Setiap orang pernah menghadapi badai dalam kehidupan. Badai itu dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari sakit, persoalan ekonomi, masalah keluarga, kegagalan dalam pekerjaan hingga kekhawatiran menghadapi masa depan.
Dalam kondisi seperti itu, manusia kerap merasa takut, lelah, bahkan seolah-olah harus menghadapi semuanya seorang diri. Namun, Injil mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya, termasuk ketika kehidupan berada dalam situasi paling sulit.
Pesan tersebut disampaikan Kordianus Gadur, Pembimas Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dalam renungan yang mengajak umat untuk tetap teguh dalam iman ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Dalam bacaan Injil, para murid berada di tengah danau ketika perahu mereka diterjang angin sakal dan ombak besar. Mereka berusaha menghadapi situasi tersebut, tetapi tidak mampu mengendalikan keadaan.
Di tengah kondisi itu, Yesus datang menghampiri para murid dengan berjalan di atas air. Kehadiran Yesus sempat membuat mereka ketakutan. Namun, Yesus berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa Tuhan hadir sekalipun manusia sedang berada dalam keadaan yang penuh ketidakpastian.
Belajar dari Keberanian Petrus
Kisah Petrus yang berusaha berjalan di atas air juga memberikan pelajaran tentang pentingnya mempertahankan iman.
Petrus berani keluar dari perahu dan berjalan menuju Yesus. Selama pandangannya tertuju kepada Yesus, ia mampu melangkah di tengah situasi yang tidak biasa. Namun, ketika perhatiannya beralih kepada angin dan ombak, ketakutan mulai menguasainya hingga ia tenggelam.
Pengalaman Petrus menunjukkan bahwa iman bukan berarti seseorang tidak akan menghadapi persoalan. Iman justru menjadi kekuatan untuk tetap percaya kepada Tuhan ketika menghadapi badai kehidupan.
Karena itu, umat diajak tidak membiarkan rasa takut mengalahkan kepercayaan kepada Tuhan. Setiap persoalan dapat menjadi kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya.
Iman Harus Diwujudkan dalam Kehidupan
Menurut Kordianus, pesan Injil tersebut juga sejalan dengan semangat Asta Protas Kementerian Agama yang mendorong kehidupan beragama yang semakin matang, rukun, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Iman tidak cukup diwujudkan melalui doa dan ibadah. Nilai-nilai agama juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap berintegritas, melayani dengan tulus, peduli kepada kelompok yang lemah, serta ikut membangun kehidupan masyarakat yang adil dan harmonis.
Petrus menjadi contoh bahwa iman membutuhkan keberanian untuk melangkah. Demikian pula umat beragama dituntut untuk menerjemahkan nilai-nilai keimanan menjadi tindakan nyata yang bermanfaat bagi sesama.
“Iman bukan berarti tidak pernah menghadapi badai, melainkan tetap percaya kepada Tuhan di tengah badai,” menjadi pesan utama dalam renungan tersebut.
Doa untuk Indonesia
Dalam momentum menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, umat juga diajak mensyukuri anugerah kemerdekaan yang telah diberikan kepada bangsa Indonesia.
Kordianus berharap Tuhan terus memberkati Indonesia, menjaga persatuan masyarakat dalam keberagaman, serta membimbing umat agar tetap setia kepada Kristus sekaligus mencintai tanah air.
“Semoga Tuhan terus memberkati bangsa ini, mempersatukan seluruh rakyat-Nya dalam keberagaman, dan menjadikan kita pribadi-pribadi yang setia kepada Kristus sekaligus mencintai tanah air. Amin,” pungkasnya.
Kordianus Gadur
Pembina Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTB
Catatan: Informasi ini dikutip dari website resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, Minggu (9/8/2026).






