Pemuda dan Polri, Membangun Keamanan Bersama Masyarakat

oleh
Sandri Rumanama (Founder Kontra Narasi)
3.6K pembaca

Oleh: Sandri Rumanama (Founder Kontra Narasi)

Momentum Sumpah Pemuda tidak seharusnya berhenti pada seremoni dan aksi massa setiap 28 Oktober. Peringatan ini perlu menjadi ruang refleksi untuk mengingat perjalanan sejarah, semangat perjuangan, serta peran generasi muda dalam menjawab tantangan bangsa.

Sosiolog Karl Mannheim melalui esainya, Das Problem der Generationen, menjelaskan bahwa generasi tidak hanya ditentukan oleh tahun kelahiran, tetapi juga oleh pengalaman bersama yang membentuk cara pandang dan sikap seseorang pada masa muda.

Pemikiran tersebut relevan dalam membahas hubungan antara pemuda dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Kemitraan keduanya tidak cukup diwujudkan melalui slogan, seremoni, atau pernyataan dukungan. Kolaborasi harus terlihat dalam tindakan nyata untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), memperkuat supremasi hukum, melindungi hak masyarakat, serta membangun kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.

Pemuda sebagai Mitra Strategis Polri

Semangat Polisi Bersama Masyarakat perlu diterjemahkan menjadi pola kerja yang membuka ruang partisipasi generasi muda. Pemuda bukan sekadar objek penegakan hukum, melainkan mitra strategis dalam menciptakan lingkungan yang aman, tertib, dan demokratis.

Perkembangan teknologi juga menuntut pendekatan pemolisian yang menyesuaikan karakter setiap generasi. Generasi muda saat ini tumbuh di tengah arus informasi yang cepat, media sosial, dan algoritma digital yang memengaruhi cara mereka berkomunikasi serta memahami berbagai persoalan.

Kondisi tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi Polri. Di satu sisi, teknologi dapat memperluas jangkauan edukasi hukum dan komunikasi publik. Di sisi lain, ruang digital juga dapat menjadi tempat berkembangnya penipuan daring, perjudian online, perundungan siber, penyalahgunaan narkoba, dan berbagai bentuk pelanggaran hukum lainnya.

Karena itu, pendekatan kepolisian perlu mengedepankan dialog, edukasi, pencegahan, serta keterlibatan aktif generasi muda.

Empat Bentuk Sinergi Pemuda dan Polri

1. Melibatkan Pemuda dalam Menjaga Kamtibmas

Generasi muda dapat mengambil peran dalam menjaga keamanan lingkungan melalui kegiatan sosial, edukasi hukum, dan pelaporan yang bertanggung jawab terhadap potensi gangguan keamanan.

Melalui pendekatan Pemuda Tangguh Kamtibmas Bersama Masyarakat, pemuda diharapkan memiliki kesadaran hukum, kepedulian sosial, serta kemampuan berpartisipasi dalam menjaga ketertiban di lingkungan masing-masing.

Pelibatan tersebut harus tetap menghormati hak asasi manusia, kebebasan berekspresi, dan prinsip bahwa penegakan hukum merupakan kewenangan aparat yang bertindak sesuai peraturan perundang-undangan.

2. Memperkuat Edukasi Hukum dan Literasi Digital

Sinergi Polri dan pemuda dapat dikembangkan melalui sosialisasi bahaya narkoba, pencegahan penipuan daring, edukasi mengenai perjudian online, serta peningkatan kesadaran terhadap risiko perundungan siber.

Kampus, sekolah, organisasi kepemudaan, dan komunitas digital dapat menjadi ruang kolaborasi untuk menyampaikan edukasi tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami generasi muda.

Literasi digital juga perlu diarahkan pada kemampuan memeriksa kebenaran informasi, melindungi data pribadi, memahami jejak digital, serta menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.

Dengan demikian, pemuda tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat berperan menyebarkan pengetahuan yang benar dan membantu mencegah penyebaran informasi menyesatkan.

3. Mendorong Pemolisian yang Humanis

Pendekatan youth-focused policing atau pemolisian yang berorientasi pada kebutuhan generasi muda perlu mengedepankan komunikasi yang terbuka dan menghargai hak warga.

Polisi diharapkan tidak hanya hadir ketika terjadi pelanggaran, tetapi juga menjadi pihak yang dapat diajak berdialog, memberikan pendampingan, dan membantu masyarakat memahami hukum.

Pendekatan humanis bukan berarti mengurangi ketegasan penegakan hukum. Sebaliknya, pendekatan ini menempatkan profesionalisme, proporsionalitas, transparansi, dan penghormatan terhadap hak masyarakat sebagai bagian penting dari pelaksanaan tugas kepolisian.

Kepercayaan publik dapat tumbuh ketika masyarakat merasa didengar, memperoleh penjelasan yang memadai, dan mendapatkan pelayanan yang adil.

4. Membangun Forum Dialog dan Kegiatan Bersama

Polri bersama organisasi kepemudaan (OKP), badan eksekutif mahasiswa (BEM), komunitas sosial, dan kelompok masyarakat dapat mengadakan dialog berkala, forum diskusi, pelatihan literasi hukum, hingga kegiatan bakti sosial.

Forum tersebut dapat menjadi sarana untuk menyampaikan aspirasi, membahas persoalan keamanan di lingkungan masyarakat, serta mencari solusi secara bersama-sama.

Dialog juga perlu memberikan ruang bagi kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab. Hubungan yang sehat antara kepolisian dan pemuda bukan hanya ditandai oleh dukungan, tetapi juga kemampuan membangun komunikasi terbuka ketika muncul persoalan yang membutuhkan evaluasi.

Tantangan Keamanan di Era Digital

Perkembangan dunia digital membuat tantangan keamanan semakin kompleks. Akses internet yang luas membuka kesempatan bagi generasi muda untuk belajar, berkreasi, dan berpartisipasi dalam kehidupan publik. Namun, ruang yang sama juga menyimpan risiko, mulai dari penipuan digital hingga perundungan dan perjudian online.

Data mengenai penggunaan internet oleh anak dan remaja, termasuk angka transaksi yang berkaitan dengan perjudian daring serta kasus perundungan siber, perlu menjadi perhatian bersama. Namun, setiap angka harus disertai sumber resmi, periode pengukuran, dan cakupan populasi yang jelas agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru.

Polri, lembaga pendidikan, keluarga, komunitas, dan pemerintah perlu membangun kerja sama untuk memperkuat perlindungan anak dan remaja di ruang digital. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan, pencegahan, penanganan laporan, serta penegakan hukum yang sesuai dengan ketentuan berlaku.

Pemuda juga perlu dilibatkan dalam perumusan program yang menyentuh kehidupan mereka. Dengan keterlibatan langsung, kebijakan keamanan dan edukasi hukum dapat lebih sesuai dengan kebutuhan serta tantangan yang mereka hadapi.

Sumpah Pemuda sebagai Momentum Kolaborasi

Peringatan Sumpah Pemuda seharusnya menjadi pengingat bahwa pembangunan bangsa membutuhkan partisipasi lintas generasi. Dalam konteks keamanan, hubungan antara pemuda dan Polri perlu dibangun melalui kepercayaan, komunikasi, serta tanggung jawab bersama.

Pemuda memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Sementara itu, Polri memiliki mandat untuk memelihara keamanan dan ketertiban, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Keduanya dapat saling melengkapi melalui program yang terukur dan berkelanjutan. Kolaborasi tidak cukup dinilai dari banyaknya kegiatan seremonial, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat, meningkatnya literasi hukum, terbukanya ruang dialog, serta tumbuhnya kepercayaan publik.

Pada akhirnya, semangat Polisi Bersama Masyarakat harus diwujudkan dalam praktik sehari-hari. Pemuda bukan sekadar generasi penerus, melainkan bagian dari kekuatan masyarakat yang dapat ikut menjaga keamanan, mengawasi kehidupan publik secara bertanggung jawab, dan mendorong terciptanya penegakan hukum yang profesional serta humanis.

Sumpah Pemuda akan memiliki makna yang lebih kuat ketika semangat persatuan diterjemahkan menjadi kerja nyata. Kolaborasi pemuda dan Polri menjadi salah satu jalan untuk membangun masyarakat yang aman, sadar hukum, dan saling percaya.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap