Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya mendorong penguatan literasi sebagai bagian penting dalam pembinaan warga binaan di lembaga pemasyarakatan (lapas).
Menurut Willy, literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga dapat menjadi dasar edukasi mengenai kesehatan, kebersihan, pola hidup sehat, hingga hubungan sosial di lingkungan lapas.
Hal itu disampaikan Willy saat memimpin Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XIII DPR RI ke Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Jawa Barat, Jumat (25/9/2026).
“Jadi basisnya adalah sejauh apa kita menjadikan literasi sebagai jangkar utama dari relasi sosial hidup di dalam ruang yang bernama lapas ini,” kata Willy.
Regulasi Pemasyarakatan Berbasis Data
Willy mengatakan Komisi XIII DPR RI sedang mendorong penyusunan regulasi pemasyarakatan yang berbasis data dan kajian ilmiah. Dalam proses tersebut, Komisi XIII telah melibatkan sejumlah pakar.
“Kami sudah tiga kali mengundang pakar, melibatkan pakar, ingin membangun regulasi yang saintifik, berbasiskan data,” ujarnya.
Menurut Willy, pendekatan berbasis pengetahuan diperlukan agar kebijakan pemasyarakatan dapat menjawab persoalan yang terjadi di lapangan.
Ia juga menilai kehidupan warga binaan dengan intensitas interaksi yang tinggi membutuhkan pengelolaan yang tepat, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan dasar dan aspek privat.
Salah satu hal yang turut dibahas adalah keberadaan bilik keluarga sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan warga binaan.
“Maka kemudian salah satunya, bilik keluarga itu menjadi satu kebutuhan. Itu konsepnya bukan pemenjaraan kok, konsepnya adalah warga binaan di dalam lembaga pemasyarakatan,” jelas Willy.
Lapas Didorong Jadi Ruang Pembinaan
Willy menilai paradigma pemasyarakatan perlu terus dikembangkan agar lapas tidak hanya dipandang sebagai tempat menjalani hukuman.
Menurutnya, lapas seharusnya menjadi ruang hidup dan ruang tumbuh yang mendukung proses pembinaan serta mempersiapkan warga binaan kembali ke tengah masyarakat.
“Kita sudah mengandung konsep namanya pemasyarakatan, yang menjadi ruang hidup, ruang tumbuh yang kemudian memanusiakan secara normal kembali. Itu yang menjadi baseline,” tuturnya.
Kesehatan Lebih Utamakan Pencegahan
Dalam aspek kesehatan, Willy menekankan pentingnya langkah preventif. Ia menilai tenaga kesehatan di lapas tidak cukup hanya memberikan pengobatan ketika warga binaan sakit.
Edukasi kesehatan, kata dia, perlu dilakukan secara aktif agar warga binaan memahami cara menjaga kesehatan dan mencegah penyakit.
“Saya melihat konteks utama saya tadi ajak dialog dokternya, yang penting adalah lebih baik mencegah daripada mengobati,” katanya.
Karena itu, Willy mendorong tenaga kesehatan membuat materi edukasi yang mudah dipahami. Materi tersebut dapat membahas pola hidup sehat, kebersihan, olahraga, serta pengetahuan dasar mengenai berbagai penyakit.
“Maka di sanalah poin literasi. Lebih penting dokter bertugas bukan menyembuhkan orang atau mengobati orang, tapi dokternya proaktif dengan apa? Membuat konten-konten terkait dengan bagaimana kemudian hidup sehat, bagaimana ketika ada penyakit ini, bagaimana kemudian edukasi literasi tentang hal-hal yang sederhana,” paparnya.
Willy menegaskan keberadaan klinik tetap diperlukan untuk menangani warga binaan yang mengalami gangguan kesehatan. Namun, ia menilai pembentukan kebiasaan hidup sehat melalui edukasi dan literasi juga perlu menjadi perhatian.
“Jadi itu in case saja, klinik itu in case saja. Tapi kita hidup sehatnya yang lebih penting,” pungkas Willy.
Dengan pendekatan tersebut, Komisi XIII DPR RI mendorong sistem pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga memperkuat pembinaan, kesehatan, literasi, dan kesiapan warga binaan untuk kembali ke masyarakat.
Sumber: dpr.go.id
Informasi ini dikutip dari situs resmi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Senin (28/9/2026).






