Empat Kisah Perjuangan Kesehatan, Om Piet Ingatkan Pentingnya Ikhtiar dan Pemeriksaan Medis

oleh
Ilustrasi terapi refleksi tangan dalam layanan Refleksi Tangan Om Piet. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar pendamping untuk membantu masyarakat lebih mengenal dan memperhatikan kondisi tubuh. Informasi dan pendaftaran dapat dilakukan melalui WhatsApp di nomor 0813 88 99 1010. (Dok. Refleksi Tangan Om Piet)
3.6K pembaca

Setiap orang memiliki pengalaman berbeda dalam menghadapi masalah kesehatan. Ada yang berjuang melawan penyakit autoimun, kanker kandung kemih, miom, hingga gangguan lambung yang disertai nyeri dada dan sesak napas.

Empat kisah tersebut dibagikan Pieter Dasion, yang akrab disapa Om Piet, setelah bertemu sejumlah orang di beberapa lokasi, yakni Warung Solo di Kemang, Kalibata, dan Cilandak.

Pertemuan itu tidak hanya menjadi kesempatan bagi Om Piet untuk melakukan terapi pijat telapak tangan dan sejumlah titik tubuh. Ia juga mendengarkan keluhan, kecemasan, serta harapan orang-orang yang ditemuinya.

Melalui pengalaman tersebut, Om Piet mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan, melakukan ikhtiar, dan tetap mengutamakan pemeriksaan medis.

Perjuangan Menghadapi Autoimun

Kisah pertama datang dari Sri, perempuan berusia 57 tahun yang mengaku mengalami gangguan autoimun dengan keluhan pada lambung dan perut.

Sri menceritakan bahwa dirinya kesulitan minum air putih karena sering mengalami muntah. Untuk mengatasinya, ia harus minum sedikit demi sedikit.

Ia juga menyampaikan hasil pemeriksaan ANA (Antinuclear Antibody) yang disebut mencapai angka 256. Selain itu, Sri mengeluhkan pembengkakan pada wajah.

Sri bertemu Om Piet di Warung Solo, Jakarta Selatan, pada Kamis lalu atas rekomendasi seorang teman.

Dalam pertemuan tersebut, Om Piet melakukan pijat pada telapak tangan Sri. Setelah itu, Sri mencoba minum air putih dari botol mineral.

Menurut pengakuan Sri kepada Om Piet, saat itu ia dapat minum lebih nyaman tanpa muntah dan menghabiskan hampir satu botol air mineral berukuran 600 mililiter.

Pengalaman tersebut membuat Sri merasa senang. Ia berharap kondisinya terus membaik agar dapat melakukan perjalanan ke Kanada untuk mengunjungi anaknya yang sedang kuliah di sana.

Meski demikian, perubahan keluhan setelah terapi tidak dapat dijadikan bukti bahwa penyakit autoimun telah membaik. Penilaian kondisi tetap membutuhkan pemeriksaan dan pemantauan dokter.

Pasien Kanker Kandung Kemih Menunggu Hasil Pemeriksaan

Kisah kedua berasal dari Ati, perempuan berusia sekitar 60 tahun yang mengaku telah menjalani perjuangan melawan kanker kandung kemih stadium tiga.

Pertemuan berlangsung di Kalibata dalam sebuah kegiatan yang diikuti sekitar 20 orang lanjut usia dengan berbagai keluhan kesehatan.

Ati bercerita bahwa sekitar dua minggu setelah menjalani terapi bersama Om Piet, ia mengalami perdarahan saat buang air kecil. Menurut pengakuannya, darah yang keluar cukup banyak dan kental, tetapi hanya terjadi satu kali. Setelah itu, warna urine kembali seperti biasa.

Mendengar cerita tersebut, Om Piet tidak ingin langsung menyimpulkan penyebab perdarahan. Ia menyarankan Ati menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi (USG) dari dokter.

Perdarahan dalam urine atau hematuria merupakan gejala yang perlu segera diperiksa, terlebih pada pasien dengan riwayat kanker kandung kemih. Perubahan gejala tidak bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa tumor telah pecah, mengecil, atau mengalami perbaikan.

Keluhan Miom dan Pentingnya Konsultasi Dokter

Masih di Kalibata, Om Piet bertemu seorang perempuan berusia 67 tahun yang mengeluhkan sejumlah miom berukuran kecil di rahimnya.

Perempuan tersebut mengaku mengalami kesulitan tidur dan pernah mendapat saran untuk mengonsumsi obat hormon progesteron. Hasil pemeriksaan USG kemudian menunjukkan adanya beberapa miom.

Om Piet menyarankan agar perempuan itu kembali berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan. Ia juga menyampaikan bahwa pendapat medis kedua dapat menjadi pilihan untuk memperoleh penjelasan mengenai kondisi dan alternatif penanganan.

Om Piet kemudian melanjutkan terapi pijat yang sebelumnya telah dilakukan beberapa kali.

Namun, penanganan miom perlu disesuaikan dengan kondisi pasien, ukuran dan lokasi miom, serta gejala yang dialami. Pemeriksaan dokter dan USG tetap diperlukan. Penggunaan obat hormonal juga harus mengikuti indikasi dan pengawasan tenaga medis.

Nyeri Dada dan Sesak Napas Saat Perjalanan Pulang dari Golf

Kisah keempat datang dari seorang pria lanjut usia yang akrab disapa Opung. Ia dikenal aktif dan memiliki kegemaran bermain golf.

Pada Rabu lalu, Opung berangkat dari rumahnya di Bintaro menuju kawasan Bogor untuk bermain golf. Sebelum berangkat, ia membuat kopi instan yang dicampur jahe dan gula aren, kemudian membawanya dalam tumbler.

Setelah bermain hingga sekitar pukul 14.00 WIB, Opung melakukan perjalanan pulang. Namun, di tengah perjalanan, ia mengalami sesak napas dan nyeri dada.

Sopir yang mengantarnya segera membawa Opung ke sebuah rumah sakit swasta di kawasan Bintaro.

Berdasarkan cerita yang disampaikan kepada Om Piet, pemeriksaan awal meliputi pemeriksaan lambung dan elektrokardiogram (EKG). Hasil EKG saat itu disebut normal, sedangkan keluhan yang dialami diduga berkaitan dengan gangguan lambung atau GERD.

Om Piet kemudian bertemu Opung di Cilandak pada malam harinya dan memberikan terapi pijat.

Meski demikian, nyeri dada dan sesak napas merupakan keluhan yang tidak boleh dianggap sebagai gangguan lambung semata. Hasil EKG yang normal pada satu pemeriksaan juga belum tentu menyingkirkan seluruh kemungkinan gangguan jantung.

Jika keluhan tersebut muncul kembali, pasien perlu segera mendapatkan evaluasi medis. Penanganan darurat harus diutamakan apabila nyeri dada atau sesak napas terjadi secara mendadak maupun disertai gejala lain yang mengkhawatirkan.

Om Piet Ajak Masyarakat Tetap Berikhtiar dan Mengutamakan Medis

Dari empat pengalaman tersebut, Om Piet mengajak masyarakat lebih memperhatikan kondisi tubuh, pola makan, kebiasaan minum, serta reaksi tubuh terhadap makanan dan minuman.

Ia juga mengingatkan pentingnya menggunakan obat sesuai petunjuk dokter, terutama obat hormonal yang memerlukan pengawasan medis.

Om Piet mengaku telah menekuni terapi akupresur sejak 2011. Lulusan Teknik Universitas Indonesia dan pensiunan Kompas Gramedia Group itu menyebut pendekatannya sebagai salah satu bentuk ikhtiar pendamping bagi orang-orang yang datang meminta bantuan.

Namun, pengalaman individu setelah menjalani terapi tidak otomatis membuktikan adanya hubungan sebab-akibat atau keberhasilan pengobatan. Perkembangan penyakit tetap harus dinilai melalui pemeriksaan laboratorium, USG, pencitraan, dan evaluasi tenaga medis.

Penyakit autoimun, kanker kandung kemih, miom, serta gangguan jantung dan pencernaan memiliki karakteristik dan penanganan berbeda. Karena itu, pasien perlu tetap menjalani pengobatan dan kontrol sesuai arahan dokter.

Empat kisah tersebut menjadi pengingat bahwa dukungan, kepedulian, dan perhatian dari orang-orang terdekat memiliki arti penting bagi mereka yang sedang menghadapi masalah kesehatan.

Bagi Om Piet, berbagi bukan hanya tentang memberikan bantuan, tetapi juga mendengarkan cerita dan memberikan dukungan moral kepada orang-orang yang sedang berjuang.

Kesehatan merupakan anugerah yang perlu dijaga. Ketika sakit datang, harapan dan ikhtiar perlu berjalan beriringan dengan doa serta penanganan medis yang tepat.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap