Eridal dan Dal Songket, Buktikan Tenun Pandai Sikek Tetap Bernilai hingga Rp20 Juta

oleh
Eridal menunjukkan karya tenun songket Pandai Sikek dari brand Dal Songket yang mempertahankan teknik, motif, dan nilai budaya Minangkabau.
32.5K pembaca

Tenun songket Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, terus menunjukkan daya tahannya di tengah perubahan zaman. Salah satu pelaku usaha yang konsisten menjaga nilai kain tradisional tersebut adalah Eridal melalui brand Dal Songket.

Perjalanan Eridal di dunia tenun dimulai pada 1983. Saat itu, ia menerima upah Rp5.000 setelah menyelesaikan satu selendang songket. Lebih dari empat dekade kemudian, produk Dal Songket mampu menembus pasar premium dengan harga hingga Rp20 juta per helai.

Bagi Eridal, perjalanan tersebut bukan sekadar pencapaian bisnis. Tenun Pandai Sikek merupakan warisan budaya yang harus dipertahankan sekaligus dikembangkan agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar.

“Di Pandai Sikek, kegiatan menenun dilakukan secara turun-temurun. Saya mulai benar-benar serius setelah 2009, ketika mulai membuat dengan modal sendiri,” ujar Eridal.

Dari Pengrajin Menjadi Pelaku Usaha

Eridal tumbuh dalam lingkungan masyarakat Pandai Sikek yang memiliki tradisi menenun secara turun-temurun. Keterampilan tersebut umumnya diwariskan dalam keluarga, khususnya melalui garis perempuan dalam sistem kekerabatan matrilineal Minangkabau.

Dengan latar pendidikan hingga kelas II SMP, Eridal membangun usahanya secara bertahap. Keputusan untuk mulai mandiri pada 2009 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan bisnisnya.

Kini, Dal Songket telah memiliki merek resmi dan mengembangkan usaha dengan mengutamakan kualitas produk. Eridal juga dikenal aktif dalam menjaga keaslian dan nilai budaya songket Pandai Sikek.

Menghadapi Perubahan Pasar

Perubahan pola pemasaran menjadi salah satu tantangan yang dihadapi para pengrajin songket. Sejak 2025, penjualan melalui siaran langsung atau live streaming semakin berkembang di Pandai Sikek.

Eridal menyebut kondisi tersebut turut memengaruhi pola produksi dan tenaga kerja. Pada awal 2025, ia sempat mempekerjakan sekitar 25 pengrajin. Namun, pada 2026 jumlah pengrajin yang bekerja secara langsung bersamanya berkurang menjadi lima orang.

Eridal kemudian memilih strategi pembelian selektif dari pengrajin lain. Produk yang dibeli terlebih dahulu melalui proses kurasi sebelum dipasarkan dengan merek Dal Songket.

“Saya lebih suka membeli songket dari pengrajin. Risikonya pun kecil. Kalau suka, kami beli; kalau tidak suka, kami tidak ambil,” katanya.

Strategi tersebut memungkinkan Dal Songket mempertahankan standar kualitas sekaligus memberikan ruang bagi pengrajin lain untuk tetap memiliki akses pasar.

800 Pengrajin Masih Bertahan

Di tingkat nagari, aktivitas tenun tetap menjadi bagian penting dari perekonomian masyarakat Pandai Sikek. Diperkirakan sekitar 800 pengrajin masih menjalankan aktivitas menenun di wilayah tersebut.

Perkembangan perdagangan digital memberikan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, live streaming memperluas jangkauan pemasaran. Di sisi lain, produk yang beragam tanpa standar kurasi dapat memengaruhi persepsi konsumen terhadap kualitas songket premium.

Dalam kondisi tersebut, proses kurasi menjadi penting untuk menjaga reputasi produk dan mempertahankan nilai songket Pandai Sikek.

Motif Sirih Gadang Bisa Tembus Rp20 Juta

Salah satu produk unggulan Dal Songket adalah songket dengan motif Tumpal Sirih Gadang. Motif daun sirih memiliki keterkaitan kuat dengan tradisi masyarakat Minangkabau dan kerap digunakan dalam berbagai kegiatan adat, termasuk penyambutan tamu.

Tingkat kerumitan motif, kualitas bahan, teknik pengerjaan, serta lamanya proses produksi turut menentukan harga kain.

Songket Pandai Sikek berbahan katun dengan motif klasik berada pada kisaran Rp2 juta hingga Rp3 juta. Sementara itu, songket berbahan sutra dengan motif yang lebih rumit dapat mencapai Rp6 juta hingga Rp10 juta.

Untuk motif dan pengerjaan tertentu, termasuk Sirih Gadang, harga dapat mencapai Rp20 juta per helai.

Nilai tersebut menunjukkan bahwa kain tradisional tetap memiliki pasar premium ketika kualitas, keaslian, teknik pengerjaan, dan nilai budaya dijaga secara konsisten.

Bada Mudiak, Simbol Kebersamaan

Selain Sirih Gadang, motif Bada Mudiak menjadi salah satu motif penting dalam tradisi songket Pandai Sikek.

Bada merujuk pada ikan berukuran kecil yang hidup di perairan sungai di Minangkabau. Ikan tersebut dikenal bergerak secara berkelompok dan searah.

Bagi Eridal, karakter tersebut memiliki filosofi tentang kebersamaan dan keselarasan dalam kehidupan masyarakat.

“Bada adalah ikan kecil yang berenang searah. Filosofinya, kita harus berjalan seiya sekata dalam mufakat,” ungkapnya.

Filosofi tersebut mencerminkan nilai musyawarah dan kebersamaan yang menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat Minangkabau.

Indikasi Geografis Perkuat Perlindungan

Songket Pandai Sikek juga memiliki perlindungan melalui Indikasi Geografis (IG). Sertifikasi tersebut memberikan pengakuan sekaligus perlindungan terhadap karakteristik dan kekhasan produk yang berasal dari wilayah Pandai Sikek.

Eridal yang juga menjabat sebagai Ketua Masyarakat Peduli Indikasi Geografis Songket Pandai Sikek (MPIG) menjelaskan, proses pembuatan songket membutuhkan ketelitian tinggi.

Teknik seperti cucuk dan sesangkak menuntut ketepatan dalam menyusun benang lungsi dan pakan. Kesalahan dalam penghitungan atau penyusunan pola dapat memengaruhi keseluruhan motif.

“Urutan benang harus tepat, hitungan helainya tidak boleh keliru, dan pola pun harus dihafal sepenuhnya tanpa bantuan alat modern. Satu kesalahan kecil saja dapat merusak keseluruhan komposisi motif,” jelas Eridal.

Keterampilan tersebut membutuhkan latihan panjang sehingga regenerasi pengrajin menjadi salah satu tantangan penting bagi keberlanjutan industri tenun Pandai Sikek.

KKI 2026 Dorong UMKM Berdaya Saing

Perjalanan Eridal dan Dal Songket juga menjadi bagian dari cerita besar pengembangan UMKM Indonesia. Salah satu wadah yang mempertemukan pelaku UMKM dengan pasar yang lebih luas adalah Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang digelar Bank Indonesia pada 20–23 Agustus 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).

KKI 2026 mengusung tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing.”

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 1.850 UMKM berpartisipasi, terdiri atas 550 UMKM secara luring dan 1.300 UMKM secara daring.

Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyebut tiga aspek penting dalam penguatan UMKM, yakni kebangkitan usaha, ketahanan struktur bisnis dan pembiayaan, serta peningkatan daya saing melalui inovasi dan perluasan pasar.

Bagi pelaku usaha seperti Eridal, dukungan terhadap UMKM menjadi penting agar produk berbasis budaya tidak hanya bertahan sebagai warisan, tetapi juga mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Menjaga Songket di Tengah Regenerasi

Tantangan regenerasi menjadi pekerjaan rumah bagi sentra tenun Pandai Sikek. Perubahan minat generasi muda, perkembangan pemasaran digital, serta kebutuhan untuk menyesuaikan produk dengan pasar menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Eridal tetap optimistis dengan masa depan songket Pandai Sikek. Menurutnya, perkembangan teknologi dan pemasaran digital seharusnya dapat dimanfaatkan tanpa menghilangkan standar kualitas dan identitas budaya.

Dari upah Rp5.000 pada 1983 hingga produk bernilai puluhan juta rupiah pada 2026, perjalanan Eridal menunjukkan bahwa keterampilan tradisional dapat berkembang menjadi usaha bernilai ekonomi tinggi.

Dal Songket menjadi salah satu contoh bahwa warisan budaya tidak harus berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Dengan kualitas, inovasi, dan strategi pemasaran yang tepat, tenun Pandai Sikek tetap memiliki tempat di pasar modern.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap