Gubernur Pramono Apresiasi 150 Biopori Jumbo di Pondok Kelapa, Siap Direplikasi se-Jakarta

oleh
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sedang memaparkan kondisi banjir di Jakarta serta langkah penanganan yang dilakukan oleh Pemprov DKI. Minggu, (8/3/2026). (Sumber: jakarta.go.id)
58.8K pembaca

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mendorong penerapan metode Biopori Jumbo yang dikembangkan warga RW 014 Kelurahan Pondok Kelapa, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, untuk direplikasi di berbagai wilayah sebagai bagian dari upaya mewujudkan target Jakarta Zero Waste.

Hal tersebut disampaikan Pramono saat meninjau langsung Gerakan Masyarakat Membuat Biopori Jumbo (GEMA MBJ) di RW 014 Pondok Kelapa, Minggu (7/6/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia didampingi Wali Kota Jakarta Timur Munjirin dan Ketua TP PKK Jakarta Timur Essie Feransie Munjirin.

Pramono menilai gerakan yang diinisiasi warga tersebut sejalan dengan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber. Ia mengapresiasi warga yang telah menerapkan pengelolaan sampah sejak sebelum regulasi tersebut diterbitkan.

“Atas nama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kami mengapresiasi inisiatif warga RW 014 yang mengelola sampah melalui metode Biopori Jumbo. Ini membuktikan bahwa solusi lingkungan dapat dimulai dari tingkat komunitas,” ujar Pramono.

Saat ini, RW 014 memiliki sekitar 150 titik Biopori Jumbo yang melayani sekitar 300 rumah tangga. Melalui sistem tersebut, sampah organik rumah tangga seperti sisa makanan dan limbah dapur diolah menjadi kompos langsung di lingkungan warga sehingga mengurangi volume sampah yang dikirim ke tempat pengolahan akhir.

Menurut Pramono, konsep tersebut berpotensi menjadi model pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dapat diterapkan di berbagai wilayah Jakarta.

“Kalau ini berjalan baik, maka bisa menjadi role model penanganan sampah di Jakarta. Pemerintah DKI serius menangani persoalan sampah sesuai arahan pemerintah pusat,” tegasnya.

Ia menambahkan, pengelolaan sampah harus dimulai dari hulu, yaitu rumah tangga. Langkah tersebut dinilai efektif untuk mengurangi beban pengangkutan sampah sekaligus menekan tekanan terhadap fasilitas pengolahan sampah di hilir.

Selain pengelolaan sampah organik, Pramono juga mengapresiasi kolaborasi warga dengan sektor swasta dalam pengelolaan sampah anorganik dan limbah bahan berbahaya serta beracun (B3).

“Saya menyambut baik kerja sama antara warga dan sektor swasta dalam pengelolaan sampah anorganik maupun sampah B3. Kolaborasi seperti ini menjadi kunci pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” katanya.

Pramono menyebut Jakarta saat ini menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah per hari. Karena itu, pengelolaan sampah dari sumber harus berjalan seiring dengan optimalisasi fasilitas pengolahan seperti TPST Bantargebang, fasilitas pengolahan di Marunda dan Sunter, serta fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan dan Bantargebang.

“Sebagian sampah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga sampah, sebagian lainnya diolah menjadi RDF dan fuel energy. Semua ini harus berjalan beriringan dengan pengelolaan sampah dari masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua RW 014 Pondok Kelapa, Teguh Husaini, mengatakan gerakan pemilahan sampah telah dijalankan warga sejak tiga tahun terakhir. Kehadiran Ingub Nomor 5 Tahun 2026 semakin memperkuat komitmen warga dalam mengelola sampah dari rumah masing-masing.

“Sebelum ada Ingub, kami sudah memilah sampah sejak tiga tahun lalu. Setelah aturan itu terbit, kami semakin serius hingga mengembangkan Biopori Jumbo,” ujarnya.

RW 014 yang terdiri dari enam RT dengan sekitar 1.500 jiwa tersebut mengelola sampah organik melalui Biopori Jumbo, sementara sampah anorganik bernilai ekonomi disalurkan melalui bank sampah yang bekerja sama dengan pengepul.

Saat ini warga telah membangun 130 titik Biopori Jumbo dari target awal 150 unit. Ke depan, jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi 200 unit untuk mengolah sampah rumah tangga maupun sampah dari ruang publik seperti taman lingkungan.

Lurah Pondok Kelapa, Rasikin, berharap program tersebut dapat menjadi contoh bagi wilayah lain, khususnya di Kecamatan Duren Sawit.

“Gerakan ini akan kami dorong agar diterapkan di wilayah lain. Mari bersama-sama mewujudkan Jakarta Timur yang bersih dan mendukung target Jakarta Zero Waste demi masa depan generasi mendatang,” tuturnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap