Mereka mengutip pemikiran ekonom nasional Soemitro Djojohadikusumo yang menilai industrialisasi merupakan jalan menuju kemandirian ekonomi bangsa. Dalam pandangan Soemitro, negara harus hadir sebagai arsitek pembangunan dengan melindungi industri strategis dan memperkuat kapasitas produksi nasional.

Kajian tersebut juga menyoroti kontribusi ekspor UMKM Indonesia yang masih stagnan di kisaran 15,6 persen terhadap total ekspor nasional. Angka itu dinilai menunjukkan lemahnya integrasi UMKM Indonesia dalam rantai perdagangan global.

Menurut Yudhie dan Agus Rizal, Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk menjadi negara industri kuat, mulai dari sumber daya alam melimpah, bonus demografi, hingga pasar domestik yang luas.

Mereka menilai pelemahan rupiah seharusnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan daya saing produk ekspor seperti kopi, kakao, rempah, tekstil, perikanan, hingga produk agroindustri.

Selain itu, mereka menilai dunia saat ini tengah memasuki era baru nasionalisme ekonomi. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan India mulai memperkuat industri domestik melalui kebijakan perlindungan industri dan substitusi impor.

“Pertarungan terbesar Indonesia bukan semata melawan mata uang asing, tetapi melawan ketergantungan ekonomi yang membuat bangsa ini rentan terhadap gejolak global,” tulis mereka.

Mereka menegaskan bahwa penguatan industri nasional, hilirisasi komoditas, dan pembangunan rantai produksi domestik menjadi langkah penting menuju kemandirian ekonomi Indonesia.

Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre)

Agus Rizal (Ekonom Universitas MH Thamrin)

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap