BEM Untag Semarang Latih Kader PKK dan Posyandu Olah TOGA Jadi Produk Herbal

oleh
Tim PPK Ormawa BEM Untag Semarang bersama kader PKK, kader Posyandu, dan warga Desa Pasigitan, Kabupaten Kendal, berfoto bersama setelah mengikuti kegiatan pelatihan pengolahan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) menjadi produk herbal.
8.3K pembaca

Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang mendorong kemandirian masyarakat Desa Pasigitan, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, melalui pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA).

Salah satu bentuk pemberdayaan dilakukan melalui pelatihan pengolahan tanaman herbal menjadi produk bernilai guna dan ekonomi. Pelatihan tersebut menyasar kader Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan Posyandu.

Kegiatan dilaksanakan secara partisipatif dengan memanfaatkan rumah warga di Dusun Krajan sebagai lokasi pelatihan. Para peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga langsung mempraktikkan pengolahan bahan herbal menggunakan peralatan rumah tangga sederhana.

Ketua Tim Pelaksana PPK Ormawa BEM Untag Semarang, Musaddad Syarif, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan secara berkelanjutan di Desa Pasigitan.

Sebelumnya, tim mahasiswa telah mendorong budidaya TOGA dan membantu pembangunan fasilitas greenhouse TOGA sebagai sarana pengembangan tanaman herbal di tingkat masyarakat.

“Pemilihan kader PKK dan Posyandu sebagai sasaran utama bukan tanpa alasan. Mereka merupakan garda terdepan dalam menggerakkan upaya peningkatan kesehatan keluarga di masyarakat,” ujar Musaddad.

Menurutnya, pelatihan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan warga dalam membudidayakan TOGA, tetapi juga mengolah hasil panen agar memiliki nilai tambah.

“Kami ingin membekali para kader tidak hanya dengan kemampuan membudidayakan TOGA, tetapi juga mengolah hasil panennya sehingga memiliki nilai guna dan nilai ekonomi yang lebih tinggi,” katanya.

Olah Jahe, Kunyit, dan Temulawak

Dalam pelatihan, para kader didampingi mahasiswa mengolah sejumlah rimpang hasil budidaya, seperti jahe, kunyit, dan temulawak, menjadi serbuk herbal instan.

Peserta diperkenalkan pada teknik kristalisasi sederhana yang dapat dilakukan menggunakan peralatan rumah tangga. Produk yang dihasilkan diharapkan lebih praktis untuk dikonsumsi dan disimpan.

Pelatihan juga mencakup aspek pengemasan. Para peserta mendapatkan pemahaman mengenai kebersihan kemasan, sterilisasi botol, serta pembuatan label produk yang informatif dan menarik.

Pengetahuan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi masyarakat untuk mengembangkan olahan TOGA menjadi produk bernilai tambah dan memiliki peluang pemasaran, dengan tetap memperhatikan ketentuan keamanan pangan yang berlaku.

Bagi kader Posyandu, keterampilan tersebut juga dapat mendukung edukasi masyarakat mengenai pemanfaatan tanaman herbal yang tersedia di lingkungan sekitar.

Dari sisi ekonomi, pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai tambah membuka peluang usaha produktif bagi masyarakat, khususnya kelompok perempuan di desa.

Warga Sambut Positif Pelatihan

Ketua PKK Dusun Krajan, Junarsih, mengapresiasi program pemberdayaan yang dilakukan BEM Untag Semarang.

Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru kepada warga mengenai pemanfaatan tanaman yang selama ini banyak tumbuh di sekitar rumah.

“Pelatihan ini membuka wawasan warga kami. Ternyata tanaman yang ada di pekarangan dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi,” ujar Junarsih.

Ia berharap pendampingan dapat terus dilakukan sehingga Desa Pasigitan mampu mengembangkan produk herbal berbasis TOGA sebagai salah satu potensi unggulan desa.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, kader PKK dan Posyandu, serta masyarakat diharapkan mampu memperluas pemanfaatan TOGA di Desa Pasigitan.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian desa berbasis potensi lokal. Dengan keterampilan pengolahan yang semakin baik, hasil budidaya TOGA tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga berpeluang dikembangkan menjadi produk herbal bernilai tambah.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap