Mahasiswa UI Kembangkan Buku untuk Dampingi Anak Penyintas Bencana

oleh
Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) bersama pendamping berfoto dalam kegiatan pengembangan dan uji coba buku psikoedukasi “Ibu, Apa Kabarmu?”, bagian dari program Luruhkan Luka untuk mendampingi anak penyintas bencana yang kehilangan orang tua.
12.9K pembaca

Lima mahasiswa Universitas Indonesia (UI) mengembangkan buku cerita bergambar sebagai media psikoedukasi untuk membantu anak penyintas bencana yang kehilangan orang tua menghadapi proses berduka.

Program bertajuk “Luruhkan Luka” tersebut merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial dan Humaniora (PKM-RSH).

Tim Luruhkan Luka terdiri atas Putu Sekarasri Upadani, Nathania Aurelia Nadine Rea, Prescyllia Maura Rezqi, dan Muthi’ah Silmi Hafizhah dari Fakultas Psikologi UI, serta Ghina Rameyza Salsabila dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UI.

Ketua Tim Luruhkan Luka, Putu Sekarasri Upadani atau Sekar, mengatakan gagasan tersebut berangkat dari kebutuhan menghadirkan media yang dapat menemani anak ketika menghadapi kehilangan orang yang mereka sayangi.

“Harapannya, buku yang kami rancang dapat membantu anak penyintas memahami dan mengekspresikan perasaan setelah kehilangan orang yang disayangi, sekaligus menemani mereka untuk perlahan tumbuh dan menjalani kehidupan pascabencana,” ujar Sekar.

Buku Cerita untuk Membantu Anak Memahami Duka

Menurut tim Luruhkan Luka, respons anak terhadap kehilangan tidak selalu terlihat dan dapat berbeda-beda. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh perkembangan kognitif, kemampuan mengelola emosi, serta tingkat ketergantungan anak terhadap pengasuh.

Karena itu, program ini tidak bertujuan menghilangkan rasa duka. Pendekatan yang digunakan diarahkan untuk membantu anak mengenali emosi yang muncul dan memahami bahwa kesedihan merupakan respons yang wajar terhadap kehilangan.

Pesan tersebut kemudian dikemas dalam buku cerita bergambar berjudul “Ibu, Apa Kabarmu?”. Format cerita dipilih agar materi psikoedukasi dapat disampaikan dengan cara yang lebih mudah dipahami anak.

Dikembangkan Berdasarkan Riset

Buku tersebut dikembangkan melalui penelitian dan konsultasi untuk memastikan isi, bahasa, ilustrasi, serta alur cerita sesuai dengan kebutuhan anak penyintas bencana di Indonesia.

Pada tahap awal, tim mewawancarai 11 pemangku kepentingan yang memiliki pengalaman dan pengetahuan mengenai anak, bencana, serta kedukaan. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, termasuk psikolog anak, penyintas bencana, tokoh keagamaan, lembaga sosial, Palang Merah Indonesia (PMI), dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Tim juga mempertimbangkan aspek keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat agar buku memiliki landasan psikologis sekaligus sesuai dengan konteks sosial dan budaya anak.

Pengembangan buku menggunakan kerangka Formative Method for Adapting Psychotherapy (FMAP). Tahap Knowledge Generation digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi dan kebutuhan anak penyintas bencana.

Selanjutnya, temuan penelitian diolah melalui tahap Information Integration dan dikaitkan dengan Multidimensional Grief Theory (MGT) untuk menentukan bentuk intervensi yang sesuai dengan perkembangan anak.

Hasil penelitian kemudian diterjemahkan ke dalam unsur buku, seperti alur cerita, karakter, bahasa, ilustrasi, dan warna.

Prototipe buku selanjutnya ditinjau dan direvisi melalui konsultasi dengan sejumlah pemangku kepentingan. Tim juga mempertimbangkan ecological validity dan cultural sensitivity agar buku relevan dengan lingkungan serta latar sosial budaya anak.

Diuji kepada Anak dan Pendamping

Setelah melalui proses pengembangan dan revisi, tim melakukan mini testing untuk mengukur kelayakan dan penerimaan buku.

Sebanyak 32 partisipan terlibat dalam pengujian tersebut. Mereka terdiri atas delapan anak penyintas bencana yang kehilangan orang tua, delapan caregiver, delapan guru sekolah dasar, dan delapan relawan yang sering berinteraksi dengan anak.

Para partisipan membaca buku yang dikembangkan, kemudian mengikuti pengisian kuesioner dan Focus Group Discussion (FGD).

Pengujian dilakukan untuk melihat dua aspek utama, yaitu feasibility atau kelayakan dan acceptability atau tingkat penerimaan terhadap buku psikoedukasi.

Selain itu, tim melakukan pengujian langsung bersama penyintas bencana di Kabupaten Cianjur dengan dukungan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Cianjur.

Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Sukamanah, Desa Cibulakan, dan Desa Sirnagalih.

Interaksi langsung dengan anak, caregiver, guru, dan relawan memberikan masukan penting bagi tim untuk melihat penerimaan buku di luar lingkungan akademis.

Ingin Menjadi Teman bagi Anak yang Berduka

Melalui buku “Ibu, Apa Kabarmu?”, tim Luruhkan Luka ingin menghadirkan media yang ramah bagi anak dalam memahami pengalaman kehilangan.

Buku tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan pendampingan psikologis atau peran keluarga, guru, relawan, dan tenaga profesional. Media ini lebih diarahkan sebagai sarana psikoedukasi yang membantu anak mengenali perasaan dan memahami pengalaman duka.

Semangat tersebut dirangkum melalui kampanye #TemanDiKalaDuka.

Tim Luruhkan Luka berharap buku tersebut dapat digunakan dan dikembangkan sebagai salah satu media pendamping bagi anak penyintas bencana di berbagai wilayah Indonesia.

Menurut tim, pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pembangunan kembali rumah dan fasilitas yang rusak. Kondisi psikologis anak juga perlu mendapat perhatian agar mereka dapat menjalani kehidupan setelah kehilangan orang yang dicintai.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap