Home / Artikel / Retribusi Pasar Loak Poncol Turun Drastis Karena Auto Debet

Retribusi Pasar Loak Poncol Turun Drastis Karena Auto Debet

Jakarta, sketsindonews – Efektifkah program auto debet pembayaran online bagi pelaku ekonomi kecil (PKL) atau yang disebut binaan pedagang oleh Dinas UMKM Provinsi DKI Jakarta yang selama ini di jalankan melalui via Bank DKI.

Pedagang binaan UMKM dalam retribusinya ternyata masih banyak pedagang tak tercatat (terdata) sebagai kewajiban bagi pedagang di dalam lokasi sementara, (lokbin), lokasi binaan (lokbin) yang masih tumpang tindih bahkan tak terdata secara baik dalam validasinya.

Dalam penyusuran sketsindonews tercatat pedagang binaan JP 36-37 poncol Kecamatan Senen Kota Jakarta Pusat tercatat pedagang sekitar 600 pedagang, namun yang tercatat hanya sekitar 100 lebih saja yang bisa di auto debet oleh Bank DKI.

Sisi lain pedagang Pasar Loak Poncol dalam kepemilikan tempat juga masih menjadi dilematis terkait kepemilikan kios telah menjadi kepemilikan secara pribadi, sehingga hal ini juga mengakibatkan proses auto debet menjadi tidak valid bagi kewajiban pedagang sesuai dengan pergub.

Tercatat pedagang satu kepemilikan bisa memiliki hingga 10 kios, padahal pasar tersebut merupakan fasum fasos Pemda DKI yang tidak bisa di perjual belikan secara pihak.

Menurut pengelola pasar Loak Poncol Lili mengatakan, secara kronologis pasar loak poncol awalnya merupakan hasil pemberdayaan lokal masyarakat yang dibangun oleh masyarakat pedagang sendiri secara swakola dalam membangun pasar itu awalnya, tukasnya. (1/11)

“Fasum fasosnya diakuinya merupakan milik pemda DKI, tapi kalo bangunan milik pedadagang. Sementara pemerintah DKI Dinas UMKM hanya sekali membangun awning (atap) pasar dimana pasar itu telah berdiri hampir 30 tahun.”

Akhirnya pemda DKI mengclaim itu dibuat binaan oleh Pemda DKI sesuai usulan loksem atau JP 36-37 yang selama ini dibina oleh Sudin UMKM Jakarta Pusat.

Kami pernah mengusulkan bahwa program auto debet tidak efektif, karena proses itu banyak dilanggar oleh pedagang, dimana bank DKI melalui kebijakan memberlakukan membayar retibusi online via bank langsung terhapus oleh system.

Jika pedagang tidak melakukan pembayaran dalam kurun waktu tertentu otomatis nama itu hilang, ini yang menjadi polemik baru bagi pengelola pasar, ujar Andika saat bincang dengan sketsindonews. com.

Menurutnya, bagi loksem atau lokbin seharusnya sudah dipakai dengan penggunakan seperti pembayaran indomaret secara langsung diawasi oleh pengelola yang tiap harinya membayar dalam bentuk kasir sehingga kemalasan pembayaran dapat dimonitor secara langsung, terang Andika lebih lanjut.

Pasar Poncol semenjak auto debet menegalami penurunan drastis dalam hal pajak retribusi, dimana waktu pembayaran masih manual kami setor via karcis dari Sudin UMKM perbulan mencapai 18 juta setiap bulannya untuk masuk ke pajak daerah.

Sekarang ini separuh saja tidak karena tidak adanya sinkronisasi antara pengelola dan Bank DKI dalam validasi bagi pedagang pasar poncol, baik pengelola, pedagang Sudin UMKM dan Bank DKI sendiri dalam membuat aturan itu.

Kondisi ini harus dievaluasi, tegas Andika. Karena auto debet dalam prakteknya sangat sulit diterapkan bagi pelaku ekonomi yang nota bene pasar poncol pedagangnya sangat sulit mengikuti aturan itu.

Menurut Selamet Riyadi Ketua Forum Pedagang menjelaskan, sebaiknya Dinas UMKM tidak perlu tegas karena itu bukan solusi dalam penindakan terhadap pedagang yang nantinya diberlakukan dalam  korelasi pemeriksaan instansi terkait dalam sektor pajak, baik oleh inspektorat maupun BPK.

Oleh karena pasar poncol sangat berbeda dengan loksem lain dimana pedagang membangun fasilitas dengan sendirinya tanpa bantuan pemerintah, sehingga banyak toko diponcol diperjual belikan pemilik yang membangun untuk disewakan kembali pada pihak lain (ketiga) baik dengan sewa maupun kontrak, papar Riyadi.

Maka kami mengusulkan untuk semua pihak bersama dengan kami (pengelola)  membuat perancangan ulang terhadap pendataan, sebelumya pihak kami telah memberikan data yang sebenarnya.

Tapi dalam faktanya banyak pedagang kami yang  tak masuk dalam auto debet padahal mereka semua didata dengan kepemilikan tabungan Bank DKI.

reporter : nanorame

 

Check Also

Caleg Dhuafa Bersatu 2109, Legislator Harus Jujur dan Adil

Jakarta, sketsindonews – Agak aneh dan lucu tapi ini realitasnya dalam panggung masuk arena poltik …

Watch Dragon ball super