Tri Adhianto Ingin Bantargebang Jadi Kawasan Ekonomi Hijau dan Sirkular

oleh
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto bersama jajaran DPRD Kota Bekasi mengikuti pertemuan dengan manajemen Mizuda Group di Provinsi Zhejiang, Tiongkok, guna membahas peluang investasi serta pengembangan kawasan Bantargebang sebagai pusat ekonomi hijau berbasis ekonomi sirkular.
9.3K pembaca

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto bersama jajaran DPRD Kota Bekasi melanjutkan kunjungan kerja ke Provinsi Zhejiang, Tiongkok, dengan mengunjungi Mizuda Group, perusahaan tekstil yang sukses bertransformasi menjadi pelaku industri berbasis ekonomi sirkular melalui pengembangan sektor lingkungan.

Kunjungan tersebut bertujuan mempelajari strategi transformasi industri yang dilakukan Mizuda Group hingga melahirkan Wangneng Environment, salah satu perusahaan pengolah sampah menjadi energi (waste to energy) terbesar di Tiongkok. Perusahaan ini juga akan membangun proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bantargebang, Kota Bekasi.

Tri Adhianto mengatakan, keberhasilan Mizuda menjadi contoh nyata bahwa inovasi mampu menciptakan nilai tambah sekaligus menjawab tantangan lingkungan.

“Yang kami pelajari bukan hanya proses produksinya, tetapi bagaimana Mizuda mampu berinovasi hingga melahirkan Wangneng sebagai perusahaan di bidang lingkungan hidup. Ini membuktikan bahwa inovasi dapat menciptakan nilai ekonomi baru sekaligus menjawab persoalan lingkungan,” ujar Tri.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi referensi penting bagi Pemerintah Kota Bekasi dalam mewujudkan transformasi kawasan Bantargebang menjadi pusat ekonomi hijau berbasis ekonomi sirkular.

Ia menjelaskan, pembangunan PSEL di Bantargebang diharapkan menjadi fondasi bagi tumbuhnya berbagai industri pendukung yang saling terintegrasi dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Selain mempelajari transformasi industri, Pemerintah Kota Bekasi juga menjajaki peluang kerja sama antara Mizuda Group dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Bekasi untuk memperkuat sektor industri kreatif, khususnya fesyen.

Kerja sama tersebut mencakup pengembangan kapasitas desainer muda, peningkatan kualitas produk UMKM, pertukaran pengetahuan, hingga pembukaan akses pasar internasional.

“Kota Bekasi memiliki banyak talenta kreatif yang perlu didukung agar mampu bersaing di pasar global. Kami berharap kolaborasi ini menjadi ruang belajar bagi para desainer dan pelaku UMKM, sekaligus membuka peluang lahirnya produk fesyen asal Bekasi yang berdaya saing internasional,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Tri juga mengundang Mizuda Group untuk mempertimbangkan investasi di Kota Bekasi, khususnya di kawasan Bantargebang.

Ia berharap kawasan tersebut tidak hanya menjadi lokasi pengolahan sampah, tetapi juga berkembang menjadi pusat inovasi lingkungan, kawasan industri hijau, serta pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menciptakan lapangan kerja dan mendorong transfer teknologi.

Menurut Tri, transformasi Bantargebang harus dilakukan secara menyeluruh. Selain pembangunan PSEL, pengembangan kawasan juga diarahkan pada pemanfaatan fly ash dan bottom ash (FABA), investasi baru, pusat inovasi, hingga berkembangnya sektor kreatif dan manufaktur yang mendukung ekonomi sirkular.

“Saya ingin lima hingga sepuluh tahun ke depan, ketika orang mendengar nama Bantargebang, yang terbayang bukan lagi gunungan sampah, melainkan kawasan yang berhasil bertransformasi menjadi pusat inovasi lingkungan, pusat pertumbuhan ekonomi hijau, dan tempat lahirnya berbagai peluang baru bagi masyarakat Kota Bekasi,” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap