Kasih Kristus Harus Nyata dalam Kehidupan

oleh
Pdt. Ramzes Chresterio Ayawaila, M.Th., Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Protestan Indonesia di Gorontalo, menyampaikan renungan tentang kasih Kristus dan pentingnya mewujudkan kasih dalam kehidupan sehari-hari. (Sumber: kemenag.go.id)
18.9K pembaca

Kasih Kristus tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus diwujudkan melalui kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut menjadi inti renungan Pdt. Ramzes Chresterio Ayawaila, M.Th., Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Protestan Indonesia di Gorontalo.

Mengacu pada Yohanes 13:34, Yesus memberikan perintah agar para pengikut-Nya saling mengasihi sebagaimana Kristus telah mengasihi mereka. Pesan itu disampaikan Yesus menjelang penderitaan dan penyaliban-Nya.

Menurut Ramzes, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kasih Kristus bukan kasih yang hanya hadir ketika kehidupan berjalan baik. Kasih tersebut tetap bertahan ketika manusia menghadapi persoalan dan penderitaan.

Kasih Kristus Menjadi Dasar untuk Mengasihi Sesama

Manusia terlebih dahulu menerima kasih Tuhan sebelum dipanggil untuk mengasihi orang lain. Kasih tersebut tidak diberikan karena manusia sempurna, melainkan karena Tuhan memilih untuk mengasihi.

Kesadaran atas kasih Tuhan menjadi dasar bagi umat untuk menjadi saluran kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

Kasih juga mengajarkan umat untuk menerima perbedaan. Keberagaman suku, budaya, karakter, pendidikan, pekerjaan, hingga cara berpikir tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling bermusuhan.

Perbedaan justru dapat menjadi ruang untuk membangun persaudaraan dan saling menghargai.

Gereja Dipanggil Menjadi Rumah Kasih

Kasih Kristus juga harus terlihat dalam kehidupan gereja. Gereja tidak cukup hanya menyampaikan ajaran tentang kasih, tetapi harus menjadi tempat di mana kasih benar-benar dirasakan.

Perbedaan pendapat tidak seharusnya membuat umat saling menjauh. Pelayanan juga tidak semestinya menjadi ruang untuk mencari siapa yang paling penting.

Gereja dipandang sebagai rumah bersama untuk belajar menerima, mengampuni, menolong, dan berjalan bersama.

Gereja yang kuat bukan berarti gereja yang tidak pernah menghadapi persoalan. Sebaliknya, kekuatan gereja terlihat ketika umat tetap memilih kasih saat menghadapi perbedaan dan masalah.

Kasih Harus Dibawa ke Tengah Masyarakat

Kasih Kristus tidak berhenti setelah ibadah selesai. Umat kembali ke keluarga, tempat kerja, lingkungan, dan masyarakat. Di ruang-ruang itulah iman perlu diwujudkan dalam tindakan nyata.

Ketika terjadi perbedaan, umat diajak untuk menghormati. Saat muncul perselisihan, umat diharapkan menjadi penyejuk. Sementara ketika ada orang yang membutuhkan pertolongan, umat dipanggil untuk hadir dan membantu.

Kasih Kristus tidak membangun tembok pemisah, tetapi menjadi jembatan yang memperkuat persaudaraan.

Kasih Dimulai dari Hal Sederhana

Menurut pesan renungan tersebut, kasih tidak selalu diwujudkan melalui tindakan besar. Kasih dapat dimulai dari hal sederhana, seperti menyapa, mendengarkan, membantu orang lain, mengucapkan kata-kata yang menenangkan, meminta maaf, dan belajar mengampuni.

Satu sapaan dapat memberikan kekuatan. Satu senyuman dapat menghibur, sedangkan sebuah pertolongan dapat menumbuhkan harapan.

Karena itu, umat diajak untuk memulai kasih dari diri sendiri, keluarga, saudara seiman, tetangga, hingga masyarakat yang memiliki perbedaan latar belakang.

Pesan tersebut menegaskan bahwa kehidupan umat Kristen seharusnya menghadirkan kedamaian dan menjadi berkat bagi lingkungan sekitar.

Sebagaimana pesan Yesus dalam Yohanes 13:35, orang lain dapat mengenali murid-murid-Nya melalui kasih yang mereka tunjukkan.

Pdt. Ramzes Chresterio Ayawaila, M.Th. merupakan Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Protestan Indonesia di Gorontalo.

Catatan: Informasi ini dikutip dari situs resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, Minggu (13/9/2026).

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap