Bhatara Dave Rondonuwu Layangkan Somasi Terbuka Terkait Video Antrean Pertamax di Bali

oleh
Ilustrasi Bhatara Dave Rondonuwu menunjukkan somasi terbuka terkait video potongan antrean pembelian BBM di SPBU Nusa Dua, Bali, yang menjadi sorotan publik pada Oktober 2026.
36.1K pembaca

Bhatara Dave Rondonuwu menyampaikan klarifikasi dan melayangkan somasi terbuka menyusul beredarnya video yang memperlihatkan dirinya dalam peristiwa antrean pengisian Pertamax di salah satu SPBU di kawasan Nusa Dua, Bali.

Video tersebut menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Bhatara meminta publik melihat kejadian secara utuh dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan potongan rekaman atau narasi yang beredar di media sosial.

Dalam klarifikasinya, Minggu (25/10/2026), Bhatara menjelaskan bahwa dirinya mendatangi SPBU untuk menanyakan ketersediaan Pertamax, mekanisme antrean, serta kemungkinan pengisian bahan bakar menggunakan jeriken untuk mendukung kebutuhan operasional karyawannya.

Ia mengakui sempat keluar dari barisan antrean. Bhatara juga menyadari bahwa sikap dan cara bicaranya saat kejadian dapat menimbulkan kesan kurang baik bagi orang lain.

Atas hal tersebut, ia menyatakan terbuka terhadap kritik dan menjadikan peristiwa itu sebagai bahan introspeksi. Meski demikian, ia meminta agar informasi mengenai kejadian tersebut disampaikan berdasarkan fakta dan konteks yang lengkap.

“Persoalan ini jangan dinilai hanya dari potongan video atau narasi yang tidak utuh. Saya terbuka terhadap kritik, tetapi informasi yang disampaikan kepada publik juga harus akurat dan proporsional,” demikian pernyataan Bhatara dalam klarifikasinya.

Bhatara Minta Konten Tidak Akurat Dikoreksi

Melalui somasi terbuka, Bhatara meminta pihak yang mengunggah atau menyebarkan informasi yang dinilainya tidak akurat maupun menyesatkan untuk melakukan koreksi.

Permintaan tersebut mencakup penghapusan konten yang dipersoalkan, penghentian penyebaran ulang, serta penyampaian klarifikasi atau koreksi secara proporsional.

Ia memberikan tenggat waktu 3 x 24 jam sejak somasi terbuka dipublikasikan untuk menindaklanjuti permintaan tersebut.

Bhatara menegaskan bahwa langkah itu bukan bertujuan membungkam kritik masyarakat. Menurutnya, kritik merupakan bagian dari kebebasan menyampaikan pendapat di ruang publik, tetapi penyampaian informasi juga perlu memperhatikan akurasi, konteks, dan hak pihak yang menjadi objek pemberitaan.

Apabila tidak tercapai penyelesaian dengan iktikad baik dalam tenggat yang diberikan, Bhatara menyatakan akan mempertimbangkan langkah hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Sampaikan Permohonan Maaf kepada Masyarakat

Selain memberikan klarifikasi, Bhatara menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat apabila sikapnya dalam peristiwa antrean Pertamax tersebut menimbulkan ketidaknyamanan atau polemik.

Ia berharap persoalan yang berkembang dapat diselesaikan secara bijaksana dan proporsional, tanpa memperpanjang kesalahpahaman di tengah masyarakat.

“Saya tidak bermaksud menghindari kritik. Saya hanya ingin informasi yang beredar diluruskan berdasarkan fakta dan konteks yang sebenarnya,” ujarnya.

Menurut Bhatara, klarifikasi dan somasi terbuka tersebut merupakan upaya untuk menjaga nama baik sekaligus mendorong penyelesaian persoalan secara adil dan bertanggung jawab.

Ia menyerahkan penilaian akhir kepada masyarakat dan berharap publik dapat mencermati informasi secara jernih sebelum menarik kesimpulan.

Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa informasi di media sosial dapat menyebar dengan cepat, termasuk ketika hanya berupa potongan video. Karena itu, masyarakat diharapkan memeriksa konteks dan kebenaran informasi sebelum membagikannya kembali.

Sementara itu, somasi terbuka tersebut merupakan langkah yang dinyatakan oleh Bhatara. Penilaian mengenai akurasi konten yang dipersoalkan dan tindak lanjut hukumnya perlu didasarkan pada bukti serta proses yang berlaku.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap