Relawan SAR Bagikan Pengalaman Kehilangan Tangan Akibat Gigitan Ular, Dorong Perbaikan Penanganan Medis

oleh
Relawan SAR Basarnas, Erdipriyai, menjalani perawatan intensif di rumah sakit setelah mengalami komplikasi serius akibat gigitan ular berbisa. Pengalaman tersebut menjadi pengingat pentingnya penanganan medis yang cepat dan tepat pada kasus gigitan ular.
29.9K pembaca

Relawan Tim SAR Basarnas, Erdipriyai atau yang akrab disapa Bangor, membagikan pengalaman pribadinya setelah kehilangan tangan akibat gigitan ular berbisa. Kisah tersebut disampaikan sebagai bentuk edukasi sekaligus dorongan agar penanganan kasus gigitan ular di Indonesia terus diperbaiki.

Menurut Erdipriyai, hasil akhir korban gigitan ular tidak hanya ditentukan oleh jenis ular atau banyaknya bisa yang masuk ke dalam tubuh, tetapi juga sangat bergantung pada kecepatan dan ketepatan penanganan medis.

Sebagai relawan yang telah lama aktif memberikan edukasi mengenai gigitan ular, ia mengaku pernah beberapa kali menjadi korban gigitan ular, baik yang tidak berbisa maupun berbisa tinggi. Namun, pengalaman terakhir menjadi titik balik dalam hidupnya.

Ia menceritakan digigit ular hijau berbisa jenis Trimeresurus albolabris. Pada tiga jam pertama setelah kejadian, kondisinya masih relatif stabil dengan pembengkakan yang belum meluas dan belum muncul gejala sistemik berat.

Beberapa jam kemudian, keluarganya mengetahui kondisi tersebut dan membawanya ke rumah sakit. Saat menjalani penanganan medis, ia merasakan nyeri hebat setelah lengannya diimobilisasi dengan ikatan yang menurutnya terlalu kuat. Tak lama kemudian, tangannya berubah kebiruan, kuku menghitam, dan rasa sakit semakin meningkat.

Kondisi tersebut terus memburuk hingga tangan tidak lagi dapat digerakkan. Selanjutnya, ia mengalami sesak napas, penurunan kesadaran, serta gangguan pada denyut jantung yang memerlukan tindakan penyelamatan.

Erdipriyai mengungkapkan bahwa serum antibisa baru diperoleh setelah melewati waktu yang cukup lama. Ketika akhirnya mendapatkannya secara mandiri, kerusakan jaringan telah berkembang menjadi nekrosis.

Setelah dirujuk ke RSUD Welas Asih Bandung dan menjalani pemeriksaan menyeluruh, tim medis memutuskan amputasi sebagai langkah untuk menyelamatkan nyawanya.

Meski kehilangan tangan, Erdipriyai menegaskan bahwa kisahnya bukan ditujukan untuk menyalahkan tenaga kesehatan maupun institusi tertentu. Ia berharap pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi bersama demi meningkatkan sistem penanganan korban gigitan ular.

Menurutnya, beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian antara lain peningkatan edukasi masyarakat, ketersediaan serum antibisa di fasilitas kesehatan, pelatihan tenaga medis, koordinasi lintas disiplin, serta percepatan pengambilan keputusan dalam penanganan pasien.

Ia berharap tidak ada lagi korban yang mengalami kecacatan permanen atau kehilangan nyawa akibat keterlambatan maupun ketidaktepatan penanganan gigitan ular.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap