DPR Dorong Swasembada Susu Nasional

oleh
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Abdul Kharis Almasyhari saat kunjungan kerja ke KUTT Suka Makmur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Senin (28/9/2026).(Sumber: dpr.go.id)
6.6K pembaca

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Abdul Kharis Almasyhari mendorong percepatan swasembada susu nasional melalui peningkatan produksi dalam negeri dan pengembangan sapi lokal yang mampu beradaptasi dengan kondisi iklim Indonesia.

Dorongan tersebut disampaikan saat kunjungan kerja Komisi IV DPR RI ke Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Senin (28/9/2026).

Menurut Kharis, pemenuhan kebutuhan susu dari produksi dalam negeri membutuhkan kerja sama antara pemerintah, peternak, koperasi, dan industri. Peningkatan produksi lokal juga dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap susu impor sekaligus memperkuat kesejahteraan peternak.

“Selain kita harus segera fokus memenuhi kebutuhan susu dalam negeri dengan cara produksi sendiri, tidak dipenuhi melalui impor, saya kira ini menjadi pekerjaan rumah terbesar yang harus kita selesaikan bersama,” ujar Kharis.

Sapi Grati Jadi Perhatian

Dalam kunjungan tersebut, Kharis turut menyoroti potensi sapi Grati yang dinilai mampu beradaptasi dengan kondisi panas, termasuk di wilayah dataran rendah dan pesisir.

Ia mendorong pengembangan potensi genetik sapi Grati melalui program pemuliaan agar dapat menghasilkan bibit unggul yang sesuai dengan kondisi peternakan di Indonesia.

“Sapi Grati memiliki daya tahan terhadap panas dan memiliki keunggulan genetik yang perlu diperhatikan. Potensi ini harus terus dikembangkan melalui pemuliaan hingga menjadi bibit unggul asli Indonesia yang dapat dipelihara di daerah dataran rendah dan wilayah panas,” jelasnya.

Impor Susu Tetap Diperlukan

Kharis menyatakan impor susu masih diperlukan selama produksi dalam negeri belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan nasional. Namun, volume impor diharapkan dapat terus ditekan seiring peningkatan produksi peternak lokal.

“Kalau produksi susu dalam negeri belum cukup, impor boleh dilakukan, tetapi harus dibatasi dan terus dikurangi. Semakin kecil impor, berarti produksi dalam negeri semakin meningkat,” katanya.

Untuk meningkatkan produksi, ia menilai diperlukan dukungan terhadap ketersediaan lahan, pakan, pupuk, regulasi, serta efisiensi usaha peternakan. Menurutnya, usaha sapi perah juga perlu dibuat semakin menarik bagi generasi muda.

Sementara itu, Ketua KUTT Suka Makmur Evi Zainal Abidin mengatakan pengembangan sapi perah dataran rendah di Pasuruan telah berlangsung lebih dari 100 tahun secara turun-temurun.

Menurut Evi, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa sapi perah dataran rendah memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan tropis dan telah didukung keterampilan peternak yang berkembang dari generasi ke generasi.

Evi berharap pola pengembangan peternakan sapi perah dataran rendah di Pasuruan dapat dikembangkan di wilayah lain, terutama di luar Jawa.

Ia menyebut sekitar 95 persen produksi susu nasional masih berasal dari Pulau Jawa. Sementara itu, wilayah luar Jawa memiliki potensi hijauan pakan ternak yang dapat mendukung pengembangan peternakan.

Sumber: dpr.go.id

Catatan: Informasi ini dikutip dari situs resmi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Senin (28/9/2026).

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap