Sarmiyati : Anggap BPJS Kesehatan Sebagai Ladang Beramal Membantu Masyarakat

Jakarta, sketsindonews – Ungkapan Sarmiyati (32) peserta BPJS sekaligus Pekerja Penerima Upah (PPU) untuk kita renungkan Ia mengukapkan, “Selama ini keluarga saya tidak pernah menggunakan Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) untuk berobat berat atau berobat di rumah sakit. Namun, kami tidak merasa keberatan sama sekali untuk membayar iuran secara rutin setiap bulan.

Hitung-hitung beramal lah”, ungkapnya.

Lanjut Sarmiyati, dirinya seringkali membantu warga yang kesulitan untuk mengurus kepesertaan Program JKN-KIS karena Sarmiyati peduli dan merasa kasihan dengan warga yang mungkin belum tahu banyak mengenai pengurusan.

Sarmiyati bercerita dengan pengalamannya bahwa tetangganya saat ini sedang kebingungan karena anaknya akan masuk ICU di Rumah Sakit Pelni dan tidak tahu harus berbuat apa. Sehingga, Sarmiyati mencoba membantu tetangganya tersebut.

“Saya terdaftar sebagai isteri dari Peserta PPU karena suami saya bekerja di wilayah Jakarta Barat. Selama ini kami sendiri jarang sekali menggunakan Program JKN-KIS untuk berobat karena Alhamdulillah kami masih diberikan kesehatan yang baik.

Kami pernah menggunakan program untuk berobat di klinik untuk mengecek kesehatan dan pelayanan ringan,” ujar Sarmiyati mengawali ceritanya. (6/3)

Sarmiyati bercerita suaminya dan dirinya sekeluarga yang terdiri dari empat orang telah terdaftar sejak BPJS Kesehatan ada, yaitu tahun 2014. Keluarganya biasanya berobat di Klinik Yakrija Slipi, yaitu klinik tempat dirinya dan keluarganya terdaftar.

“Kliiknya bagus, dekat dengan rumah, dan antriannya juga tidak sebanyak di puskesmas. Klinik Yakrija tidak pernah sepenuh puskesmas, sehingga kami sekeluarga memilih untuk tetap di sana,” kata Sarmiyati saat ditanya mengapa memilih klinik tersebut.

Sarmiyati menegaskan tidak merasa keberatan jika gaji suaminya dipotong dari pusahaan untuk membayar iuran Program JKN-KIS yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan sejak tahun 2014 hingga saat ini. Walaupun Sarmiyati dan keluarga tidak pernah menggunakan untuk penyakit berat, Sarmiyati menganggasp ini merupakan ladang beramal.

“Sekarang, intinya sakit itu mahal. Bahkan Rumah Sakit Pelni menganjurkan tetangga saya untuk mengurus kepesertaan BPJS Kesehatan agar tidak kebingungan mengenai perawatan kesehatan anaknya”.

Jika tidak ada program ini, maka kasihan orang-orang yang tidak mampu nanti,” tutup Sarmiyati mengakhiri cerita.

nanorame