Pemakaman Ali Khamenei Dinilai Jadi Simbol Konsolidasi Teologi Perlawanan Iran

oleh
Muhammad Reza
34.2K pembaca

Prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dinilai tidak hanya menjadi momen penghormatan terakhir bagi seorang pemimpin, tetapi juga mencerminkan konsolidasi teologi perlawanan yang telah lama menjadi bagian dari identitas politik dan sosial masyarakat Iran.

Hal tersebut disampaikan Muhammad Reza dalam artikel opini berjudul Pemakaman Ali Khamenei: Konsolidasi Teologi Perlawanan. Menurutnya, jutaan warga memadati jalan-jalan di Teheran untuk mengikuti prosesi pemakaman, bersama delegasi dari berbagai negara, tokoh agama, aktivis, dan simpatisan dari berbagai belahan dunia.

Ia menggambarkan prosesi tersebut sebagai lautan manusia yang hadir bukan sekadar karena mobilisasi negara, melainkan sebagai ekspresi kesadaran kolektif yang berakar pada keyakinan dan nilai perjuangan.

Dalam pandangannya, suasana duka justru berubah menjadi simbol keteguhan. Seruan “Hancur Amerika! Hancur Israel!” serta pekikan “Ya Husain!” terdengar sepanjang prosesi. Bagi masyarakat Iran, seruan “Ya Husain!” dipahami sebagai simbol keberanian, pengorbanan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan yang berakar pada peristiwa Karbala.

Menurut Reza, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi yang membentuk cara masyarakat Iran memaknai perjuangan, penderitaan, hingga kematian.

Ia menilai berbagai tekanan yang dihadapi Iran, mulai dari embargo ekonomi, tekanan politik, hingga gugurnya tokoh-tokoh penting, tidak serta-merta melemahkan semangat masyarakat karena mereka memiliki landasan ideologis yang kuat.

“Bagi bangsa yang bernapas dalam kesadaran Karbala, gugur di medan perjuangan dipandang bukan sebagai akhir, melainkan bentuk kemenangan moral dan spiritual,” tulisnya.

Lebih lanjut, Reza berpendapat bahwa prosesi pemakaman Ali Khamenei menunjukkan bagaimana sebuah bangsa dapat mengubah duka menjadi energi kolektif dan kehilangan menjadi penguat solidaritas nasional.

Ia juga menilai kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh faktor ekonomi, teknologi, atau militer, tetapi juga oleh kemampuan mempertahankan nilai-nilai yang diyakini bersama.

Meski demikian, Reza menegaskan Indonesia tidak harus meniru sistem politik Iran maupun dinamika konflik yang terjadi di kawasan tersebut. Menurutnya, Indonesia memiliki sejarah, budaya, dan sistem ketatanegaraan yang berbeda.

Namun, ia menilai terdapat pelajaran penting yang dapat dipetik, yakni pentingnya persatuan yang dibangun atas dasar cita-cita, nilai, dan keberanian moral.

“Bangsa yang hanya dipersatukan oleh kemakmuran akan mudah retak ketika krisis datang. Sebaliknya, bangsa yang dipersatukan oleh cita-cita, keyakinan, dan keberanian moral memiliki daya tahan yang lebih kuat,” tutupnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap