Andy Java: Pelestarian Budaya Butuh Regenerasi, Ruang Hidup, dan Dukungan Ekonomi

oleh
Ilustrasi Pemerhati lingkungan dan budaya Andy Java menyoroti pentingnya regenerasi, perlindungan ruang hidup, serta dukungan ekonomi untuk menjaga kelestarian budaya lokal.
4.2K pembaca

Pemerhati lingkungan dan budaya, Andy Java, menilai pengakuan terhadap kebudayaan belum cukup untuk menjamin kelestariannya. Menurutnya, budaya membutuhkan regenerasi, ruang hidup yang terjaga, serta dukungan ekonomi dan kebijakan agar tetap berkembang di tengah perubahan zaman.

Andy mengatakan, pelestarian budaya kerap berhenti pada seremoni, pemberian penghargaan, dan pernyataan resmi tentang pentingnya warisan leluhur. Padahal, pengakuan tersebut perlu diikuti langkah nyata agar tradisi tetap dijalankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Pengakuan bukanlah tujuan akhir. Ia hanyalah pintu masuk. Banyak kebudayaan kita diakui hebat, batik diakui UNESCO, wayang disebut adi luhung, tapi di lapangan kita gagal menjawab bagaimana cara membuatnya tetap hidup,” ujar Andy Java, Selasa (27/10/2026).

Menurutnya, kebudayaan tidak cukup hanya dicatat dalam buku, disimpan di museum, atau ditampilkan dalam acara seremonial. Kelestarian budaya sangat bergantung pada keberadaan orang-orang yang terus mempraktikkan dan mewariskannya.

“Budaya tidak hidup di dalam museum. Ia hidup pada manusia. Jika tidak ada anak muda yang mau belajar menenun, menganyam, menari, dan bertutur, maka pengakuan itu hanya menjadi eulogi, pidato kematian yang indah,” tegasnya.

Regenerasi Menjadi Kunci Pelestarian Budaya

Andy menjelaskan, ada tiga aspek penting yang perlu diperhatikan setelah suatu kebudayaan memperoleh pengakuan. Pertama, regenerasi melalui proses belajar dan pewarisan tradisi secara berkelanjutan.

Generasi muda perlu mendapat kesempatan untuk mempelajari keterampilan, kesenian, bahasa, dan tradisi lokal. Dengan demikian, budaya tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kedua, perlindungan terhadap ruang hidup kebudayaan. Menurut Andy, tradisi tidak dapat dipisahkan dari lingkungan, komunitas, dan wilayah tempat kebudayaan tersebut tumbuh.

“Memberi pengakuan tapi merampas ruang hidupnya sama saja dengan memuji burung karena kicauannya indah sambil membakar hutan tempat ia tinggal. Lahan adat digusur, kampung adat dijadikan objek wisata tanpa melibatkan pemiliknya, ini pembunuhan pelan-pelan,” katanya.

Ia menilai, perlindungan terhadap kampung adat dan wilayah masyarakat pendukung kebudayaan perlu menjadi bagian dari upaya pelestarian. Pengembangan pariwisata berbasis budaya juga perlu melibatkan masyarakat setempat agar mereka tidak sekadar menjadi penonton di wilayahnya sendiri.

Pelaku Budaya Membutuhkan Dukungan Ekonomi

Aspek ketiga adalah keberpihakan ekonomi dan kebijakan. Andy menilai para pelaku budaya membutuhkan penghasilan yang layak agar dapat terus menjalankan aktivitas dan mewariskan keterampilannya.

Pengrajin, seniman, dan komunitas budaya memerlukan akses pasar, harga yang adil, serta perlindungan dari persaingan produk tiruan yang merugikan. Tanpa dukungan tersebut, keberlanjutan profesi berbasis budaya dapat menghadapi tantangan.

“Seorang pengrajin tidak bisa hidup hanya dari pujian ‘karya Anda sangat budaya’. Ia butuh pasar yang adil, harga yang layak, dan kebijakan yang melindunginya dari produk industri tiruan. Tanpa itu, kita memaksa mereka memilih antara idealisme dan kelaparan,” ungkapnya.

Menurut Andy, upaya pelestarian budaya harus melibatkan berbagai pihak. Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang mendukung keberlangsungan tradisi, kalangan akademisi dapat memperkuat pendidikan budaya, sedangkan pelaku usaha diharapkan membangun kegiatan ekonomi yang menghormati nilai dan hak komunitas budaya.

Masyarakat juga memiliki peran melalui penggunaan produk lokal, apresiasi terhadap karya seniman, serta keterlibatan dalam kegiatan budaya di lingkungannya.

Andy berharap pengakuan terhadap kebudayaan menjadi awal dari langkah pelestarian yang lebih konkret. Upaya tersebut perlu diwujudkan melalui regenerasi, perlindungan ruang hidup, dan peningkatan kesejahteraan para pelaku budaya.

“Karena pada akhirnya, budaya tidak butuh dikasihani atau sekadar dipuji. Ia butuh dihidupi,” pungkas Andy Java.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap