Mengajar adalah Seni, Guru Harus Terus Belajar

oleh
Ilustrasi Ibu guru dalam proses pembelajaran di ruang kelas yang menggambarkan pentingnya kreativitas, interaksi, dan pendekatan yang adaptif dalam pendidikan. (Sumber: kemenag.go.id)
11.5K pembaca

Mengajar bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid. Proses tersebut juga membutuhkan seni dalam membaca situasi, memahami karakter peserta didik, memilih strategi, membangun suasana, dan menciptakan pengalaman belajar yang mendorong murid untuk terlibat aktif.

Dua guru dapat menyampaikan materi yang sama dengan menggunakan buku yang sama, tetapi menghasilkan pengalaman belajar yang berbeda. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan mengajar tidak hanya bergantung pada penguasaan materi, tetapi juga pada kemampuan guru memahami manusia yang dihadapinya.

Pandangan bahwa mengajar merupakan sebuah seni antara lain dikemukakan Gilbert Highet dalam bukunya The Art of Teaching yang terbit pada 1950. Menurut pemikiran tersebut, proses mengajar tidak dapat dilakukan hanya dengan menerapkan metode atau prosedur secara mekanis karena setiap murid memiliki karakter, pengalaman, kebutuhan, dan perasaan yang berbeda.

Karena itu, guru membutuhkan kreativitas, empati, intuisi, pengalaman, dan kemampuan beradaptasi dalam menghadapi berbagai situasi pembelajaran.

Guru Perlu Memahami Keragaman Murid

Tantangan pembelajaran semakin kompleks karena murid dalam satu kelas tidak pernah benar-benar seragam. Mereka memiliki tingkat kesiapan, kemampuan awal, minat, latar belakang keluarga, pengalaman, karakter, dan kepercayaan diri yang berbeda.

Ada murid yang cepat memahami penjelasan, tetapi ada pula yang membutuhkan penjelasan lebih rinci dan contoh konkret. Sebagian murid berani menyampaikan pendapat, sementara yang lain sebenarnya memahami materi tetapi memilih diam karena kurang percaya diri.

Kondisi tersebut menuntut guru memberikan pendekatan yang lebih humanis. Konsep differentiated instruction yang dikembangkan Carol Ann Tomlinson, misalnya, menekankan pentingnya mempertimbangkan kesiapan, minat, dan karakteristik belajar murid.

Pembelajaran berdiferensiasi bukan berarti guru harus membuat model pembelajaran yang berbeda untuk setiap murid. Intinya adalah menyediakan pendekatan yang cukup fleksibel sehingga lebih banyak murid dapat mencapai tujuan pembelajaran.

Menguasai Materi Saja Tidak Cukup

Guru yang menguasai materi belum tentu otomatis mampu menyampaikannya dengan baik. Konsep Pedagogical Content Knowledge yang diperkenalkan Lee Shulman menekankan pentingnya menggabungkan penguasaan materi dengan pengetahuan tentang cara menyampaikan materi agar mudah dipahami murid.

Dalam pembelajaran matematika, misalnya, guru tidak cukup hanya memahami rumus. Guru juga perlu mengetahui bagian mana yang sering membuat murid kesulitan, contoh apa yang paling mudah dipahami, serta kapan harus menjelaskan, bertanya, memberikan demonstrasi, atau membiarkan murid menemukan jawaban sendiri.

Karena itu, guru perlu terus memperbarui kompetensinya, bukan hanya dalam bidang studi, tetapi juga dalam aspek pedagogi dan metodologi pembelajaran.

Metode yang efektif beberapa tahun lalu belum tentu menghasilkan dampak yang sama bagi murid saat ini. Perubahan teknologi, lingkungan informasi, pola komunikasi, dan cara anak memperoleh pengetahuan turut mengubah kebutuhan pembelajaran.

Peran Guru Berubah di Era Teknologi dan AI

Jika dahulu guru dan buku menjadi sumber informasi utama, kini murid dapat memperoleh pengetahuan melalui mesin pencari, video pembelajaran, simulasi digital, platform daring, hingga kecerdasan artifisial (AI).

Perubahan tersebut tidak membuat peran guru menjadi kurang penting. Sebaliknya, peran guru berkembang menjadi perancang, kurator, fasilitator, sekaligus pendamping proses belajar.

Teknologi dan AI dapat membantu guru membuat variasi latihan, menyusun pertanyaan, mencari alternatif contoh, serta menyesuaikan bahan pembelajaran. Namun, keputusan pedagogis tetap membutuhkan pertimbangan manusia.

Teknologi seharusnya memperkaya proses pembelajaran, bukan menggantikan peran guru dalam membangun karakter, kemampuan berpikir, dan nilai-nilai kemanusiaan peserta didik.

Kelas yang Hidup Membutuhkan Variasi

Pembelajaran dengan pola yang sama setiap hari berisiko membuat murid kehilangan minat. Aktivitas seperti membuka buku, mendengarkan penjelasan, mencatat, mengerjakan soal, lalu pulang memang dapat berjalan secara rutin, tetapi belum tentu mampu menciptakan keterlibatan optimal.

Karena itu, guru perlu menghadirkan variasi dalam proses pembelajaran. Materi dapat diawali dengan persoalan nyata, gambar, berita, video pendek, demonstrasi, permainan, pengalaman murid, atau pertanyaan yang mendorong mereka berpikir.

Murid juga dapat dilibatkan dalam kerja kelompok, proyek, eksperimen, observasi, presentasi, debat, hingga pemecahan masalah.

Namun, pembelajaran yang menarik bukan berarti sekadar membuat kelas ramai. Ukuran keberhasilannya tetap terletak pada seberapa jauh murid terlibat dalam proses berpikir dan mencapai tujuan pembelajaran.

Guru Perlu Memahami Sebelum Menuntut

Pemahaman terhadap kondisi murid juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Teori Self-Determination Theory dari Edward Deci dan Richard Ryan menekankan tiga kebutuhan psikologis, yaitu otonomi, kompetensi, dan keterhubungan.

Ketika seorang murid terlihat pasif, guru sebaiknya tidak terburu-buru memberikan label malas. Ada kemungkinan murid belum memahami materi, takut melakukan kesalahan, menghadapi persoalan keluarga, atau belum memiliki kemampuan awal yang cukup untuk mengikuti pembelajaran.

Di sinilah guru adaptif diperlukan. Guru perlu mencari tahu apa yang menjadi hambatan sebelum menentukan tindakan.

Konsep scaffolding yang berkembang dari pemikiran Vygotsky juga relevan. Guru memberikan bantuan ketika murid membutuhkannya, kemudian secara bertahap mengurangi bantuan tersebut ketika kemampuan murid meningkat.

Tujuan akhirnya bukan membuat murid terus bergantung kepada guru, melainkan membantu mereka mencapai kemandirian dalam belajar.

Sumber Belajar Semakin Luas

Era pembelajaran baru juga memperluas pengertian mengenai sumber belajar. Buku bukan satu-satunya sumber pengetahuan. Lingkungan, museum, pasar, tempat ibadah, alam, pelaku usaha, praktisi, data publik, media, laboratorium, jurnal, video, dan teknologi digital dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran.

Tantangannya bukan lagi sekadar mencari informasi, tetapi memastikan sumber tersebut benar, aman, relevan, dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Dalam konteks ini, guru memiliki peran penting sebagai kurator. Guru perlu membantu murid memilah informasi sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis agar tidak menerima setiap informasi secara mentah.

Guru Pembelajar Melahirkan Murid Pembelajar

Guru merupakan profesi yang terus berkembang sehingga membutuhkan proses belajar berkelanjutan. Guru yang adaptif tidak menganggap metode mengajarnya sudah selesai.

Refleksi menjadi bagian penting untuk mengetahui apa yang berhasil, murid mana yang belum terlayani, alasan murid kurang terlibat, serta apa yang perlu diperbaiki dalam pembelajaran berikutnya.

Mengajar memang merupakan seni. Namun, seni mengajar bukan sekadar bakat atau intuisi. Kemampuan tersebut dibangun melalui ilmu, pengalaman, refleksi, kreativitas, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.

Pada akhirnya, sulit mengajak murid mencintai proses belajar apabila gurunya sendiri berhenti belajar.

Guru yang baik tidak harus selalu memiliki semua jawaban. Yang lebih penting adalah kemampuan membaca keragaman murid, membangun rasa ingin tahu, menyediakan berbagai jalan untuk belajar, serta mendorong murid berani berpikir, bertanya, mencoba, menemukan, dan belajar secara mandiri.

Dr. Hj. Siti Aminah, M.A.

(Widyaiswara pada Balai Diklat Keagamaan Semarang)

Catatan: Informasi ini dikutip dari situs resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, Jumat (18/9/26).

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap