Kesadaran bela negara tidak hanya berkaitan dengan pertahanan militer, tetapi juga mencakup karakter, integritas, kepedulian sosial, dan kemampuan masyarakat menghadapi berbagai ancaman di era digital.
Hal itu disampaikan Danpusterad Letjen TNI Mochamad Syafei Kasno dalam Forum Kebangsaan bertema “Kesadaran Bela Negara Merupakan Pondasi Dasar Menuju Indonesia Emas” di Aula Muhammad Toda Kodiklatad, Bandung, Kamis (13/8/2026).
Forum tersebut merupakan bagian dari Program Unggulan Kasad Jenderal TNI Maruli Simanjuntak dan diikuti 526 peserta dari berbagai unsur masyarakat. Peserta antara lain berasal dari kalangan tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, organisasi masyarakat, mahasiswa, dan pelajar.
Dalam forum itu, Danpusterad menekankan pentingnya persatuan sebagai modal utama menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurutnya, perubahan lingkungan strategis membuat bentuk ancaman terhadap negara semakin beragam.
“Bela negara bukan hanya tugas TNI, tetapi hak dan kewajiban seluruh warga negara,” tegas Letjen TNI Mochamad Syafei Kasno.
Ia mengatakan ancaman terhadap bangsa saat ini tidak hanya berbentuk militer. Ancaman juga dapat muncul melalui ruang digital, ideologi, ekonomi, sosial, budaya, serta penyebaran informasi yang tidak terkendali.
Karena itu, menurut Syafei, semangat bela negara harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bentuknya antara lain menjaga integritas, menerapkan etika dalam menggunakan media digital, meningkatkan kreativitas, memperkuat kepedulian sosial, membangun semangat gotong royong, dan menjaga identitas kebangsaan.
“Bela negara harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui integritas, etika digital, kreativitas, kepedulian sosial, semangat gotong royong, serta kebanggaan terhadap identitas bangsa,” ujarnya.
Keberagaman Jadi Kekuatan Bangsa
Danpusterad juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan sosial dan budaya yang sangat besar. Keberagaman suku, bahasa, agama, serta tradisi merupakan kekuatan yang harus dijaga melalui semangat persatuan dan nasionalisme.
Ia menilai generasi muda menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Beberapa di antaranya adalah pemahaman nasionalisme yang masih bersifat simbolik, kesadaran bela negara yang belum merata, meningkatnya individualisme, rendahnya literasi sejarah, serta masuknya berbagai pengaruh ideologi transnasional melalui ruang digital.
Dalam konteks tersebut, generasi muda dinilai memiliki posisi penting karena akan menentukan arah Indonesia pada masa mendatang.
“Generasi muda adalah penentu masa depan Indonesia. Kesadaran bela negara bukan hanya tentang senjata dan seragam, tetapi tentang karakter, integritas, kepedulian, dan pengabdian kepada bangsa,” kata Syafei.
Perkuat Persatuan Menuju Indonesia Emas 2045
Melalui Forum Kebangsaan, Danpusterad mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat wawasan kebangsaan dan membangun kesadaran bersama untuk menjaga keutuhan NKRI.
Ia berharap forum tersebut dapat menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus memperkuat komitmen masyarakat dalam menjaga persatuan, meningkatkan kecintaan terhadap tanah air, dan membentuk generasi yang memiliki karakter serta semangat pengabdian.
Menurutnya, persatuan dan karakter bangsa yang kuat menjadi modal penting bagi Indonesia dalam menghadapi perubahan global dan mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.
Dengan kesadaran bela negara yang tidak hanya bersifat simbolik, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat diharapkan mampu ikut menjaga ketahanan bangsa di tengah perubahan zaman.









