Kisah Abu Dzar Al-Ghifari, Sahabat Nabi yang Berani Mengkritik Penguasa

oleh
Ilustrasi Abu Dzar Al-Ghifari, sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal karena kesederhanaan, kejujuran, dan keberaniannya dalam menyuarakan keadilan. (Sumber: agama.go.id)
11.7K pembaca

Abu Dzar Al-Ghifari merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal karena keberanian, kejujuran, kesederhanaan, dan keteguhannya dalam menyuarakan kebenaran.

Nama lengkapnya Jundab bin Junadah bin Sakan Al-Ghifari. Julukan Al-Ghifari merujuk pada suku Ghifar, tempat ia berasal. Dari lingkungan tersebut, Abu Dzar kemudian menempuh perjalanan spiritual hingga menjadi salah satu sahabat yang dikenal dekat dengan Rasulullah SAW.

Sejak memeluk Islam, Abu Dzar dikenal memiliki keteguhan dalam mengikuti ajaran Rasulullah. Kesetiaan tersebut tercermin dalam gaya hidupnya yang sederhana dan keberaniannya mempertahankan prinsip meskipun menghadapi tekanan.

Berani Mengkritik Penguasa

Salah satu sisi yang paling menonjol dari Abu Dzar adalah keberaniannya menyampaikan kritik ketika melihat ketidakadilan.

Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan RA, Abu Dzar menyoroti kehidupan sebagian pejabat yang dinilainya mulai berlebihan dalam menggunakan kekayaan. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan merupakan amanah dan harta umat harus digunakan untuk kepentingan masyarakat.

Sikap tersebut semakin terlihat ketika Abu Dzar berada di Syam. Di wilayah itu, ia menyaksikan adanya kelompok yang menikmati kekayaan dan berbagai keistimewaan di tengah masyarakat.

Abu Dzar kemudian menyampaikan kritik terhadap praktik penumpukan harta. Baginya, kekayaan tidak seharusnya hanya beredar di kalangan tertentu, sementara masyarakat miskin masih mengalami kesulitan.

Kritik tersebut akhirnya membuat hubungannya dengan penguasa setempat, Muawiyah bin Abi Sufyan, menjadi tegang.

Abu Dzar tetap menyampaikan pandangannya secara terbuka. Ia mengingatkan para pemilik kekayaan agar tidak melupakan kewajiban sosial terhadap kaum dhuafa dan tidak berlebihan dalam menumpuk harta.

Mengingatkan Bahaya Menimbun Harta

Ketika berada di Madinah, Abu Dzar kembali menyuarakan pandangannya mengenai persoalan kekayaan.

Ia mengingatkan tentang ancaman bagi orang yang menumpuk emas dan perak tanpa menunaikan kewajiban di jalan Allah. Salah satu landasan yang ia sampaikan adalah firman Allah dalam QS At-Taubah ayat 34.

“Orang-orang yang menyimpan emas dan perak, tetapi tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapat azab yang pedih.”

Bagi Abu Dzar, ayat tersebut menjadi pengingat agar kekayaan tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, tetapi juga memberikan manfaat kepada masyarakat yang membutuhkan.

Sikapnya yang keras dalam menyampaikan kritik membuat pengaruhnya di tengah masyarakat menjadi perhatian penguasa. Berbagai upaya dilakukan untuk meredam ketegangan, termasuk mempertemukannya dengan sejumlah ahli agama.

Namun, Abu Dzar tetap mempertahankan prinsip yang diyakininya.

Menolak Kemewahan

Abu Dzar juga dikenal sebagai pribadi yang tidak menjadikan kemewahan sebagai tujuan hidup.

Ketika ditawari fasilitas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia memilih tetap menjalani kehidupan sederhana. Baginya, kekayaan dan fasilitas duniawi bukan ukuran kemuliaan seseorang.

Sikap tersebut menjadi salah satu karakter kuat Abu Dzar. Ia tidak hanya berbicara tentang kesederhanaan, tetapi juga berusaha menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.

Keteguhannya juga terlihat dalam kritik terhadap pembangunan fasilitas mewah yang dikaitkan dengan kekuasaan. Abu Dzar mempertanyakan sumber pembiayaan pembangunan tersebut.

Jika menggunakan harta negara, menurut pandangannya, penggunaannya harus dipertanggungjawabkan. Sementara jika menggunakan harta pribadi secara berlebihan, ia menganggapnya sebagai bentuk pemborosan.

Teladan Keberanian Moral

Kisah Abu Dzar Al-Ghifari memberikan pelajaran mengenai pentingnya keberanian moral dalam kehidupan.

Ia menunjukkan bahwa menyampaikan kritik kepada penguasa bukan semata-mata persoalan keberanian berbicara, tetapi juga harus dilandasi kepedulian terhadap masyarakat, kejujuran, dan prinsip keadilan.

Abu Dzar tidak memilih sikap yang berubah-ubah ketika menghadapi tekanan. Ia tetap mempertahankan pandangannya tentang kesederhanaan, kepedulian terhadap kaum miskin, dan amanah dalam mengelola kekuasaan.

Karena itu, kisahnya terus dikenang sebagai salah satu teladan dalam sejarah Islam tentang keberanian menyuarakan kebenaran.

Dalam konteks kehidupan saat ini, keteladanan Abu Dzar dapat dimaknai sebagai dorongan agar setiap orang berani menjaga integritas, tidak menyalahgunakan amanah, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan.

Kekuasaan, jabatan, dan kekayaan pada akhirnya bukan sekadar hak untuk dinikmati, tetapi juga amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Catatan: Informasi ini dikutip dari website resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, Kamis (20/8/2026).

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap