Refinansialisasi Dinilai Jadi Kunci Mewujudkan Kedaulatan Ekonomi Indonesia

oleh
Poster peluncuran buku Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan dan Simposium Nasional yang menjadi bagian dari rangkaian diskusi mengenai Ekopol Pancasila dan penguatan kedaulatan ekonomi Indonesia.
11.3K pembaca

Gagasan refinansialisasi dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia di tengah tantangan ketergantungan terhadap utang luar negeri dan dinamika sistem keuangan global.

Pandangan tersebut disampaikan Yudhie Haryono dan Ryo Disastro dalam tulisan berjudul Pilihannya Hanya Refinansialisasi (Bagian 3). Artikel ini merupakan bagian dari rangkaian publikasi yang disiapkan dalam rangka peluncuran buku Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan serta pembukaan Kelas Ekopol Pancasila.

Menurut penulis, refinansialisasi merupakan upaya membangun kembali sistem pengelolaan keuangan negara secara menyeluruh, mulai dari pengadaan, pengelolaan, alokasi, hingga penguatan kedaulatan moneter dan fiskal.

Mereka berpendapat bahwa pengelolaan keuangan negara harus diarahkan untuk memperkuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), mengurangi ketimpangan sosial, menekan kemiskinan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam tulisannya, Yudhie dan Ryo menilai uang dalam hubungan internasional tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran dan investasi, tetapi juga dapat menjadi instrumen pengaruh politik maupun ekonomi antarnegara.

Mereka juga menyoroti pentingnya memahami konsep debt trap atau jebakan utang sebagai bagian dari dinamika ekonomi global. Menurut keduanya, pemahaman terhadap sejarah sistem keuangan internasional menjadi bekal penting dalam merumuskan kebijakan ekonomi yang berorientasi pada kepentingan nasional.

Mengutip data Bank Indonesia per April 2026, penulis menyebut posisi utang luar negeri Indonesia mencapai sekitar USD 440 miliar atau sekitar Rp7.784 triliun, dengan rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 29,6 persen.

Melalui tulisan tersebut, mereka menekankan bahwa pembangunan ekonomi nasional perlu diarahkan pada penguatan kapasitas produksi, kemandirian fiskal, stabilitas nilai tukar, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Selain faktor ekonomi, penulis juga menilai kekuatan suatu negara ditentukan oleh kemampuan menjaga kedaulatan melalui penguatan sistem keuangan, pertahanan, serta kualitas kepemimpinan.

Di bagian akhir, Yudhie dan Ryo mengajak seluruh elemen bangsa membangun model pembangunan ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila agar Indonesia memiliki sistem keuangan yang lebih mandiri dan mampu menghadapi tantangan global.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap