Childfree dalam Pandangan Buddha, Bagaimana Menyikapinya?

oleh
Ilustrasi pasangan pria dan wanita sedang berjalan bersama sebagai gambaran pilihan dan kehidupan berumah tangga.(Sumber: kemenag.go.id)
2.1K pembaca

Fenomena pasangan yang memilih tidak memiliki anak atau childfree menjadi salah satu topik yang terus diperbincangkan di masyarakat. Pilihan tersebut memunculkan beragam pandangan, mulai dari yang menganggapnya sebagai keputusan pribadi hingga yang mempertanyakannya dari sisi nilai keluarga dan agama.

Dalam perspektif Buddhisme, fenomena tersebut dapat dilihat melalui prinsip Dhamma, terutama mengenai niat, tanggung jawab moral, kebebasan batin, dan cinta kasih kepada sesama.

Pembahasan mengenai childfree ini disampaikan oleh Yanita Sidhipurnami, S.Pd., M.Pd., Penyuluh Agama Buddha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mempawah.

Tidak Ada Kewajiban Memiliki Anak

Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa ajaran Buddha tidak mewajibkan umat awam untuk memiliki anak. Kehidupan seseorang dinilai berdasarkan perbuatan dan kualitas batinnya, bukan semata-mata dari ada atau tidaknya keturunan.

Karena itu, keputusan untuk menikah, memiliki anak, atau tidak memiliki anak ditempatkan sebagai pilihan personal yang tetap harus mempertimbangkan niat, moralitas, dan tanggung jawab.

Dalam Dhamma, seseorang didorong untuk menjalani kehidupan dengan kesadaran serta mengembangkan perbuatan baik.

Salah satu rujukan yang digunakan adalah Vasala Sutta dalam Sutta Nipāta, yang menekankan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kelahiran atau keturunan, tetapi oleh perbuatannya.

Kisah Cullabodhi Jātaka

Perspektif mengenai pasangan yang memilih tidak memiliki anak juga dikaitkan dengan kisah Cullabodhi Jātaka.

Dalam kisah tersebut, Bodhisatta dan istrinya digambarkan sebagai pasangan yang memiliki kesepakatan untuk menjalani kehidupan tanpa keterikatan pada kehidupan indrawi. Setelah orang tua mereka meninggal, keduanya memilih meninggalkan kehidupan duniawi dan mengabdikan diri pada kehidupan pertapaan.

Kisah ini digunakan sebagai salah satu ilustrasi bahwa kehidupan berpasangan dalam literatur Buddhis tidak selalu ditempatkan semata-mata dalam konteks memiliki keturunan.

Namun, pilihan hidup tetap berkaitan dengan niat dan cara seseorang menjalankannya.

Anak dan Keluarga Tidak Dipandang sebagai Kepemilikan

Perspektif mengenai keterikatan juga dibahas melalui Dhammapada 62. Ajaran tersebut mengingatkan tentang kecenderungan manusia untuk melekat pada gagasan mengenai kepemilikan, termasuk terhadap keluarga dan harta.

Sementara itu, Sigālovāda Sutta dalam Dīgha Nikāya 31 menjelaskan hubungan timbal balik antara orang tua dan anak. Ketika seseorang memilih menjadi orang tua, terdapat tanggung jawab moral yang harus dijalankan terhadap anak.

Dengan demikian, memiliki anak bukan hanya persoalan status, tetapi juga membawa tanggung jawab dalam pengasuhan dan kehidupan keluarga.

Cinta Kasih Tidak Terbatas pada Keluarga

Nilai Mettā atau cinta kasih menjadi salah satu bagian penting dalam pembahasan tersebut.

Dalam Karaṇīya Mettā Sutta, kasih sayang seorang ibu kepada anaknya digunakan sebagai gambaran tentang kualitas cinta kasih yang seharusnya dikembangkan kepada seluruh makhluk.

Dalam konteks tersebut, pasangan yang tidak memiliki anak tetap memiliki ruang untuk mengembangkan kepedulian kepada orang lain dan lingkungan.

Cinta kasih dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk kontribusi, seperti membantu anak-anak yang membutuhkan, mendukung pendidikan, menjaga lingkungan, melindungi makhluk hidup, serta terlibat dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Menghargai Pilihan Hidup

Pembahasan childfree juga dikaitkan dengan pentingnya kerukunan dan sikap saling menghargai.

Pasangan yang memiliki anak menjalankan tanggung jawab dalam membesarkan generasi berikutnya. Sementara pasangan yang memilih tidak memiliki anak juga perlu menjalankan pilihannya secara bertanggung jawab dan tetap menghormati masyarakat di sekitarnya.

Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan pilihan tidak semestinya menjadi alasan untuk memberikan stigma atau menghakimi seseorang.

Sikap Upekkhā atau keseimbangan batin dapat menjadi salah satu prinsip untuk menghadapi perbedaan dengan lebih tenang dan bijaksana.

Apakah Childfree Bertentangan dengan Ajaran Buddha?

Materi yang ditulis Yanita Sidhipurnami menyimpulkan bahwa pilihan childfree tidak bertentangan dengan ajaran Buddha selama keputusan tersebut dijalankan dengan kesadaran, tanggung jawab moral, dan niat yang baik.

Fokus utama Dhamma bukan sekadar pada status seseorang sebagai orang tua atau bukan orang tua, tetapi pada kualitas perbuatan, kesadaran, moralitas, dan cinta kasih yang dikembangkan dalam kehidupan.

Karena itu, perbedaan pilihan hidup perlu disikapi dengan bijaksana tanpa menghilangkan penghormatan terhadap nilai keluarga maupun kebebasan bertanggung jawab setiap individu.

(Sumber: kemenag.go.id)

Catatan: Informasi ini dikutip dari situs resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, Rabu (23/9/2026).

Penulis: Yanita Sidhipurnami, S.Pd., M.Pd., Penyuluh Agama Buddha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mempawah.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap