Jakarta, sketsindonews – Aktifis media sosial Deny Siregar membuat surat terbuka terkait Bali untuk tidak menjadi sebuah kota yang sudah ratusan tahun memiliki budaya dan keragaman agama.
Kemenfraf Sandiaga Uno “Biarkan Bali Tetap Bali Jangan di Arabisasi, tulisanya dalam rilis.
Kata Deny, Mas Sandi, pernah tinggal di Bali ? Tanyanya !
Kata Deni, “Saya pernah. Dua tahun saya di sana. Tinggal di Sesetan, Denpasar sebagai pekerja. Sekali-sekali tinggallah di sana, barang setahun saja. Rasakan Aura Bali. Nafasnya, budayanya, adatnya dan keramahan masyarakatnya. Jangan cuman mampir berlibur sehari dua dan tinggal di hotel mewah saja.
Dan mas Sandi akan merasakan ketenangan, kenyamanan dan terutama kekentalan nilai-nilai luhur Indonesia yang terakit dalam adat dan budaya.
Bali bukan sekedar pariwisata, mas Sandi. Bali lebih sebagai penjaga budaya negeri ini, yang di banyak tempat sudah hilang tergerus modernisasi dan arabisasi. Mengagumkan. Membangun rasa cinta dan selalu menawarkan rasa rindu untuk kembali kesana.
Entah sudah berapa kali saya mendengar wacana Bali mau disyariahkan, dihalalkan dan entah apa lagi namanya yang ujungnya selalu membawa agama. Dulu tahun 2015, wacana yang sama muncul dari Muliaman Hadad, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah. Sekarang, dirimu Sandiaga Uno, yang kembali ingin menghalalkan Bali, tandas Deni.(11/11)
Alasan kalian berdua sama. Karena wisata halal berpotensi meraup ribuan triliun rupiah dari tamu di Timur Tengah
Saya sendiri tidak paham. Apakah definisi “halal” kalian sama dengan definisi “halal”nya masyarakat Bali ? Halal menurut kalian, belum tentu halal buat orang Bali. Kalian berpandangan poligami halal tapi belum tentu begitu dengan Bali. Bali menganggap makan babi halal, dan kalian pun berpandangan terbalik dengan apa yang diyakini masyarakat Bali.
Lanjut Deni, halal dengan konsep syariah, di mana hotel-hotelnya harus ditempeli edaran “harus punya surat nikah” ? Atau ketika orang-orang dengan cadar hitam seluruh badan lalu-lalang sibuk menghakimi turis yang setengah telanjang ? Atau restoran dan kafe penuh dengan tulisan larangan yang mengganggu pemandangan ?
Lalu ke depan sibuk mengharam-haramkankan perayaan adat di-sana ?
Bali adalah Bali. Dengan segala kelebihan dan kekurangan, merekalah wajah Indonesia di luar negeri. Dari Bali, para wisatawan mengenal Indonesia lebih banyak lagi. Dan ketika Bali sudah berjasa kepada negeri ini, kalian ingin merusaknya hanya karena “Bali tidak halal” menurut pandangan kalian yang sempit itu.
Jangan pernah merusak negeri dengan konsep “syariah”, “halal” atau apapun yang menyinggung masyarakat Bali. Bali sudah sangat terbuka kepada para pendatang untuk bekerja mencari makan, tanpa memandang dari suku apa kalian, ras apa kalian bahkan apa pun agamamu di sini.
Lihatlah, berapa banyak restoran Padang di Bali ? Apakah itu bukan restoran halal ? Hitung berapa banyak restoran Jawa dan Surabaya di Bali ? Bisakah engkau bilang mereka menjual makanan yang tidak halal ? Lalu, halal yang bagaimana lagi yang harus disepakati masyarakat Bali yang selama ini hidup tenteram, aman dan loh jinawi ?
Singkirkan pikiran kalian untuk selalu ingin mensyariahkan Bali.
Kenapa kalian tidak kembangkan saja wisata halal atau syariah di Aceh sana, yang jelas-jelas menganut hukum syariat ? Kenapa mesti Bali ? Apa kurangnya tempat wisata di negeri ini selain Bali ? Fokus ke yang belum terjamah, jangan rusak Bali yang sudah mendunia.
Sudah cukup dengan konsep arabisasi di negeri ini. Jangan rusak Bali. Karena ketika kalian ingin memaksakan apa yang ada di pikiran kalian, saya yakin rakyat Bali akan bangkit berdiri menentang.
Jangankan kalian, mas Sandi. Bahkan Eropa, Amerika, Jepang dan banyak turis luar negeri yang datang membawa konsep modernisasi tidak akan pernah mampu menghabisi sisi tradisional Bali. Karena itulah harta mereka. Kekayaan terbesar mereka. Hidup mereka.
Apakah masyarakat Bali perduli dengan potensi pendapatan ribuan triliunan rupiah dari turis Timur Tengah ?
Tidak juga ! Kekayaan itu bukan hanya materi, karena bagi Bali sebanding Jiwa yang merdeka adalah kekayaan yang sejati.
Bali jangan dipasung dengan label-label untuk jualan diri atau menggulirkan isu budaya yang sudah mengakar sejak nenek moyang.
Biarkan Bali tetap Bali dalam menjunjung harkat martabatnya menjadi kota International serta budaya leluhur yang sudah membuka mata dunia.
(Nanorame)










