Kehidupan yang semakin cepat membuat banyak orang harus membagi perhatian antara pekerjaan, keluarga, kesehatan, kebutuhan ekonomi, dan berbagai tanggung jawab lainnya. Kesibukan bukan sesuatu yang salah, tetapi dapat menjadi persoalan ketika membuat seseorang lupa kepada Tuhan.
Pesan tersebut menjadi salah satu inti renungan yang disampaikan Joula P. Makarawung, Pembimbing Masyarakat Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Utara.
Dalam renungan tersebut, kisah perumpamaan tentang penggarap kebun anggur mengajak umat untuk melihat kembali bagaimana kehidupan yang dipercayakan Tuhan dijalani.
Kebun anggur dalam perumpamaan itu dapat dimaknai sebagai gambaran kehidupan manusia. Keluarga, pekerjaan, kesehatan, talenta, dan iman merupakan karunia yang dipercayakan Tuhan untuk dikelola dengan baik dan menghasilkan buah.
Manusia terkadang mudah merasa bahwa keberhasilan sepenuhnya merupakan hasil usaha sendiri. Perasaan tersebut dapat membuat Tuhan perlahan ditempatkan hanya sebagai pelengkap ketika manusia menghadapi kesulitan.
Padahal, Tuhan dapat menyampaikan kehendak-Nya melalui berbagai cara. Sabda Tuhan, nasihat orang tua, pasangan, sahabat, maupun anak-anak dapat menjadi sarana untuk mengingatkan manusia. Bahkan kegagalan, penyakit, dan berbagai pengalaman sulit dapat menjadi kesempatan untuk belajar rendah hati dan menyadari bahwa kehidupan memiliki keterbatasan.
Tuhan Menghendaki Buah Kehidupan
Renungan tersebut mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan di hadapan Tuhan tidak semata-mata berupa pencapaian duniawi.
Kejujuran, kepedulian, pengampunan, kesetiaan, dan kasih kepada sesama merupakan buah kehidupan yang memiliki nilai penting dalam iman Kristiani.
Perumpamaan tentang batu yang dibuang oleh tukang bangunan dan kemudian menjadi batu penjuru juga mengarah kepada Yesus Kristus. Ia mengalami penolakan, penghinaan, hingga wafat di kayu salib.
Namun, salib yang secara manusiawi terlihat sebagai penderitaan dan kekalahan justru menjadi bagian dari karya keselamatan Allah bagi manusia.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kegagalan, penderitaan, dan kekecewaan tidak selalu menjadi akhir dari perjalanan hidup. Pengalaman sulit dapat menjadi ruang bagi manusia untuk bertumbuh dalam iman dan menemukan kebaikan yang dikehendaki Tuhan.
Karena itu, umat diajak untuk tidak membiarkan kesibukan menghilangkan hubungan dengan Tuhan. Kehidupan yang dipercayakan harus dijalani dengan tanggung jawab dan menghasilkan buah yang baik bagi sesama.
Pada akhirnya, manusia diharapkan mampu menjaga iman, kesetiaan, kasih, kejujuran, pengampunan, dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga ketika Tuhan melihat “kebun anggur” kehidupan setiap orang, Ia menemukan hati yang setia, iman yang tetap hidup, serta buah kasih dan kepedulian yang berlimpah.
Joula P. Makarawung
Pembimbing Masyarakat Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Utara
Sumber: kemenag.go.id
Catatan: Informasi ini dikutip dari situs resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, Minggu (4/10/2026).






