Gunung Padang dan Pesona Purnama, Perjalanan Kontemplatif yang Sarat Makna

oleh
Ilustrasi suasana Situs Megalitikum Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang dikenal sebagai salah satu situs prasejarah terbesar di Indonesia dan menjadi lokasi refleksi serta pelestarian warisan budaya.
23.1K pembaca

Situs Megalitikum Gunung Padang di Kabupaten Cianjur kembali menghadirkan pengalaman yang membekas bagi para pengunjung. Di bawah sinar bulan purnama, kawasan bersejarah ini menjadi ruang kontemplasi yang menghadirkan ketenangan sekaligus refleksi tentang alam, sejarah, dan kehidupan.

Selain dikenal sebagai situs megalitikum terbesar di Indonesia, Gunung Padang juga kerap menjadi perbincangan karena sejumlah pola unik yang dijumpai di kawasan tersebut. Situs ini memiliki lima teras yang saling terhubung, dikelilingi lima bukit dan lima aliran sungai, serta menyuguhkan panorama ke arah lima gunung di sekitarnya.

Sebagian kalangan memandang keselarasan angka tersebut sebagai simbol harmoni alam. Namun, hingga kini belum terdapat bukti ilmiah yang menyatakan bahwa pola tersebut memiliki makna mistis tertentu.

Suasana serupa dirasakan rombongan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya dan PWI Pusat saat mengunjungi Gunung Padang pada Senin (29/6/2026) malam hingga Selasa (30/6/2026) dini hari.

Kunjungan tersebut diprakarsai Bendahara PWI Jaya, Dar Edi Yoga, yang telah berulang kali mengunjungi situs tersebut sejak pertama kali datang pada 15 Maret 2012. Menurutnya, setiap kunjungan selalu menghadirkan pengalaman dan pelajaran yang berbeda.

Rencana awal rombongan berjumlah 14 orang, namun hingga keberangkatan hanya sembilan peserta yang ikut. Dar Edi menyebut hal itu kerap terjadi setiap kali dirinya mengajak rekan-rekannya berkunjung ke Gunung Padang.

“Entah kebetulan atau tidak, hampir setiap saya mengajak teman-teman ke Gunung Padang, jumlah peserta yang akhirnya berangkat sering kali berubah menjadi ganjil,” ujarnya.

Setibanya di lokasi, cahaya bulan purnama menerangi perjalanan rombongan dari Teras 1 hingga Teras 5. Pantulan sinar rembulan di antara bebatuan purba menciptakan suasana tenang yang dinikmati seluruh peserta.

Anrico Pasaribu, Raldy Doy, Toni Bramantoro, Rudolf Simbolon, serta peserta lainnya tampak menikmati keheningan malam. Sementara itu, Bimo yang datang dari Jakarta sengaja membawa kursi lipat dan kopi hangat untuk menikmati suasana lebih lama.

Di setiap teras, praktisi spiritual Cahaya Adi Wibowo menyalakan dupa sebagai simbol doa, rasa syukur kepada Tuhan, serta penghormatan terhadap alam.

“Bagi saya, dupa bukan untuk menyembah tempat ini. Dupa hanya menjadi pengingat agar manusia hadir dengan hati yang bersih, penuh syukur, dan menghormati alam sebagai ciptaan Tuhan,” katanya.

Menjelang pukul 01.00 WIB, rombongan mengikuti sesi meditasi dalam suasana hening yang didampingi Kepala Juru Pelihara Gunung Padang, Nanang Sukmana. Suara angin dan alam menjadi latar yang mengiringi setiap peserta menikmati momen refleksi.

Bagi Wahyu, yang baru pertama kali berkunjung, pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam.

“Saya ingin kembali lagi ke Gunung Padang. Tempat ini membuat hati tenang. Nanti saya ingin mengajak keluarga atau teman-teman supaya mereka juga bisa merasakan suasana seperti malam ini,” ujarnya.

Dar Edi Yoga menilai Gunung Padang bukan sekadar situs purbakala yang menyimpan nilai sejarah, tetapi juga ruang untuk mempererat persaudaraan, merenungkan kehidupan, serta menumbuhkan rasa syukur kepada Tuhan. Di bawah cahaya purnama, setiap langkah di antara bebatuan purba menghadirkan pengalaman yang menenangkan sekaligus mengingatkan manusia akan pentingnya menjaga harmoni dengan alam.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap