Perhutani Bandung Utara Catat Produktivitas Kopi 1 Ton per Hektare Lewat Ubinan Agroforestri

oleh
Petugas Perhutani KPH Bandung Utara bersama petani kopi melakukan kegiatan ubinan di kawasan agroforestri BKPH Manglayang Barat untuk mengukur potensi hasil panen serta memastikan transparansi pembagian hasil produksi kopi.
9.5K pembaca

Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Utara melaksanakan kegiatan ubinan kopi bersama kelompok penggarap sebagai upaya meningkatkan transparansi pembagian hasil produksi dalam kerja sama pemanfaatan kawasan hutan untuk budidaya kopi di wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Manglayang Barat.

Kegiatan ini dilakukan secara bersama antara Perhutani dan para penggarap guna memastikan pembagian hasil panen berlangsung adil, terbuka, dan sesuai ketentuan yang berlaku.

Program agroforestri kopi tersebut berada di Petak 51 dan 52 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Arcamanik dengan luas areal sekitar 29 hektare. Berdasarkan hasil ubinan, produktivitas rata-rata pada panen perdana diperkirakan mencapai sekitar 1 ton per hektare.

Gambar

Mewakili Administratur KPH Bandung Utara, Kepala Sub Seksi Wisata dan Agroforestri, Irva Herliyanti, menjelaskan bahwa ubinan dilakukan untuk mengestimasi potensi hasil panen kopi musim 2026 sekaligus memastikan keterbukaan dalam mekanisme pembagian hasil.

“Metode ubinan dilakukan dengan mengambil sampel pada beberapa titik lokasi melalui perhitungan jumlah buah kopi per dompol pada setiap pohon dalam luasan 20 x 40 meter. Selain memperkirakan hasil panen, kegiatan ini juga bertujuan menjamin transparansi pembagian hasil sehingga para penggarap memahami hak dan kewajibannya, termasuk kontribusi kepada negara melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP),” ujarnya, Jumat (5/6/2026).

Menurut Irva, pelaksanaan ubinan secara bersama turut meningkatkan kepercayaan petani terhadap hasil perhitungan yang dilakukan.

“Para penggarap dapat melihat langsung proses perhitungan sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Dari beberapa lokasi yang telah dilakukan ubinan, terlihat bahwa tanaman kopi yang dirawat dengan baik mampu menghasilkan produktivitas yang optimal,” katanya.

Ia menambahkan, sejumlah areal agroforestri kopi di kawasan hutan Perhutani kini telah memasuki masa produktif dan menunjukkan prospek ekonomi yang menjanjikan.

“Kopi merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi yang terus diminati pasar. Karena itu, pengembangan agroforestri kopi memiliki peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung kelestarian hutan,” tambahnya.

Sementara itu, perwakilan penggarap dari Mitra Koperasi Rasagalor Desa Mekarmanik, Yadi, mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin antara Perhutani dan masyarakat dalam pengembangan budidaya kopi di kawasan hutan.

“Kami berharap panen kopi tahun ini menghasilkan produksi yang melimpah dan berkualitas sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat Desa Mekarmanik, khususnya para petani kopi,” ujarnya.

Melalui program agroforestri, Perhutani KPH Bandung Utara terus mendorong pengelolaan hutan yang produktif dan berkelanjutan, sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap