Prof. Ahmad Tholabi Soroti Transformasi Komunikasi Islam di Era Digital

oleh
Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie saat menjadi pembicara kunci dalam Konferensi Nasional Komunikasi Islam (KNKI) ke-6 yang dirangkaikan dengan AICIMDS 2026 di Jakarta.
8.3K pembaca

Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, menyoroti perubahan komunikasi Islam di tengah perkembangan teknologi digital dan jaringan informasi global.

Hal itu disampaikan Prof. Tholabi saat menjadi pembicara kunci dalam Konferensi Nasional Komunikasi Islam (KNKI) ke-6 yang dirangkaikan dengan International Conference on Islamic Communication and Media Studies (AICIMDS) 2026 di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Konferensi tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi media, serta pengelola program studi komunikasi dan penyiaran Islam dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan mancanegara.

Dalam paparannya, Prof. Tholabi mengatakan komunikasi Islam tidak lagi hanya berlangsung melalui ruang-ruang konvensional. Perkembangan media sosial, platform video, podcast, kecerdasan buatan, dan berbagai teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, membangun identitas, serta berinteraksi.

Menurut dia, perubahan tersebut menuntut komunikasi Islam untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan landasan keilmuan, etika, dan nilai-nilai keislaman.

“Komunikasi Islam masa depan harus melahirkan generasi yang mampu berdialog dengan dunia global tanpa kehilangan jati diri keislamannya,” ujar Prof. Tholabi dalam pidatonya.

Konferensi KNKI VI dan AICIMDS 2026 mengangkat tema “Media, the Contemporary Muslim World, and Digital Network Society: Authority, Identity, and Social Transformation.” Tema tersebut menjadi ruang pembahasan mengenai perubahan otoritas, identitas, dan kehidupan sosial masyarakat Muslim di tengah perkembangan jaringan digital.

Prof. Tholabi menilai kajian komunikasi Islam perlu menggunakan pendekatan lintas disiplin. Selain ilmu dakwah dan komunikasi, kajian tersebut perlu memperhatikan perkembangan media digital, sosiologi, kebijakan teknologi, hingga kecerdasan buatan.

Dorong Kolaborasi Akademik Internasional

Prof. Tholabi juga menekankan pentingnya peran Asosiasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (ASKOPIS) dalam memperkuat ekosistem akademik komunikasi Islam di Indonesia.

Menurutnya, jejaring akademik dapat diarahkan untuk menghasilkan kerja sama konkret, seperti penelitian bersama, publikasi ilmiah, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta pengembangan kerja sama antarperguruan tinggi di tingkat internasional.

Ia berharap konferensi nasional dan internasional tersebut tidak berhenti sebagai forum pertukaran gagasan, tetapi dapat menjadi awal dari kolaborasi akademik yang berkelanjutan.

Kurikulum KPI Perlu Mengikuti Perkembangan Teknologi

Selain kolaborasi riset, Prof. Tholabi mendorong pembaruan kurikulum Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).

Kurikulum KPI dinilai perlu merespons perkembangan kecerdasan buatan, ekonomi kreator, perubahan pola konsumsi media, serta munculnya berbagai bentuk komunikasi digital.

Lulusan KPI, kata dia, perlu memiliki kemampuan komunikasi dan teknologi sekaligus dibekali pemahaman keislaman, kemampuan berpikir kritis, literasi digital, kemampuan riset, serta integritas moral.

Dengan kompetensi tersebut, lulusan KPI diharapkan mampu menjadi komunikator yang adaptif dan bertanggung jawab dalam menghadapi perubahan ekosistem media.

KNKI dan AICIMDS Perkuat Jejaring Keilmuan

KNKI VI dan AICIMDS 2026 juga diisi sejumlah agenda akademik, antara lain workshop penulisan artikel jurnal internasional, forum pengelola jurnal KPI dan dakwah se-Indonesia, serta presentasi makalah dari para peneliti.

Penyelenggaraan konferensi yang melibatkan akademisi dari dalam dan luar negeri tersebut diharapkan dapat memperluas jejaring penelitian sekaligus meningkatkan kualitas publikasi ilmiah di bidang komunikasi Islam.

Forum ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat kajian komunikasi Islam di kawasan Asia Tenggara.

Prof. Tholabi mengajak para akademisi, peneliti, dan praktisi untuk memanfaatkan forum tersebut sebagai ruang membangun kerja sama jangka panjang.

“Melalui kerja sama yang kuat, kita dapat membangun masa depan komunikasi Islam yang lebih inklusif, adaptif, dan berdaya saing global,” ujarnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap