Home / Artikel / Penanaman Pohon Site Pile Kali Item Sentiong Kemayoran, Sudin Pertamanan Tak Siap

Penanaman Pohon Site Pile Kali Item Sentiong Kemayoran, Sudin Pertamanan Tak Siap

Jakarta, sketsindonews – Penanaman pohon sepanjang sitepile kali item Sentiong yang meliputi Kelurahan Harapan Mulia dan Kelurahan Utan Panjang Kecamatan Kemayoran Jakarta Pusat oleh warga masyarakat sekitar hanya merupakan kewajiban Sudin Pertamanan dan Kehutanan dalam menata kawasan itu untuk tidak sungguh.

Hal ini disampaikan warga Utan Panjang Rahmat (35), pasalnya area penataan itu tidak seluruhnya di jadikan penataan hanya pada titik tertentu, ujarnya.

penaman pohon site pile kali sentiong

“Masa penanaman pohon itu hanya dibuat dari LPS Gembreng hanya pada pada jembatan Mada saja dan sudah terhenti di titik RW 08. 09 sementara kawasan RW 010 tidak tersentuh, pada perhelatan kemaren, Minggu (5/11). tandasnya

Kami jelas menghitung pohon itu hanya 60 batang sehingga banyak RT – RW yang complain terhadap distribusi pohon yang di tanam tak Memenuhi quota lahan sepangang site pile Kali Item Sentiong, tambah Rahmat.

Jelas warga kecewa dengan kerja Sudin Pertmananan dan Kehutanan Jakarta Pusat padahal kami sudah kerahkan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalan acara penanaman pohon.

Sementara informasi yang didapat sketsindonews. com pihak kedua pemerintah Kelurahan Harapan Mulia dan Kelurahan Utan Panjang sangat kecewa karena dianggap pihak kelurahan tak siap dalam mendorong gerakan aktif peran warga dalam ikut menata kawasan pinggiran kali item Sentiong menjadi lebih tertata. (6/11)

Walupun diketahui pihak Sudin Pertamanan telah memberikan pohon tambahan sebanyak 25 batang, tapi warga sepertinya telah kecewa dari pola kerjanya yang tak dipikirkan secara masak dalam proses perhelatan penanaman pohon sepanjang kali.

Sebelumnya pihak Kepala Sudin Pertamanan dan Pemakaman Sabdo Kurnianto ketika dihubungi saat ini hingga berita diturunkan via celluair tidak bisa memberikan komentarnya dalam pelaksanaan penataan pohon Kali Item Sentiong.

reporter : nanorame

 

 

Check Also

Ajarkan Kami Mr President Jokowi Tentang Apa Itu Kebajikan …

Tana Toraja, sketsindonews – Dalam tulisan ini bukan kampaye, namun untuk bagaimana kita belajar apa itu kebajikan untuk para sahabat, tukas penulis.Tana Toraja, Medio Sept’ 2018
R. D. Yans Sulo Paganna’.
(Penulis: Toraya Tondokku Nusantara Negeriku)

Anda jangan memberiku predikat “kampanye” guys, ketika aku menyorot nama seorang Jokowidodo.

Karena mamang aku sedang tidak untuk kampanye untuk dirinya, Tetapi aku hanya ingin belajar daripadanya bagaimana hidup bersama.

Bukan pula saya belajar membangun puluhan ribu kilo meter jalan raya dari Sabang sampai Merauke. Bukan pula belajar membangun bandara dan sumber energy.

Bukan belajar bagaimana menjadikan bangsa ini pemilik tambang emas di Papua yang berpuluh-puluh tahun dibungkus oleh bangsa asing dengan nama tambang “tembaga”.

Bukan belajar bagaimana menyamakan harga bensin yang sama dari Sabang sampai Merauke.

Bukan pula belajar bagaimana membangun rel kereta api dan atau membangun bendungan dan pasar tradisional yang membantu rakyat negeri ini merai kesejahteraannya.

Aku hanya ingin berguru kebajikan daripadanya. Iya, berguru kebajikan dan kebijaksanaan dari seorang manusia langka yang terlahir di negeri ini.

Aku ingin belajar melihat manusia sebagai mahluk yang luhur dan mulia.
Aku ingin belajar memberikan hak kepada yang memiliki hak dan belajar menuntut kewajiban bagi mereka yang memiliki kewajiban.

Aku ingin belajar bagaimana keluar dari zona aman, dengan menjadikan diri sebagai rahmat bagi sesama.
Belajar menahan godaan nafsu kekayaan di tengah zaman keserakahan.

Belajar ugahari di tengah negeri yang berlimpah susu dan madunya.
Serta aku ingin belajar bagaimana menjadi manusia yang beriman, jujur, bersih, rendah hati, dan kesatria, sebagaimana yang diajarkan oleh leluhur kami manusia Toraja sendiri:

“Lobo’ko ammu kasalle, manarangko ammu kinaya, bidako ammu barani. Langngan-langngan oi sangbara’mu membulean pole’ oko. Ammu tang disirantean, tenko to pasareongan”.

Jokowi, sebuah nama yang lagi menjadi perbincangan seantero dunia. Nama yang seolah-olah mengakar dalam kedamaian di hati rakyat negeri ini.

Nama yang tidak angker dan sekeramat nama-nama para penguasa yang lain di muka bumi, namun karya-karyanya mewarnai seluruh sudut nusantara. Namun aku tidak ingin berguru soal nama, pun pula tidak soal karya-karyanya.

Tetapi aku ingin berguru daripadanya soal kebajikan dan kebijaksanaannya.
Ia dicacimaki namun tidak merasa sakit.

Dihina namun tidak merasa hina dan marah. Difitnah namun tetap tersenyum.
Direndahkan namun semakin bersinar bagaikan bintang kejora.
Di”kafir”kan namun semakin beriman.
Dibenci namun semakin dicintai.

Aku sungguh-sungguh kagum kepadanya. Dalam hati aku bertanya, mahaguru seperti apakah yang telah mendidiknya bisa “hadir” seolah-olah seorang harapan bagi kemajuan bangsa ini.

Aku sungguh-sungguh kagum kepadanya. Dan sekali lagi dalam hati bertanya, rahim seperti apakah yang telah mengandungnya sehingga dia bisa #bagaikan manusia ajaib, yang sanggup membalas cacian dengan pujian, membalas hinaan dengan doa sucinya, membalas fitnahan dengan canda tawanya.

Sungguh, aku sungguh-sungguh kagum kepada pribadinya yang agung dalam kesederhanaan. Dia yang tidak larut dalam pujian ketika disanjung, dan tetap tegar penuh semangat bekerja ketika direndahkan.

Kagum kepadanya bagaimana ia memilah dan memilih para menterinya yang sungguh-sungguh memiliki hati untuk bangsa ini, dan tidak segan-segan memecat para pecundang bangsanya saat mulai menunjukkan tanda-tanda tidak becus dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

Aku lalu berpikir, mungkinkah sosok seperti dia itukah yang disebut sebagai manusia yang sungguh selesai dengan persoalan dirinya, yang tidak lagi berfikir tentang dirinya ketika orang justru ramai-ramai mendiskreditkannya?

Mungkinkah sosok seperti dia itukah yang disebut sebagai manusia yang tidak sibuk dengan pujian dan hinaan karena di benaknya hanya ada pengabdian diri yang total?

Mungkinkah sosok seperti dia itukah yang disebut sebagai manusia bijak nan arif yang tidak pusing dengan segala label negatif yang dituduhkan atasnya?

Aku pun lalu berfikir, apakah orang-orang yang menghina dan membenci orang bersih yang setulus dan sesuci dia ini tidak akan terlempar ke tubir lembah kekwalatan dan kedurhakaan seperti “keyakinan kuno” agama-agama suku di negeri ini sebelum agama-agama dari luar sana hadir di nusantara?

“Tuan presiden” (izinkan aku menyapa bapak dengan sapaan “tuan presiden”), tolong ajarkan kepadaku rahasia di balik “keunikan” pribadimu yang penuh misteri itu.

Ajarkanlah kepadaku rahasia tersenyum penuh keramahan ketika difitnah dan dihina. Ajarkanlah rahasia mendoakan ketika dicacimaki.

Ajarkanlah kepadaku rahasia mengampuni ketika disakiti.
Ajarkanlah kepadaku rahasia mencintai ketika dibenci.
Ajarkanlah kepadaku rahasia memuji ketika dicela.

Ajarkanlah kepadaku rahasia memikirkan orang lain ketika orang lain sibuk memikirkan dirinya sendiri.
Ajarkanlah kepadaku mencipta hati dan budi yang suci walau diteriaki peka-i.
Ajarkanlah kepadaku bagaimana berdoa siang dan malam untuk bangsa ini dan bagi mereka yang hendak menjadikannya negeri sapi perahan.

Ajarkanlah kepadaku untuk mengambil rupa rakyat biasa ketika jabatan penting berada di pundakku. Karena engkau yang walaupun orang nomor satu di negeri ini rela mengambil rupa dan hidup seperti kami rakyatmu.

Duduk, makan, dan tidur di bawah tenda darurat. Engkau sungguh-sungguh berhati mulia dalam kesahajaanmu. Engkau yang yang tidak pernah memikirkan kejahatan dan kehancuran bangsa ini sedetikpun dalam hidupmu.

Akupun ingin memiliki cinta yang membara untuk bangsa ini seperti cinta yang tuan presiden berikan untuk negeri ini.

Akupun ingin bekerja untuk anak-anak bangsa dalam tugasku yang penuh cinta kasih seperti tuan presiden bekerja dalam tugasmu yang penuh cinta kasih.

Akupun ingin tersenyum tanpa dendam kepada orang-orang yang mencacimaki diriku seperti tuan presiden tersenyum tanpa dendam kepada mereka yang membencimu.

Akupun ingin membawa dalam doa suciku nama-nama mereka yang membenciku di hadirat Allah yang mahabesar seperti tuan presiden menyebut nama-nama mereka yang tidak mengakui karya-karyamu.

Akupun ingin memikirkan orang lain ketika orang lain sibuk memikirkan dirinya sendiri seperti yang tuan presiden buat untuk negeri ini.
Akupun ingin hidup untuk memberi dan bukan untuk diberi seperti yang tuan presiden buat untuk negeri ini.

Tuan presiden, Bapak Jokowidodo, izinkan aku belajar kebajikan dan kebijaksanaan darimu walau sudah pasti engkau akan keberatan kusebut sebagai orang bijaksan nan arif.

Tetaplah memancarkan pesona kebajikan dan kebijaksanaanmu bagi negeri ini dan bagi dunia.

Biarkanlah doa-doa sucimu dan doa-doa rakyatmu yang setia menfuatkanmu selalu untuk tetap tersenyum bagi kaum sebangsamu sendiri yang mencacimu, menghinamu, menfitnahmu, dan merendahkanmu.

Biarkanlah kesahajaan dan kesederhanaanmu memancar dalam keagungan bangsa ini.

Biarkanlah kerendahan hatimu menyejukkan hati yang beku karena keserakahan harta dan kuasa.

Biarkanlah cinta abadimu untuk negeri ini terukir indah dalam karya-karyamu dari Sabang sampai Merauke.
Dan biarkanlah aku tetap berguru kebajikan dan kebijaksanaanmu, Karen engkau sungguh-sungguh seorang manusia yang penuh kebajikan dan kebijaksanaan titisan nusantara jaya.

Bapak Jokowidodo, terima kasih telah “hadir” bagiku sebagai sosok teladan dalam kebijaksanaan dan guru dalam kehidupan bersama. Semoga umurmu panjang dan sehat selalu. Doaku menyertaimu selalu wahai presiden kami dan guru shopie-ku. (nr)

Tana Toraja, Medio Sept’ 2018

Terkait

Watch Dragon ball super