Jakarta, sketsindonews – Tim Jaksa Penyidikan pada Direktorat Penyidikan Jakda Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) memeriksa tiga orang saksi perihal dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor) terkait kasus Perum Perindo tahun 2016-2019.
Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak menyebut tiga orang saksi yang diperiksa yakni, Devy Aditia selaku Manager Perbendaharaan dan Pembiayaan Perum Perindo, kemudian Arieyanti R. Hapsari selaku Kepala Departemen Litigasi Perum Perindo, dan yang terakhir Wenny Prihatini selaku Vice President Perdagangan, Penangkapan dan Pengelolaan Perum Perindo.
“Pemeriksaan saksi dilakukan untuk memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri guna menemukan fakta hukum tentang tindak pidana korupsi yang terjadi di Perusahaan Umum Perikanan Indonesia” kata Leonard dalam keterangan tertulis pada Selasa (24/8).
Sebelumnya diberitakan, duduk perkara kasus dugaan korupsi di Perum Perindo, bermula pada Tahun 2017 Perum Perindo menerbitkan MTN (Medium Tern Notes) atau hutang jangka menengah untuk mendapatkan dana dengan cara menjual Prospek.
Adapun prospek yang dijual Perum Perindo dalam hal penangkapan ikan, selanjutnya Perum Perindo mendapatkan Dana MTN sebesar Rp200 miliar yang cair pada Bulan Agustus 2017 sebesar Rp100 miliar dengan return 9% dibayar per triwulan, jangka waktu tiga tahun yang jatuh tempo pada bulan Agustus 2020.
Lalu, pada Bulan Desember 2017 Rp 100 miliar dengan return 9,5% dibayar per triwulan dalam jangka waktu tiga tahun yang jatuh tempo pada bulan Desember 2020.
Dari situ maka MTN atau hutan jangka menengah diterbitkan di tahun 2017 sebesar Rp200 miliar untuk digunakan sebagian besar dananya buat modal kerja perdagangan.
“Hal ini bisa dilihat dengan meningkatnya pendapatan perusahaan yang di tahun 2016 sebesar kurang lebih dari Rp233 miliar meningkat menjadi kurang lebih Rp603 miliar dan mencapai kurang lebih Rp1 triliun di 2018. Kontribusi terbesar berasal dari pendapatan perdagangan,” ucap Leonard. (Fanal Sagala)









